
Madinah,
10
Mei
2025
Data
pelayanan
kesehatan
yang
dihimpun
oleh
Klinik
Kesehatan
Haji
Indonesia
(KKHI)
Madinah
menyebutkan
reaksi
stress
akut
dan
gangguan
penyesuaian
diri
merupakan
diagnosis
penyakit
terbanyak
yang
dialami
pasien
jemaah
gelombang
1
semenjak
kedatangannya
di
awal
Mei
lalu.
Meskipun
penyakit
seperti
gangguan
jantung,
hipertensi,
dan
diabetes
menjadi
posisi
yang
teratas,
namun
kasus
stress
akut
dan
gangguan
penyesuaian
diri
para
tamu
Alloh
juga
perlu
mendapat
perhatian
serius
sebagai
permasalahan
kesehatan
yang
seringkali
ditangani
oleh
para
petugas
kesehatan
di
Daerah
Kerja
(Daker)
Madinah.
Dokter
spesialis
jiwa
di
KKHI
Madinah,
dr.
Kusufia
Mirantri,
Sp.KJ
mengungkapkan
bahwa
tekanan
fisik,
perubahan
lingkungan
drastis,
kelelahan,
serta
perpisahan
sementara
dan/atau
tanpa
pendampingan
dari
keluarga
dapat
menjadi
pemicu
stres
signifikan
bagi
jamaah.
“Banyak
jemaah,
terutama
Lansia
atau
mereka
yang
memiliki
kerentanan
sebelumnya,
mengalami
kesulitan
beradaptasi.
Stress
dan
gangguan
penyesuaian
ini
dapat
bermanifestasi
dalam
berbagai
bentuk,
mulai
dari
gangguan
tidur,
kecemasan
berlebih,
hingga
gejala
psikosomatis,”
ujarnya.
Oleh
karena
itu,
penting
bagi
sesama
jemaah
maupun
pendamping
atau
keluarga
untuk
mengenali
tanda-tanda
awal
masalah
kejiwaan
agar
dapat
segera
memberikan
dukungan
atau
mencari
bantuan
profesional.
dr.
Upi,
biasa
disapanya,
menekankan
bahwa
deteksi
dini
adalah
kunci
untuk
penanganan
yang
efektif,
sehingga
tidak
mengganggu
kekhusyukan
ibadah
jamaah.
Adapun,
untuk
mengenali
tanda-tanda
seorang
jemaah
mengalami
masalah
kejiwaan
diantaranya
dengan
pertama,
adanya
perubahan
perilaku
yang
mencolok.
“Coba
perhatikan,
jika
ada
jemaah
yang
biasanya
ceria
dan
mudah
bergaul
tiba-tiba
menjadi
mudah
tersinggung,
atau
sebaliknya,
menarik
diri
secara
ekstrem,
lebih
suka
menyendiri,
dan
enggan
berinteraksi
dengan
orang
lain,”
ujar
dr.
Upi.
Yang
kedua,
kesulitan
tidur
atau
insomnia.
Gangguan
tidur
yang
persisten,
seperti
sulit
untuk
memulai
tidur,
sering
terbangun
di
malam
hari,
atau
merasa
tidak
segar
setelah
tidur,
bisa
menjadi
pertanda
adanya
tekanan
mental.
Kurang
tidur
dapat
memperburuk
kondisi
emosional
dan
kognitif
jamaah.
Ketiga,
adanya
kecemasan
atau
ketakutan
yang
berlebihan.
Merasa
sedikit
cemas
di
lingkungan
baru
adalah
wajar.
Namun,
jika
kecemasan
tersebut
menjadi
berlebihan,
tidak
rasional,
dan
mengganggu
aktivitas
sehari-hari—misalnya,
takut
keluar
kamar,
takut
ke
masjid
meski
ditemani,
atau
panik
berlebihan
saat
berada
di
keramaian—ini
memerlukan
perhatian
serius.
Keempat,
kebingungan
terhadap
tempat,
waktu,
dan
orang
(disorientasi).
Jemaah
yang
mengalami
masalah
kejiwaan
mungkin
menunjukkan
tanda-tanda
kebingungan.
“Mereka
bisa
jadi
tidak
tahu
sedang
berada
di
mana,
lupa
hari
atau
tanggal,
bahkan
kesulitan
mengenali
teman
serombongan
atau
pendampingnya,”
jelas
dr.
Upi.
Kondisi
ini
sering
disebut
disorientasi
dan
membutuhkan
evaluasi
lebih
lanjut.
Dan,
terakhir
yaitu
terjadi
perubahan
mood
yang
cepat
dan
tidak
terduga.
Perhatikan
fluktuasi
suasana
hati
yang
ekstrem
dan
cepat.
Seorang
jemaah
mungkin
tiba-tiba
menjadi
sangat
mudah
marah
karena
hal
sepele,
atau
sebaliknya,
mendadak
menjadi
sangat
sedih,
menangis
tanpa
alasan
yang
jelas,
padahal
beberapa
saat
sebelumnya
tampak
biasa
saja.
Langkah
yang
Harus
Diambil
Jika
tanda-tanda
tersebut
teramati
pada
seorang
jamaah,
pendamping
atau
rekan
jemaah
diharapkan
tidak
mendiagnosis
sendiri.
Langkah
awal
yang
bisa
dilakukan
adalah
mendekati
jamaah
tersebut
dengan
empati,
mencoba
mendengarkan
apa
yang
dirasakan,
dan
membantu
penyesuaian
diri
jamaah,
misalnya
membantu
cara
menggunakan
kamar
mandi
atau
cara
menggunakan
lift.
“Jangan
ragu
untuk
segera
melaporkan
kondisi
tersebut
kepada
ketua
rombongan
atau
Tenaga
Kesehatan
Haji
Kloter
(TKHK)
yang
mendampingi.
Mereka
lebih
kompeten
untuk
melakukan
penilaian
awal
dan
memberikan
intervensi
yang
tepat,
termasuk
merujuk
ke
KKHI
jika
diperlukan,”
tegas
dr.
Upi.
Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut,
dapat
menghubungi
Halo
Kemenkes
melalui
hotline
1500-567,
SMS
081281562620,
atau
email
[email protected].
(DH/D2)
Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik
Aji
Muhawarman,
ST,
MKM