Jakarta
(ANTARA)

Bagi
Anda
yang
berinvestasi
di
obligasi,
penting
untuk
memahami
kapan
dana
pokok
dan
bunga
(kupon)
dapat
ditarik.

Dana
pokok
dari
obligasi
dapat
ditarik
setelah
masa
jatuh
tempo
obligasi
tercapai,
yang
tergantung
pada
tenor
obligasi.

Pada
saat
jatuh
tempo,
penerbit
obligasi
akan
mengembalikan
pokok
utang
kepada
investor.
Obligasi
memiliki
jangka
waktu
yang
bervariasi,
umumnya
obligasi
Negara
Ritel
ORI,
SBN,
dan
Sukuk
memiliki
waktu
jatuh
tempo
1-5
tahun
sehingga
cocok
untuk
investasi
jangka
pendek
dan
menengah.

Sedangkan
Obligasi
FR
(Fixed
Rate)
adalah
instrumen
investasi
jangka
menengah
dan
panjang
dengan
waktu
jatuh
tempo
berkisar
antara
5-30
tahun.
Ketika
masa
jatuh
tempo
telah
tercapai,
dana
pokok
akan
dikembalikan
kepada
investor
bersamaan
dengan
pembayaran
kupon
terakhir.

Selain
itu,
bunga
atau
kupon
dari
obligasi
dibayarkan
secara
secara
periodik
umumnya
enam
bulan
atau
satu
tahun
sekali,
sejak
tanggal
penerbitan
hingga
jatuh
tempo
dan
tergantung
dari
jenis
obligasinya.
Kupon
ini
berfungsi
sebagai
bentuk
bunga
yang
dibayarkan
kepada
pemegang
obligasi
selama
masa
berlakunya.

Namun,
jika
Anda
ingin
menjual
obligasi
sebelum
jatuh
tempo,
Anda
bisa
melakukannya
di
pasar
sekunder.
Dalam
hal
ini,
Anda
juga
bisa
mendapatkan

capital
gain

saat
menjual
obligasi
kepada
investor
umum.

Capital
gain

merupakan
keuntungan
yang
bisa
didapatkan
dari
selisih
harga
jual
dikurangi
dengan
harga
beli
suatu
obligasi.
Ketika
menjual
obligasi
sebelum
jatuh
tempo,
Anda
juga
bisa
mengalami
potensi
kerugian
jika
menjual
obligasi
ketika
harga
pasar
obligasi
turun.

Walaupun
obligasi
menawarkan
banyak
keuntungan,
bukan
berarti
investasi
ini
seratus
persen
bebas
risiko.
Berikut
adalah
beberapa
risiko
yang
perlu
diperhatikan:


1.
Risiko
gagal
bayar

Meskipun
obligasi
relatif
aman,
selalu
ada
kemungkinan
risiko
gagal
bayar.
Ini
terjadi
ketika
pihak
yang
menerbitkan
obligasi
tidak
dapat
membayar
bunga
tepat
waktu,
bahkan
mungkin
tidak
bisa
mengembalikan
pokok
utang
saat
jatuh
tempo.
Kondisi
ini
biasanya
terjadi
ketika
penerbit
obligasi
menghadapi
masalah
keuangan
yang
signifikan.


2.
Dipengaruhi
oleh
kondisi
eksternal

Investasi
obligasi,
terutama
yang
menggunakan
bunga
variabel
(floating
rate),
bisa
sangat
terpengaruh
oleh
faktor
eksternal
seperti
kondisi
ekonomi
atau
politik
suatu
negara.
Jika
situasi
ekonomi
atau
politik
tidak
stabil,
pendapatan
bunga
yang
diterima
investor
bisa
menurun,
atau
bahkan
tidak
ada
sama
sekali.
Hal
ini
tentu
dapat
mempengaruhi
potensi
keuntungan
dari
investasi
obligasi.



Baca
juga:

Bagaimana
cara
berinvestasi
di
Obligasi?
ini
penjelasannya

Baca
juga:

Mengenal
obligasi
negara,
pengertian
dan
cara
belinya

Baca
juga:

Cara
investasi
fixed
income
via
bank:
Deposito,
obligasi,
dan
lainnya

Pewarta:
Allisa
Luthfia
Editor:
Alviansyah
Pasaribu
Copyright
©
ANTARA
2024

Source