
Seorang
hakim
Guatemala
memerintahkan
jurnalis
terkemuka
José
Rubén
Zamora
kembali
ke
penjara
pada
minggu
ini
dalam
sebuah
tindakan
yang
disebut
tim
hukum
internasionalnya
sebagai “tidak
manusiawi.”
Zamora
pada
Senin
(10/3)
kembali
ke
penjara
Mariscal
Zavala
di
Guatemala
City
atas
perintah
Hakim
Erick
Garcia,
yang
keputusannya
diambil
setelah
pengadilan
lain
mencabut
tahanan
rumah
dari
pendiri
surat
kabar
elPeriódico
itu.
Jurnalis
tersebut
sedang
menunggu
persidangan
lain
dalam
kasus
pencucian
uang
yang
menurut
kelompok-kelompok
kebebasan
pers
bermotif
politik.
“Kami
sangat
prihatin
dengan
apa
yang
terjadi
dalam
kasus
José
Rubén
Zamora,
karena
apa
yang
kami
lihat
di
sini
adalah
kehancuran
total
supremasi
hukum
di
Guatemala,”
kata
Caoilfhionn
Gallagher,
yang
memimpin
tim
hukum
internasional
Zamora,
kepada
VOA.
“Dia
jelas
tidak
seharusnya
menghabiskan
satu
hari
pun
di
penjara.
Pencabutan
terbaru
atas
masa
tahanan
rumahnya
ini
bermasalah
secara
hukum,
sangat
tidak
adil
dan
tidak
manusiawi,”
tambah
Gallagher.
Zamora,
67
tahun,
menghadiri
sidang
pada
hari
Senin.
Menjelang
akhir
sidang,
ia
menyebut
putusan
itu
“sewenang-wenang.”
Selama
persidangan,
hakim
mengatakan
bahwa
ia
dan
stafnya
telah
diancam
oleh
orang-orang
yang
tidak
disebutkan
namanya,
tetapi
ia
tidak
menjelaskan
lebih
lanjut.
“Mereka
membuatnya
terpojok
tanpa
jalan
keluar,”
kata
Zamora
di
pengadilan.
Zamora
mendirikan
elPeriódico
pada
tahun
1996.
Surat
kabar
tersebut
dikenal
karena
investigasinya
terhadap
korupsi
di
berbagai
pemerintahan
di
Guatemala.
Namun
pada
tahun
2022,
pihak
berwenang
menangkap
Zamora
dan
kemudian
membekukan
aset
surat
kabar
tersebut.
Media
tersebut
terpaksa
ditutup
pada
tahun
2023.
Pengadilan
kemudian
menjatuhkan
hukuman
enam
tahun
penjara
kepada
Zamora
atas
tuduhan
pencucian
uang.
Pengadilan
banding
membatalkan
putusan
tersebut
dan
memerintahkan
persidangan
ulang
pada
tahun
2025.
Tim
hukum
Zamora
telah
menolak
semua
tuduhan
tersebut.
Kelompok
Kerja
Perserikatan
Bangsa-Bangsa
untuk
Urusan
Penahanan
Sewenang-wenang
juga
telah
menetapkan
bahwa
penahanan
Zamora
bersifat
sewenang-wenang
dan
menyerukan
pembebasannya.
Jurnalis
tersebut
menghabiskan
lebih
dari
800
hari
di
penjara
sebelum
pengadilan
pada
bulan
Oktober
memberinya
tahanan
rumah
sementara
ia
menunggu
persidangan
berikutnya.
Pengadilan
lain
pada
bulan
November
mencabut
tahanan
rumah
Zamora,
tetapi
pengacaranya
dapat
menunda
perintah
tersebut
selama
beberapa
bulan.
Artur
Romeu,
direktur
biro
Reporters
Without
Borders
untuk
Amerika
Latin,
menyebut
keputusan
untuk
memenjarakan
kembali
Zamora
sebagai “kasus
nyata
penggunaan
senjata
yudisial.”
Merespons
permintaan
komentar
VOA,
Kedutaan
Besar
Guatemala
di
Washington
mengarahkan
kepada
pernyataan
yang
dibuat
oleh
Presiden
Guatemala
Bernardo
Arevalo
pada
awal
minggu
ini.
“Ini
benar-benar
merupakan
kasus
tidak
berdasar
yang
menunjukkan
krisis
terburuk
pada
sistem
peradilan
kita
dan
menyoroti
strategi
kriminalisasi
yang
diterapkan
oleh
Kementerian
Publik,”
kata
Arevalo
pada
hari
Senin.
Kementerian
Publik
merupakan
Kementerian
Kehakiman
di
Guatemala.
Lembaga
tersebut
dipimpin
oleh
Jaksa
Agung
Maria
Consuelo
Porras,
yang
telah
dijatuhi
sanksi
oleh
Uni
Eropa
pada
2024
karena “merusak
demokrasi,”
termasuk
dengan
menarget
sejumlah
jurnalis
dan
mencoba
mencegah
Arevalo
ke
tampuk
kepresidenan.
Dalam
masa
kurungan
sebelumnya,
Zamora
berada
dalam
kondisi
yang
Gallagher
gambarkan
sebagai “tidak
manusiawi
dan
merendahkan”
dan
sebuah
pelanggaran
terhadap
standar
internasional.”
Kondisi
kesehatan
Zamora
membaik
ketika
berada
dalam
tahanan
rumah,
ucap
Gallagher,
namun
kini
tim
kuasa
hukumnya
khawatir
dengan
situasi
penjara
tempat
ia
kembali
ditahan.
[ab/uh/rs]