Sebuah
kapal
Iran
kedua
yang
disebut
oleh
laporan
berita
Barat
sebagai
bagian
dari
skema
untuk
mengimpor
bahan
pendorong
rudal
dari
China
sedang
menuju
Iran
dengan
muatan
kargo
yang
besar,
menurut
analisis
eksklusif
VOA.

Situs
web
pelacakan
kapal
menunjukkan
kapal
kargo
berbendera
Iran,
Jairan,
meninggalkan
China
pada
Senin
(10/3),
sebulan
lebih
lambat
dari
perkiraan
keberangkatan
yang
dikutip
oleh
salah
satu
laporan
berita.

Dalam
artikel
yang
terbit
pada
Januari
dan
Februari
di

The
Financial
Times,
The
Wall
Street
Journal
,
dan

CNN,

Jairan
disebut
sebagai
satu
dari
dua
kapal
kargo
Iran
yang
digunakan
Teheran
untuk
mengimpor
1.000
metrik
ton
natrium
perklorat
dari
China.
Ketiga
media
berita
tersebut
mengutip
sumber
intelijen
Barat
yang
tidak
disebutkan
namanya
yang
mengatakan
bahwa
pengiriman
yang
dimaksud
dapat
diubah
menjadi
cukup
amonium
perklorat

komponen
pendorong
bahan
bakar
padat
utama

untuk
menghasilkan
260
rudal
jarak
menengah
Iran.

Kapal
kargo
Iran
lainnya
yang
disebutkan
dalam
berita
tersebut,
Golbon,
menyelesaikan
perjalanan
selama
19
hari
dari
China
timur
ke
pelabuhan
Bandar
Abbas
di
Iran
pada
13
Februari.
Selama
perjalanan
tersebut,
kapal
tersebut
singgah
selama
dua
hari
di
pelabuhan
Zhuhai
Gaolan
di
China
selatan
dan
mengirimkan
kargo
yang
tidak
diketahui
ke
Iran,
menurut
situs
web
pelacakan
kapal
MarineTraffic.

Baik
Golbon
maupun
Jairan
dikenai
sanksi
oleh
Departemen
Keuangan
Amerika
Serikat
karena
kapal-kapal
tersebut
dioperasikan
oleh
maskapai
pelayaran
milik
negara,
Islamic
Republic
of
Iran
Shipping
Lines,
yang
juga
dikenai
sanksi
melayani
apa
yang
disebut
oleh
Departemen
Luar
Negeri
sebagai “jalur
pelayaran
pilihan
bagi
para
penyebar
dan
agen
pengadaan
Iran.”

Saat
Golbon
berlayar
dari
China
ke
Iran
pada
akhir
Januari
dan
awal
Februari,
transponder
sistem
identifikasi
otomatis
Jairan

perangkat
yang
mengirimkan
data
posisi
dan
data
lainnya
sebagai
bagian
dari
sistem
pelacakan
yang
diamanatkan
secara
internasional

melaporkan
kapal
tersebut
sedang
berlabuh
di
Pulau
Liuheng
di
China
timur.

Dalam
tinjauan
bersama
data
AIS
Jairan
di
MarineTraffic
dan
situs
web
pelacakan
kapal
Seasearcher,
VOA
dan
analis
intelijen
yang
berbasis
di
Dubai,
Martin
Kelly
dari
EOS
Risk
Group,
menetapkan
bahwa
Jairan
tidak
melaporkan
perubahan
signifikan
pada

draft

atau
kedalaman
kapal
di
bawah
garis
air
saat
berlabuh
di
Pulau
Liuheng
sepanjang
Februari
dan
hingga
awal
Maret.
Itu
berarti
kapal
Iran
itu
berada
di
kedalaman
air
yang
hampir
sama
seperti
saat
tiba
di
China
timur
akhir
tahun
lalu.
Yang
artinya,
bahwa
kapal
itu
belum
memuat
kargo
besar
apa
pun
sejak
saat
itu.

Kapal
Jairan
masih
berlabuh
di
Pulau
Liuheng
hingga
3
Maret,
saat
kapal
itu
menuju
ke
selatan
menuju
Zhuhai
Gaolan
dan
berlabuh
di
pelabuhan
pada
8
Maret.
Dua
hari
kemudian,
Jairan
berangkat,
melaporkan
tujuannya
adalah
Bandar
Abbas
dengan
perkiraan
kedatangan
pada
26
Maret.
Kapal
Iran
itu
juga
melaporkan
perubahan

draft

yang
signifikan
saat
meninggalkan
Zhuhai
Gaolan,
mengirimkan
data
yang
menunjukkan
kapal
itu
berada
lebih
dari
2
meter
lebih
dalam
di
air
dan
menunjukkan
kapal
itu
telah
mengambil
kargo
utama
di
pelabuhan,
kata
Kelly
kepada
VOA.

Hingga
Jumat
(14/3),
waktu
setempat,
Jairan
berada
di
perairan
Kepulauan
Riau,
menuju
barat
daya
menuju
Selat
Singapura.

Departemen
Luar
Negeri
Amerika
Serikat
tidak
memberikan
komentar
tentang
kepergian
Jairan
dari
China
saat
dihubungi
VOA.
Misi
Perserikatan
Bangsa-Bangsa
(PBB)
Iran
di
New
York
tidak
menanggapi
permintaan
komentar
serupa
dari
VOA,
yang
dikirim
melalui
email
pada
Selasa
(11/3).

Bulan
lalu,
Departemen
Luar
Negeri
memberi
tahu
VOA
bahwa
mereka
mengetahui
laporan
berita
pada
Januari
oleh

The
Financial
Times

dan

Wall
Street
Journal

mengenai
dugaan
penggunaan
Golbon
dan
Jairan
oleh
Iran
untuk
mengimpor
natrium
perklorat
dari
China.

Seorang
juru
bicara
mengatakan
Departemen
Luar
Negeri
tidak
mengomentari
masalah
intelijen.
Namun, “tetap
fokus
pada
pencegahan
penyebaran
barang,
peralatan,
dan
teknologi
yang
dapat
menguntungkan
program
rudal
atau
senjata
Iran
lainnya
dan
terus
meminta
pertanggungjawaban
Iran
melalui
sanksi.”

Juru
bicara
Kementerian
Luar
Negeri
China
Mao
Ning
menanggapi
laporan
berita
tersebut
dalam
jumpa
pers
pada
23
Januari.
Mao
Ning
menegaskan
bahwa
China
mematuhi
kontrol
ekspornya
sendiri
dan
kewajiban
internasional
serta
menolak
pengenaan
sanksi
sepihak
oleh
negara
lain
yang
dianggap
Beijing
sebagai
tindakan
ilegal.

Dalam
bulan
lalu,
media
pemerintah
China
tidak
menyebutkan
Jairan,
sementara
platform
media
sosial
China
juga
tidak
memperlihatkan
adanya
diskusi
yang
jelas
tentang
kapal
Iran
tersebut,
menurut
tinjauan
oleh
Layanan
Mandarin
VOA

Dalam
laporannya
pada
22
Januari,

The
Financial
Times

mengutip “pejabat
keamanan
di
dua
negara
Barat”
yang
mengatakan
bahwa
Jairan
akan
meninggalkan
China
pada
awal
Februari,
tetapi
baru
berangkat
pada
10
Maret.

Gregory
Brew,
analis
senior
Iran
di
Eurasia
Group,
konsultan
risiko
politik
yang
berpusat
di
New
York,
mengatakan
Iran
mungkin
ingin
melihat
apakah
Golbon
dapat
menyelesaikan
pelayarannya
dari
China
tanpa
dicegat
sebelum
mengirim
Jairan
untuk
mengikutinya.

“Kapal-kapal
yang
membawa
material
yang
sangat
sensitif
terkait
dengan
industri
rudal
Iran,
yang
berada
di
bawah
sanksi
AS,
berisiko
dicegat,
dan
Iran
kemungkinan
besar
menyadari
hal
itu,”
kata
Brew.

Delapan
senator
Republik
AS
yang
dipimpin
oleh
Jim
Risch
dan
Pete
Ricketts
mengirim
surat
kepada
Menteri
Luar
Negeri
Marco
Rubio
tentang
dugaan
skema
pengiriman
bahan
kimia
Iran-China
pada
4
Februari.
Mereka
mendesak
Rubio
untuk
bekerja
dengan
mitra
global
AS “untuk
mencegat
dan
menghentikan
pengiriman
yang
sedang
berlangsung”
jika
laporan
pers
terbukti
akurat.

Tidak
ada
tanda-tanda
Golbon
dicegat
dalam
pelayarannya
baru-baru
ini
dari
China
ke
Iran.

Menanggapi
pertanyaan
VOA
tentang
surat
tersebut,
seorang
petugas
pers
Departemen
Luar
Negeri
AS
mengatakan: “Kami
tidak
mengomentari
korespondensi
Kongres.”
Kantor
Ricketts
juga
tidak
menanggapi
pertanyaan
VOA
tentang
apakah
Rubio
telah
menanggapi
surat
para
senator.

[ft/rs]


Layanan
Mandarin
VOA
berkontribusi
pada
laporan
ini.

Source