
Jakarta,
21
Januari
2025
Dirjen
Kesehatan
Primer
dan
Komunitas,
dr.
Maria
Endang
Sumiwi,
mengungkapkan
bahwa
pengeluaran
belanja
keluarga
untuk
rokok
dan
tembakau
hampir
setara
dengan
pengeluaran
untuk
protein
hewani.
Hal
ini
berdasarkan
data
dari
Survei
Sosial
Ekonomi
Nasional
(Susenas)
2023.
Menurut
data
tersebut,
pada
berbagai
kuintil
pengeluaran,
persentase
belanja
untuk
rokok
dan
tembakau
cukup
signifikan.
Pada
kuintil
1
tercatat
pengeluaran
sebesar
11,54%,
kuintil
2
sebesar
13,39%,
kuintil
3
sebesar
14,17%,
kuintil
4
sebesar
14,30%,
dan
kuintil
5
sebesar
11,35%.
Di
sisi
lain,
pengeluaran
untuk
protein
hewani,
yang
mencakup
ikan,
udang,
cumi,
kerang,
daging,
telur,
dan
susu,
juga
menunjukkan
angka
yang
signifikan.
Pada
kuintil
1,
pengeluaran
untuk
protein
hewani
mencapai
14,83%,
kuintil
2
sebesar
16,27%,
kuintil
3
sebesar
17,26%,
kuintil
4
sebesar
18,41%,
dan
kuintil
5
sebesar
20,6%.
Tidak
hanya
rokok
dan
tembakau,
tantangan
di
bidang
gizi
semakin
kompleks
dan
beragam,
termasuk
masalah
gizi
kurang,
kekurangan
mikronutrien,
serta
overweight
atau
obesitas.
“Indonesia
mengalami
tiga
masalah
besar
terkait
gizi,
yaitu
gizi
kurang
(undernutrition),
kekurangan
mikronutrien,
dan
overweight
atau
obesitas.
Salah
satu
masalah
yang
signifikan
adalah
stunting
pada
balita
mencapai
21,5%,
sehingga
berpengaruh
langsung
terhadap
kualitas
sumber
daya
manusia
kita,”
ujar
dr.
Endang
pada
Konferensi
Pers
Hari
Gizi
Nasional
di
gedung
Kemenkes,
Jakarta,
Selasa
(21/1).
Masalah
gizi
kurang
pada
balita
tercatat
8,5%,
sedangkan
anemia
pada
remaja
mencapai
16,3%
dan
anemia
pada
ibu
hamil
27,7%.
Selain
itu,
overweight
pada
remaja
tercatat
12,1%,
sedangkan
obesitas
pada
orang
dewasa
juga
menjadi
perhatian
serius.
Pola
makan
masyarakat
Indonesia
saat
ini
memunculkan
kekhawatiran
tersendiri.
Konsumsi
protein
hewani
pada
balita
masih
rendah,
yakni
hanya
21,6%.
Sementara
itu,
konsumsi
minuman
manis
tinggi
mencapai
52%,
makanan
asin
32%,
makanan
instan
11%,
dan
penggunaan
penyedap
rasa
tercatat
78%.
Bahkan,
65%
masyarakat
Indonesia
cenderung
tidak
sarapan
setiap
hari.
Menurut
dr.
Endang,
data
ini
menunjukkan
bahwa
tantangan
untuk
meningkatkan
kualitas
gizi
masyarakat
Indonesia
masih
sangat
besar.
Salah
satu
upaya
penting
adalah
mengurangi
konsumsi
makanan
dan
minuman
yang
mengandung
banyak
gula,
garam,
dan
lemak
serta
meningkatkan
konsumsi
makanan
bergizi
seimbang.
“Untuk
itu,
kita
perlu
memberikan
prioritas
pada
pola
makan
yang
bergizi
seimbang,
terutama
bagi
anak-anak.
Gizi
seimbang
sangat
penting
untuk
mendukung
tumbuh
kembang
yang
optimal,
serta
meningkatkan
kualitas
hidup
masyarakat
secara
keseluruhan,”
katanya.
Menurut
dr.
Endang,
makanan
bergizi
seimbang
harus
mencakup
beragam
jenis
makanan,
termasuk
sayur
dan
buah,
serta
lauk
yang
kaya
protein.
Masyarakat
juga
perlu
mengurangi
konsumsi
makanan
manis,
asin,
dan
berlemak
secara
berlebihan,
serta
membiasakan
sarapan
dan
cukup
minum
air
putih
setiap
hari.
Staf
Ahli
Kepala
Badan
Gizi
Nasional
(BGN),
Ikeu
Tanziha,
menjelaskan
bahwa
kualitas
gizi
yang
baik
sangat
berperan
dalam
peningkatan
kualitas
sumber
daya
manusia
(SDM)
pada
masa
depan.
Presiden
Republik
Indonesia
Prabowo
Subianto
telah
membentuk
BGN,
yang
bertugas
memastikan
pemenuhan
gizi
nasional
secara
optimal.
“Fungsi
utama
Badan
Gizi
Nasional
adalah
melaksanakan
pemenuhan
gizi
di
seluruh
Indonesia.
Implementasinya
akan
dilakukan
dengan
berkolaborasi
dengan
Kementerian
Kesehatan
dan
berbagai
daerah,
serta
lembaga
dan
kementerian
terkait
lainnya,”
kata
Ikeu.
Sementara
itu,
Ketua
Umum
DPP
Persatuan
Ahli
Gizi
Indonesia
(Persagi),
Ir.
Doddy
Izwardy,
menegaskan
pentingnya
dukungan
terhadap
program
prioritas
nasional
dalam
memutus
mata
rantai
stunting.
Program
Makan
Bergizi
Gratis
(MBG)
menjadi
salah
satu
inisiatif
penting
untuk
mencapai
tujuan
tersebut.
“Upaya
untuk
memutus
mata
rantai
gagal
tumbuh
harus
terus
dilakukan,
karena
ini
sangat
berpengaruh
terhadap
tercapainya
Indonesia
Emas
2045
dan
pencapaian
SDGs
2030,”
ujar
Doddy.
Ahli
gizi
memiliki
peran
penting,
antara
lain
dalam
mengawasi
kualitas
makanan,
memastikan
keamanan
pangan,
mengembangkan
menu
makanan
bergizi,
serta
memberikan
pelatihan
kepada
petugas
pengolah
makanan.
Ahli
gizi
juga
berperan
dalam
mengawasi
proses
pengolahan
dan
penyajian
makanan
untuk
memastikan
bahwa
makanan
yang
dikonsumsi
masyarakat
benar-benar
bergizi.
dr.
Endang
menambahkan,
tahun
ini
Indonesia
memperingati
Hari
Gizi
Nasional
(HGN)
pada
25
Januari,
yang
menandai
65
tahun
sejak
pertama
kali
diperingati
pada
1960.
Dengan
tema
“Pilih
Makanan
Bergizi
untuk
Keluarga
Sehat,”
HGN
2025
menekankan
pentingnya
pola
konsumsi
makanan
bergizi
dalam
meningkatkan
kesehatan
dan
kesejahteraan
keluarga
Indonesia.
“Peringatan
Hari
Gizi
Nasional
diharapkan
menjadi
momentum
perubahan
ke
arah
yang
lebih
baik
pada
seluruh
komponen
masyarakat,
khususnya
untuk
perilaku
makan
bergizi
seimbang,”
ucapnya.
Masyarakat
diharapkan
mampu
memilih
makanan
yang
lebih
sehat
sebagai
asupan
sehari-hari.
Sebagai
contoh,
masyarakat
dapat
memilih
jus
buah
tanpa
gula
daripada
minuman
berpemanis
atau
minuman
bersoda,
serta
makanan
olahan
rumah
tangga
daripada
makanan
cepat
saji.
Saat
snack
time,
masyarakat
dapat
memilih
buah-buahan
sebagai
camilan
daripada
gorengan
atau
makanan
tinggi
gula.
Selain
itu,
sarapan
pagi
lebih
baik
daripada
melewatkan
sarapan
pagi.
Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut,
dapat
menghubungi
Halo
Kemenkes
melalui
hotline
1500-567,
SMS
081281562620,
atau
email
[email protected].
(D2)
Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik
Aji
Muhawarman,
ST,
MKM