Jakarta,
23
September
2024

Tingginya
prevalensi
penyakit
kardiovaskular
di
Indonesia
disebabkan
oleh
perubahan
gaya
hidup
yang
tidak
sehat,
seperti
merokok,
pola
makan
yang
tidak
seimbang,
hipertensi,
obesitas,
diabetes
melitus,
dan
kurangnya
aktivitas
fisik.
Perilaku
tersebut
merupakan
salah
satu
kontributor
utama
terjadinya
penyakit
jantung
koroner
(PJK).
Dilaporkan,
50%
penderita
PJK
berpotensi
mengalami
henti
jantung
mendadak
atau
sudden
cardiac
death.

Direktur
Pencegahan
dan
Pengendalian
Penyakit
Tidak
Menular
(P2PTM)
dr.
Siti
Nadia
Tarmizi
mengatakan,
data
Riskesdas
pada
2018
menunjukkan
prevalensi
penyakit
jantung
berdasarkan
diagnosis
dokter
di
Indonesia
sebesar
1,5%,
sedangkan
prevalensi
penyakit
jantung
koroner
sebesar
0,5%
pada
2013.
Berdasarkan
Global
Status
Report
on
NCD
2019
(IHME),
sebanyak
17,8
juta
kematian,
atau
1
dari
3
kematian
di
dunia
setiap
tahun,
disebabkan
oleh
penyakit
jantung.

“Kalau
dari
hasil
IHME
survei
yang
kita
lihat
bahwa
penyakit
jantung
iskemik
pada
2019
itu
menempati
urutan
nomor
satu
dan
pada
2021,
pasca-COVID-19
pun
masih
menempati
urutan
nomor
satu,
hanya
dari
jumlah
kematian
terjadi
penurunan
sedikit,
tapi
perbedaannya
tidak
terlalu
besar,”
kata
dr.
Nadia
pada
temu
media
Hari
Jantung
Sedunia
(HJS)
pada
Senin
(23/9/2024).

dr.
Nadia
melanjutkan,
secara
global,
penyakit
jantung
iskemik
tetap
menjadi
penyebab
utama
kematian.
Sementara
di
Indonesia,
penyakit
stroke
menjadi
penyebab
kematian
terbesar.
Berdasarkan
total
kematian,
terjadi
penurunan
jumlah
kematian
akibat
stroke
dari
21,8%
pada
2019
menjadi
18,49%
pada
2021,
diikuti
oleh
penyakit
jantung
iskemik.

“Jadi,
di
Indonesia
itu
sebaliknya
yang
menjadi
penyebab
utama
kematian
justru
adalah
stroke
dan
bisa
saja
penyebabnya
karena
mungkin
layanan
kesehatan
deteksinya
belum
betul-betul
merata
sehingga
tidak
terdeteksi
dan
masih
menjadi
salah
satu
isu,”
lanjut
dr.
Nadia.

Pada
2023,
terjadi
peningkatan
jumlah
pembiayaan
untuk
penyakit
katastropik
yang
mencapai
Rp34,8
triliun,
di
mana
penyakit
kardiovaskular
(jantung
dan
stroke)
menjadi
penyakit
dengan
pembiayaan
terbesar,
yakni
Rp22,8
triliun,
dalam
program
JKN.

Lebih
lanjut,
dr.
Nadia
menyebutkan
empat
perilaku
masyarakat
yang
dapat
meningkatkan
risiko
penyakit
jantung,
yaitu
merokok,
kurang
aktivitas
fisik,
minim
konsumsi
buah
dan
sayur,
serta
konsumsi
gula,
garam,
dan
lemak
secara
berlebihan.

“Bisa
dilihat
penyakit
jantung
saat
ini
mulai
banyak
pada
usia-usia
muda.
Kenapa
terjadi
pergeseran
usia
pada
penyakit
jantung?
Karena
adanya
perubahan
gaya
hidup
yang
tidak
sehat,”
kata
dia
melanjutkan.

Penyakit
jantung
merupakan
penyebab
utama
kematian
di
dunia
selama
20
tahun
terakhir.
Kematian
akibat
penyakit
jantung
secara
global
mencapai
hingga
18,6
juta
setiap
tahunnya.
Angka
kematian
tersebut
diperkirakan
akan
meningkat
menjadi
20,5
juta
pada
2020
dan
24,2
juta
pada
2030.

President
of
Indonesian
Heart
Association
dr.
Radityo
Prakoso,
yang
juga
hadir
sebagai
narasumber
dalam
temu
media
HJS,
menjelaskan
bahwa
penyakit
jantung
iskemik
berkontribusi
terhadap
persentase
kematian
tertinggi
di
antara
berbagai
penyakit
jantung.
Selain
itu,
penyakit
jantung
tidak
hanya
ditemukan
pada
usia
tua,
tetapi
juga
pada
usia
muda.

“Gaya
hidup
tidak
sehat
menjadi
penyebab
paling
umum
dari
penyakit
jantung
koroner
di
usia
muda,”
kata
dr.
Radityo.

Lebih
lanjut,
dr.
Radityo
menyebutkan
beberapa
gejala
yang
mengarah
pada
penyakit
jantung,
yaitu
rasa
tidak
nyaman
di
area
dada
(nyeri,
sesak,
tertekan,
terbakar);
mual
dan
muntah;
keringat
dingin;
pusing
atau
pingsan;
nyeri
yang
menjalar
ke
lengan,
rahang,
tenggorokan,
atau
punggung;
kaki
bengkak;
mudah
lelah;
berdebar-debar;
detak
jantung
tidak
teratur;
serta
batuk
yang
tidak
kunjung
sembuh
dengan
sputum
berwarna
pink
muda
atau
putih
berbusa.

“Kendati
demikian,
gejala
tersebut
dapat
bervariasi
antara
individu.
Segera
periksakan
diri
Anda
ke
dokter
apabila
ada
dugaan
kuat
penyakit
jantung
terutama
jika
memiliki
risiko
tinggi,”
kata
dr.
Radityo.

dr.
Radityo
melanjutkan,
80%
penyakit
jantung
dapat
dicegah
melalui
pencegahan
primer,
yaitu
promosi
kesehatan
dan
proteksi
spesifik,
seperti
berhenti
merokok,
makan
makanan
sehat,
rutin
beraktivitas
fisik,
menghindari
konsumsi
alkohol
berlebihan,
tidur
yang
cukup,
dan
menjaga
berat
badan
tetap
ideal.

Sementara
itu,
pencegahan
sekunder
dilakukan
dengan
deteksi
dini
dan
tata
laksana
awal
segera,
seperti
evaluasi
tekanan
darah,
evaluasi
kadar
kolesterol,
indeks
massa
tubuh
(IMT),
dan
kadar
gula
darah
secara
rutin
atau
berkala.

Dr.
Rita
Ramayulis,
selaku
perwakilan
dari
Persatuan
Ahli
Gizi
Indonesia
yang
juga
hadir
sebagai
narasumber,
menekankan
pentingnya
pengaturan
konsumsi
gula,
garam,
dan
lemak
(GGL).
Konsumsi
gula
sebaiknya
dibatasi
hingga
50
gram
per
hari,
garam
2.000
mg
per
hari,
dan
lemak
67
gram
per
hari.

“Kecukupan
konsumsi
gula
dalam
pembagian
bahan
makanan
sehari
menurut
gizi
seimbang
untuk
laki-laki
usia
19-29
tahun
dengan
2725
kkal,”
kata
Dr.
Rita.

Kementerian
Kesehatan
(Kemenkes)
RI
telah
merumuskan
beberapa
strategi
untuk
mencegah
dan
mengendalikan
penyakit
jantung
koroner
dengan
pendekatan
PATUH
dan
CERDIK.

PATUH:
Periksa
kesehatan
secara
rutin
dan
mengikuti
anjuran
dokter;
Atasi
penyakit
dengan
pengobatan
yang
tepat
dan
teratur;
Tetap
diet
dengan
gizi
seimbang;
Upayakan
aktivitas
fisik
dengan
aman;
Hindari
asap
rokok,
alkohol,
dan
zat
karsinogenik
lainnya.

CERDIK:
Cek
kesehatan
secara
rutin,
Enyahkan
asap
rokok,
Rajin
beraktivitas
fisik,
Diet
sehat
dengan
kalori
seimbang,
Istirahat
cukup,
Kelola
stres.

Kemenkes
RI
memperingati
Hari
Jantung
Sedunia
dengan
menggelar
temu
media
melalui
Zoom
Meeting
pada
Senin
(23/9/2024).
Temu
media
ini
mengangkat
tema
global
“Use
Heart,
For
Action”,
dan
tema
nasional
“Ayo
Bergerak
untuk
Sehatkan
Jantungmu.”

Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut
dapat
menghubungi
nomor
hotline
Halo
Kemenkes
melalui
nomor
hotline
1500-567,
SMS
081281562620
dan
alamat
email
kontak@kemkes.go.id.
(DJ)

Plt.
Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik

dr.
Siti
Nadia
Tarmizi,
M.Epid

 

 

 

 

 

Sumber Berita