
Hanoi,
Vietnam
(AFP)
—
Perdana
Menteri
Rusia
Mikhail
Mishustin
bertemu
dengan
Presiden
Vietnam
Luong
Cuong
pada
Rabu
(15/1)
dalam
upaya
untuk
meningkatkan
dukungan
dari
sekutu
lamanya.
Kunjungan
Mishutin
dilaksanakan
ketika
Moskow
kian
terisolasi
akibat
perang
di
Ukraina.
Kunjungan
dua
hari
Mishustin
ke
Hanoi
terjadi
setengah
tahun
setelah
Presiden
Vladimir
Putin
melakukan
perjalanan
ke
ibu
kota.
Saat
itu,
para
pemimpin
tertinggi
Vietnam
mengindikasikan
keinginan
untuk
meningkatkan
kerja
sama
pertahanan
dengan
Moskow,
pemasok
senjata
utama
Vietnam
selama
beberapa
dekade.
Kedua
negara
telah
menjadi
sekutu
dekat
sejak
masa
Perang
Dingin.
Dalam
pernyataan
bersama
yang
diterbitkan
Rabu,
Rusia
mengatakan
pihaknya
“siap
berpartisipasi
dalam
membangun
industri
tenaga
nuklir
nasional
di
Vietnam.”
Selain
itu,
kedua
negara
akan
bekerja
sama
untuk
melaksanakan
proyek
minyak
dan
gas
bersama.
Pada
Selasa
(14/1)
kedua
belah
pihak
menandatangani
kesepakatan
mengenai
energi
nuklir
di
antara
tujuh
bidang
yang
juga
mencakup
teknologi
digital
dan
elektronik.
Perdana
Menteri
Vietnam
Pham
Minh
Chinh
mengatakan
negaranya
akan
membangun
pembangkit
listrik
tenaga
nuklir
dalam
waktu
lima
tahun.
Selama
kunjungannya,
Mishustin
bertemu
dengan
semua
pemimpin
senior
Vietnam
termasuk
Sekretaris
Jenderal
Vietnam
To
Lam,
Presiden,
Perdana
Menteri
dan
Ketua
Majelis
Nasional.
Rusia
telah
menjadi
pemasok
senjata
utama
Vietnam
selama
beberapa
dekade,
menyumbang
lebih
dari
80
persen
impor
antara
1995
dan
2023.
Namun,
pesanan
telah
menurun
dalam
beberapa
tahun
terakhir
karena
semakin
intensifnya
sanksi
internasional
terkait
konflik
Ukraina.
[ft]