
Washington
(Reuters)
—
Presiden
Iran
Masoud
Pezeshkian
menegaskan
dalam
wawancara
dengan
NBC
News
pada
Selasa
(14/1)
bahwa
Teheran
tidak
pernah
berencana
untuk
membunuh
Donald
Trump,
Presiden
terpilih
Amerika
Serikat
dari
Partai
Republik.
Pernyataan
tersebut
membantah
klaim
sebelumnya
yang
disampaikan
Trump
dan
pemerintah
Amerika.
Departemen
Kehakiman
Amerika
Serikat
mendakwa
seorang
pria
asal
Iran
yang
diduga
terlibat
dalam
rencana
pembunuhan
Donald
Trump
atas
perintah
Korps
Garda
Revolusi
Iran.
Penegak
hukum
berhasil
menggagalkan
rencana
tersebut
sebelum
serangan
terjadi.
Trump
juga
mengklaim
tahun
lalu
saat
kampanye
pemilihan
di
Amerika
bahwa
Iran
mungkin
terlibat
dalam
upaya
pembunuhannya.
“Tidak
ada
sama
sekali,”
kata
Pezeshkian
di
NBC
News
ketika
ditanya
apakah
Iran
berencana
membunuh
Trump. “Kami
tidak
pernah
mencoba
ini
(pembunuhan
Trump-red)
sejak
awal
dan
tidak
akan
pernah
melakukannya.”
Trump,
yang
memenangi
pemilihan
presiden
Amerika
pada
November
tahun
lalu
berhasil
lolos
dari
dua
percobaan
pembunuhan
selama
kampanye.
Pertama
pada
September
saat
ia
bermain
golf
di
lapangannya
di
West
Palm
Beach,
Florida,
dan
kedua
pada
Juli
saat
ia
menggelar
kampanye
pilpres
di
Butler,
Pennsylvania.
Penyelidik
tidak
menemukan
bukti
keterlibatan
Iran
dalam
kedua
insiden
tersebut.
Iran
sebelumnya
juga
membantah
klaim
Washington
bahwa
mereka
mencampuri
urusan
Amerika,
termasuk
melalui
operasi
siber.
Teheran
justru
menuduh
Washington
telah
ikut
campur
dalam
urusan
dalam
negerinya
selama
beberapa
dekade,
merujuk
pada
berbagai
peristiwa
mulai
dari
kudeta
1953
terhadap
seorang
perdana
menteri
hingga
pembunuhan
komandan
militernya
dalam
serangan
drone
Amerika
pada
2020.
[ah/ft]