Jakarta,
26
Juli
2024

Direktur
Pencegahan
dan
Pengendalian
Penyakit
Menular
dr.
Imran
Pambudi
mengatakan,
prevalensi
hepatitis
B
di
Indonesia
menurun
dalam
10
tahun
terakhir.
Data
Riset
Kesehatan
Dasar
(Riskesdas)
menunjukkan,
prevalensi
hepatitis
B
turun
dari
7,1%
pada
2013
menjadi
2,4%
pada
2023.

“Dengan
dukungan
semua
pihak,
Indonesia
telah
berhasil
menurunkan
secara
bermakna
dalam
10
tahun
terakhir,”
kata
dr.
Imran
dalam
Temu
Media
Hari
Hepatitis
Sedunia,
Jumat
(26/7).

Selain
hepatitis
B,
hepatitis
C
juga
mengalami
penurunan.
Menurut
data
WHO
Global
Health
Observatory
2022
for
HCV,
prevalensi
hepatitis
C
turun
dari
1%
pada
2013
menjadi
0,5%
pada
2022.

Menurut
dr.
Imran,
penurunan
ini
ditopang
oleh
beberapa
upaya
strategis
pemerintah.
Pertama,
pencegahan
penularan
hepatitis
B
dari
ibu
ke
anak
melalui
pemberian
vaksin
hepatitis
B
dan
antivirus
tenofovir.

Pada
2023,
lebih
dari
2,3
juta
dari
target
4,4
juta
bayi
baru
lahir
telah
menerima
imunisasi
hepatitis
B
setelah
24
jam
kelahiran.
“Kemudian,
bagi
ibu
hamil
yang
kita
temukan
positif
kita
berikan
antivirus
tenofovir
untuk
mencegah
transmisi
virus
Hepatitis
B
dari
ibu
ke
anak,”
kata
dr.
Imran.

Pemberian
antivirus
tenofovir
telah
diinisiasi
sejak
2022
dan
secara
bertahap
dilakukan
di
seluruh
Indonesia.
Tahap
awal
pada
2023,
pemberian
antivirus
tenofovir
dilakukan
pada
22
layanan
di
10
kabupaten/kota
di
6
provinsi.

Tahap
II
pada
2023,
layanan
bertambah
menjadi
158
layanan
di
26
kabupaten/kota
dan
17
provinsi.
Kemudian
pada
2024,
sedang
dipersiapkan
penambahan
layanan
di
1.230
layanan
terdiri
dari
1.020
puskesmas
dan
210
rumah
sakit
yang
tersebar
di
188
kabupaten/kota
dan
34
provinsi.

“Tahun
ini
akan
kita
kembangkan
lagi
untuk
bisa
ke
1.410
layanan
baik
di
puskesmas
maupun
rumah
sakit,”
tuturnya.

Upaya
kedua
adalah
memperkuat
surveilans
dan
penemuan
kasus
pada
populasi
berisiko
tinggi
seperti
ibu
hamil,
tenaga
medis
(named),
dan
tenaga
kesehatan
(nakes).
Pada
2023,
sebanyak
3.358.549
ibu
hamil
diskrining
hepatitis
B,
dan
sebanyak
50.789
ibu
hamil
di
antaranya
terdeteksi
HBsAg
reaktif.

“Untuk
tenaga
kesehatan,
sebanyak
364.002
nakes
dan
named
diskrining
HBsAg.
Hasilnya,
359.677
HBsAg
non-reaktif
dan
267.574
belum
memiliki
antibodi
sehingga
layak
divaksinasi,”
terangnya.

Untuk
penyakit
hepatitis
C,
pada
2017
hingga
Juni
2024,
sebanyak
967.330
individu
berisiko
tinggi
telah
menjalani
skrining
hepatitis
C.
Berdasarkan
hasil
skrining,
42.292
orang
dinyatakan
positif
untuk
antibodi
Hepatitis
C
(anti-HCV).
Lalu,
hanya
67,4%
atau
28.504
yang
melanjutkan
ke
tahap
pemeriksaan
selanjutnya,
yaitu
pemeriksaan
viral
load
(VL)
untuk
RNA
HCV.
Dari
28.504
orang
yang
menjalani
pemeriksaan
VL
HCV
RNA,
sebanyak
16.327
orang
memerlukan
pengobatan
karena
memiliki
infeksi
hepatitis
C
aktif.

Upaya
ketiga
adalah
pengobatan.
Menurut
dr.
Imran,
pemerintah
telah
menyediakan
obat
Direct
Acting
Antiviral
(DAA)
untuk
pengobatan
hepatitis
C.
Pengobatan
ini
diyakini
memiliki
tingkat
keberhasilan
mencapai
90%.

“Untuk
pengobatan
DAA
ini,
kami
sudah
menyediakan
di
33
provinsi
dan
pada
tahun
2024
ini
ditargetkan
semua
provinsi
itu
sudah
punya
rumah
sakit
yang
bisa
memberikan
layanan
pengobatan
Hepatitis
C
dengan
DAA,”
ungkapnya.

Sejak
2017
hingga
Juni
2024,
tercatat
lebih
dari
11.689
pasien
telah
memulai
terapi
pengobatan
hepatitis
C.
Namun,
hanya
8.364
orang
yang
menyelesaikan
pengobatan,
dan
3.139
di
antaranya
dinyatakan
sembuh.
Lebih
lanjut,
dr.
Imran
menjelaskan,
meskipun
prevalensi
hepatitis
telah
menurun
secara
signifikan,
angka
kasus
di
Indonesia
masih
cukup
tinggi.
Menurut
WHO,
Indonesia
menempati
peringkat
keempat
di
kawasan
Asia
Tenggara
atau
South-East
Asia
Region
(SEARO)
untuk
kejadian
dan
kematian
akibat
penyakit
liver.

“Tercatat
baru
56
ribu
yang
didiagnosis,
artinya
sebetulnya
masih
banyak
banget
penderita
hepatitis
B
yang
tidak
terdiagnosis
karena
tidak
terskrining.
Orang-orang
inilah
yang
kemungkinan
besar
menularkan
ke
orang
lain,”
terangnya.

Dia
berharap,
peringatan
Hari
Hepatitis
Sedunia
2024
yang
mengangkat
tema
“Bersama
Lawan
Hepatitis,
Sekarang”
dapat
menjadi
momentum
untuk
bertindak
bersama
dan
mengambil
langkah
nyata
untuk
memberantas
Hepatitis
di
Indonesia.

“Upaya
penanggulangan
hepatitis
harus
terus
ditingkatkan
mengingat
tahun
2030
Indonesia
bersama
negara
lain
di
dunia
telah
berkomitmen
mencapai
eliminasi
hepatitis
C
pada
tahun
2030,”
kata
dia
berpesan.

Ketua
Pengurus
Besar
Perhimpunan
Peneliti
Hati
Indonesia
dr
Andri
Sanityos
menjelaskan,
hepatitis
adalah
peradangan
hati
yang
dapat
disebabkan
oleh
berbagai
faktor
seperti
obat-obatan,
perlemakan,
autoimun,
alkohol,
bakteri,
parasit,
dan
virus.
Virus
hepatitis
terdiri
dari
5
jenis,
yakni
hepatitis
A,
B,
C,
D
dan
E.
Kelimanya
memiliki
cara
penularan,
gejala
dan
tingkat
keparahan
dan
pencegahan
yang
berbeda.
Adapun,
hepatitis
B
dan
C
dapat
berkembang
menjadi
kronis
dan
dapat
menjadi
penyebab
imun
sirosis
hati,
dan
kanker
hati
sehingga
menyebabkan
kematian.

“Untuk
hepatitis
B,
pada
fase
kronik
sebagian
besar
tidak
bergejala.
Namun
ketika
sudah
lanjut,
baru
muncul
(gejalanya),
kalau
sudah
seperti
itu
artinya
fungsi
liver
sudah
sangat
berkurang
dan
pengobatannya
menjadi
lebih
sulit,”
kata
dr
Andri
Sanityos.

Pengobatan
hepatitis
B
dimulai
dari
fase
imun
aktif.
Namun,
bila
pasien
Hepatitis
B
dengan
inflamasi
sedang-berat
pada
hati
atau
fibrosis
signifikan
diindikasikan
untuk
terapi.
Tujuan
terapi
untuk
mencegah
progresivitas
penyakit
menjadi
sirosis
dan
kanker
hati.

Hepatitis
C
sebagian
besar
tidak
bergejala
(asimtomatik).
Dari
pemeriksaan
fisik
pada
umumnya
ditemukan
demam
subferis
dan
ikterik
(kuning).
Diagnosis
Hepatitis
C
ditegakkan
melalui
skrining
anti-HVC.
Jika
terdeteksi
positif,
dilanjutkan
pemeriksaan
HCV
RNA.

Mengenai
pengobatan,
menurutnya,
terapi
DAA
saat
ini
menjadi
pilihan
utama
dan
tingkah
kesuksesan
tinggi.

Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut
dapat
menghubungi
nomor
hotline
Halo
Kemenkes
melalui
nomor
hotline
1500-567,
SMS
081281562620
dan
alamat
email
kontak@kemkes.go.id.

Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik
dr.
Siti
Nadia
Tarmizi,
M.

Sumber Berita