MANADO KOMENTAR-Suasana tegang yang sempat menyelimuti halaman Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Selasa (5/5/2026), berhasil diredam dengan pendekatan humanis dan dialogis.
Plt. Sekretaris DPRD Sulut, Niklas Silangen, bersama sejumlah anggota dewan, turun langsung menemui massa Aliansi Mahasiswa Sulawesi Utara yang sedang melakukan aksi unjuk rasa.
Kehadiran Niklas Silangen, yang bersama Anggota DPRD Sulut Raski Mokodompit, S.H., Piere J. Makisanti, dan Hillary Julia Tuwo, M.Apt., menjadi titik balik dalam aksi tersebut.
Dalam suasana yang telah dihadiri oleh aparat, jajaran pimpinan sekretariat dan anggota dewan ini memilih untuk membuka pintu ruang aspirasi, mengajak mahasiswa duduk bersama, dan mendengarkan tuntutan mereka secara langsung.
Ditengah teriakan orasi dan spanduk-spanduk tuntutan, Niklas Silangen tampil tenang dan tegas. Ia mendekati barisan depan demonstran dan menyampaikan pesan yang mampu menurunkan emosi massa.
“Saudara-saudara mahasiswa, kami hadir di sini bukan untuk melawan, tetapi untuk mendengar. Gedung DPRD ini adalah rumah rakyat. Jika ada ketidakpuasan, mari kita sampaikan dengan kepala dingin agar bisa dicarikan solusinya. Kekerasan atau anarki tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi dialog yang jujur akan membuka jalan,” ujar Niklas Silangen dengan nada berwibawa namun menenangkan.
Sikap pendingin suasana yang ditunjukkan oleh Niklas Silangen mendapat respons positif dari koordinator lapangan aksi. Massa yang awalnya emosional perlahan mulai tertib dan bersedia mengirimkan perwakilan untuk berdialog di dalam gedung.
Usai berhasil meredam ketegangan di luar gedung, Niklas Silangen bersama Anggota DPRD Raski Mokodompit, Piere J. Makisanti, dan Hillary Julia Tuwo menerima perwakilan Aliansi Mahasiswa di ruang rapat. Dalam sesi dialog tersebut, para anggota dewan mencatat setiap poin tuntutan mahasiswa, yang mencakup isu-isu strategis seperti anggaran pendidikan, transparansi kebijakan publik, dan kesejahteraan masyarakat.
Anggota DPRD Raski Mokodompit, S.H. menegaskan bahwa DPRD berkomitmen untuk mengawal setiap aspirasi yang disampaikan melalui jalur konstitusional. “Kami apresiasi cara kalian menyampaikan pendapat. Sekarang, biarkan kami yang bekerja di parlemen untuk memperjuangkan ini melalui mekanisme legislasi dan pengawasan,” kata Raski.
Sementara itu, Piere J. Makisanti dan Hillary Julia Tuwo juga memberikan jaminan bahwa suara mahasiswa tidak akan jatuh ke telinga yang tuli. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi antara elemen pemuda dan lembaga wakil rakyat untuk mengontrol kinerja eksekutif.
Aksi unjuk rasa yang berakhir damai ini menjadi bukti efektivitas pendekatan persuasif dalam menangani dinamika sosial-politik. Kehadiran Plt. Sekwan Niklas Silangen dinilai sangat krusial dalam mencegah eskalasi konflik. Ia menunjukkan bahwa birokrasi legislatif tidak harus kaku, tetapi dapat menjadi fasilitator yang bijak dalam menampung gejolak sosial.
“Terima kasih kepada Bapak Niklas Silangen dan anggota dewan yang telah mau turun dan mendengarkan. Kami merasa dihargai sebagai mitra kontrol sosial,” ucap salah satu perwakilan mahasiswa usai dialog.
Dengan berakhirnya aksi secara kondusif, DPRD Provinsi Sulawesi Utara kembali menunjukkan komitmennya sebagai lembaga yang terbuka, responsif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Langkah cepat Niklas Silangen dan jajaran anggota dewan dalam meredam tensi menjadi contoh baik bagi penanganan aksi serupa di masa depan.
Jose
Artikel Redam Ketegangan Aksi Mahasiswa di DPRD Sulut, Sekwan Niklas Silangen Ubah Demonstrasi Jadi Dialog Demokratis pertama kali tampil pada Komentar.