MANADOPOST.ID–Angka pengangguran di Sulut terus meningkat. Bahkan peningkatan ini sudah terjadi sebelum pandemi covid-19 melanda Nyiur Melambai. Bahkan mengutip data yang disampaikan, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut pada Selasa lalu, periode Februari lalu total pengangguran menyentuh angka 68.219 orang. Angka ini mengalami peningkatan sebanyak 4.112 orang dibanding periode sebelumnya.
Kepala BPS Ateng Hartono, menyebutkan, jika di persentasikan tingkat pengangguran terbuka (TPT, red) di Sulut sebesar 5,57 persen, naik 0,20 poin dibandingkan Februari 2019.
Dia menjelaskan, penduduk yang menganggur ini yaitu mereka yang mencari pekerjaan, yang sedang mempersiapkan usaha dan masih belum melakukan usaha.
Hartono pun menekankan, TPT adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja. TPT di perkotaan tercatat lebih tinggi dibanding di perdesaan. “Bila dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, pada Februari 2020, TPT baik di perkotaan maupun di perdesaan mengalami peningkatan,” jelasnya.
Dia pun membeber, TPT tertinggi adalah penganggur berpendidikan SMK yang mencapai 12,42 persen diantara semua jenjang. “Tapi secara umum cenderung terus mengalami penurunan,” tukasnya.
Di sisi lain, Ekonom Sulut Hizkia Tasik PhD menekankan, tingginya pengangguran pasti akan mempengaruhi tingkat kemiskinan. Meskipun tak menampik, hal ini pun terjadi di beberapa daerah. Akademisi Unsrat itu pun meyakini, jika beberapa bulan kedepan angka pengangguran di Sulut akan terus bertambah, karena covid-19 menjadikan semua sektor kian lesu, lapangan pekerjaan sudah tidak tersedia lagi. Imbasnya juga sampai pada penurunan produksi.
“Kita diperhadapkan pada persoalan yang besar. Karena krisis kesehatan, pengangguran, penurunan produksi dan peningkatan kemiskinan sebagai imbas dari covid-19 muncul di saat yang bersamaan,” katanya.
Dia pun mengimbau, untuk mengatasi hal ini, pemerintah Sulut diminta melakukan beberapa hal. Antara lain, harus bisa merendam penurunan produksi. Dan fokus pada penyelematan sektor. Salah satunya sektor informal. Agar masyarakat tetapo bisa menghasilkan uang, konsumsi pun bisa tetap berjalan. “Meskipun tidak sepenuhnya normal, namun langkah antisipasi harus dilakukan untuk memberikan pengharapan yang baru bagi semua masyarakat Sulut ditengah pademi covid-19 ini,” tukasnya. (ayu)

