Jakarta
(ANTARA)

PT
Pertamina
Geothermal
Energy
Tbk
(PGE)
Area
Lahendong,
Sulawesi
Utara,
menginisiasi
program
Bapiara
Babi
Peternak
Geothermal
Lahendong
(Biapong)
yaitu
peternakan
berbasis
energi
terbarukan
dan
potensi
lokal
dalam
mendorong
pembangunan
berkelanjutan
dan
tanggung
jawab
sosial
perusahaan.

Diluncurkan
sejak
tahun
2021,
inisiatif
ini
merupakan
kolaborasi
antara
PGE
dan
Badan
Usaha
Milik
Desa
(BUMDes)
Esa
Waya
Desa
Sendangan,
Tomohon,
Sulut
yang
bertujuan
untuk
membina
dan
memberdayakan
peternak
babi
lokal
dengan
pendekatan
berbasis
energi
terbarukan
dan
teknologi
ramah
lingkungan.

General
Manager
PGE
Area
Lahendong
Novi
Purwono
mengatakan
Biapong
adalah
bukti
nyata
sinergi
antara
teknologi
energi
terbarukan,
inovasi
lokal,
dan
pemberdayaan
masyarakat.

“Kami
berharap
program
ini
tidak
hanya
menjadi
solusi
lokal,
tetapi
juga
model
replikasi
pengembangan
peternakan
berkelanjutan
di
berbagai
daerah
lainnya,”
ujar
Novi
Purwono.

Novi
mengatakan,
lokasi
peternakan
Biapong
yang
terpencil
membuat
akses
listrik
konvensional
mustahil.
Oleh
karena
itu,
lanjutnya,
PGE
membangun
pembangkit
listrik
tenaga
surya
(PLTS)
untuk
menyuplai
kebutuhan
energi
peternakan.
Energi
surya
ini
bukan
hanya
menerangi
kandang,
tetapi
juga
menggerakkan
operasional
seperti
pompa
air,
penerangan
malam
hari,
bahkan
kamera
pengawas
(CCTV)
untuk
meningkatkan
keamanan.

“Semua
itu
tanpa
polusi,
tanpa
biaya
solar,
dan
dengan
penghematan
signifikan
bagi
peternak,”
katanya.


Namun
pada
tahun
2023,
wabah
African
Swine
Fever
(ASF)
melanda
sektor
peternakan
babi
di
Sulawesi
Utara
dan
menyebabkan
penurunan
populasi
babi
secara
drastis,
dari
130.000
ekor
menjadi
hanya
sekitar
60.000–70.000
ekor.
Penurunan
ini
berdampak
pada
ketersediaan
pangan
dan
menyebabkan
naiknya
harga
pasar
hingga
tiga
kali
lipat
dan
hilangnya
mata
pencaharian
para
peternak.

“Biapong
menjadi
intervensi
sosial
strategis
PGE
untuk
menanggapi
krisis
yang
tengah
dialami
warga
Tomohon,”
kata
Novi.

Salah
satu
inovasi
kunci
yang
dikembangkan
dalam
program
Biapong
adalah
produksi
eco-atsiri
sebuah
desinfektan
alami
berbasis
eco-enzyme
hasil
dari
program
Bank
Sampah “Setor
Jo”
dan
minyak
atsiri
sereh
wangi.
Solusi
ini
digunakan
untuk
menjaga
kebersihan
kandang
dan
menekan
penyebaran
virus
tanpa
ketergantungan
pada
bahan
kimia
sintetis.
Tak
hanya
berfungsi
sebagai
langkah
preventif
terhadap
ASF,
produksi
eco-atsiri
juga
memberi
nilai
tambah
ekonomi
karena
dapat
digunakan
atau
dipasarkan
oleh
peternak.

Menurut
Novi,
program
Biapong
telah
memberikan
dampak
positif
yang
nyata
bagi
puluhan
peternak
babi
dari
kelompok
Biapong
dan
85
lansia
peternak
babi
yang
telah
mengikuti
pelatihan
pembuatan
desinfektan
eco-atsiri.

“Program
ini
tidak
hanya
menghadirkan
solusi
teknologi,
tetapi
juga
menjunjung
tinggi
nilai
kearifan
lokal
dan
menjawab
kebutuhan
nyata
masyarakat,”
ujar
Novi
menambahkan.

Selain
itu,
dari
inovasi
ini
ada
lebih
dari
1.200
peternak
babi
di
Minahasa
yang
terbantu
dan
berhasil
menghindari
paparan
virus
ASF.
Peningkatan
pendapatan
peternak
babi
pun
dirasakan
hingga
Rp60
juta
per
tahun
sebagai
hasil
dari
efisiensi
operasional
dan
keberhasilan
pengendalian
penyakit.

Berdasarkan
data
Badan
Pusat
Statistik
tahun
2024,
Sulawesi
Utara
merupakan
produsen
daging
babi
tertinggi
kedua
di
Indonesia
dengan
produksi
rata-rata
27.402
ton
per
tahun.

Source