Axel
Rudakubana,
seorang
remaja
yang
menikam
tiga
gadis
kecil
hingga
tewas
di
sebuah
kelas
dansa
bertema
Taylor
Swift
di
Inggris,
divonis
52
tahun
penjara
pada
hari
Kamis
(23/1).

Hakim
Julian
Goose
menyebut
tindakan
Axel,
yang
berusia
18
tahun,
sebagai
“kejahatan
yang
paling
ekstrem,
mengejutkan
dan
sangat
serius.”
Hakim
menambahkan
bahwa
Rudakubana
“berupaya
dan
melakukan
pembunuhan
massal
gadis-gadis
muda
yang
bahagia
dan
tidak
berdosa.”

Goose
mengatakan
ia
tidak
dapat
menjatuhkan
hukuman
seumur
hidup
tanpa
pembebasan
bersyarat
karena
sewaktu
melakukan
kejahatan
itu
Axel
berusia
di
bawah
18
tahun.
Tetapi
ia
menegaskan
bahwa
Axel
harus
menjalani
hukuman
penjara
52
tahun

dikurangi
enam
bulan
saat
ia
berada
di
tahanan
menunggu
sidang
pengadilan

sebelum
dapat
dipertimbangkan
untuk
mendapatkan
pembebasan
bersyarat.

“Tampaknya
ia
tidak
akan
pernah
dibebaskan,”
tambah
Goose.

Rudakubana
berusia
17
tahun
ketika
ia
menyerang
anak-anak
di
kota
tepi
laut,
Southport,
pada
Juli
2024
lalu.
Ia
menewaskan
Alice
Da
Silva
Aguiar,
9
tahun,
Elsie
Dot
Stancombe,
7
tahun,
dan
Bebe
King,
yang
berusia
6
tahun.

Rudakubana
juga
melukai
delapan
gadis
kecil
lainnya
yang
berusia
antara
7-13
tahun.
Juga
seorang
guru,
Leanne
Lucas;
dan
seorang
pebisnis
lokal
yang
mencoba
menghentikannya,
John
Hayes.

Serangan
itu
mengejutkan
Inggris
dan
memicu
aksi
kekerasan.
Pemerintah
mengumumkan
penyelidikan
publik
tentang
bagaimana
sistem
yang
ada
telah
gagal
menghentikan
sang
pelaku,
yang
sebenarnya
telah
beberapa
kali
dirujuk
ke
pihak
berwenang
karena
obsesinya
terhadap
kekerasan.


Mengganggu
sidang
vonis

Rudakubana
menghadapi
tiga
dakwaan
pembunuhan,
10
dakwaan
percobaan
pembunuhan
dan
dakwaan
tambahan
atas
kepemilikan
pisau,
racun
risin
dan
sebuah
buku
panduan
Al
Qaeda.

Secara
tak
terduga,
pada
hari
Senin
(20/1)
ia
mengubah
pembelaannya
menjadi
mengaku
bersalah
atas
semua
dakwaan.

Namun
ia
tidak
hadir
di
pengadilan
untuk
mendengarkan
vonis
yang
dijatuhkan
pada
hari
Kamis
karena
saat
jaksa
di
Pengadilan
Liverpool
Crown
di
barat
laut
Inggris
mulai
menguraikan
bukti-bukti,
Rudakubana
menyela
dengan
berteriak
bahwa
dia
merasa
sakit
dan
membutuhkan
paramedis.

Hakim
Julian
Goose
memerintahkan
aparat
untuk
mengeluarkan
Rudakubana
ketika
ia
terus
menerus
berteriak.
Seorang
hadirin
sempat
membalas
teriakannya
dengan
mengatakan
“pengecut!”

Petugas kepolisian berjalan di dekat tempat kejadian perkara insiden penikaman di Southport, Inggris, pada 30 Juli 2024. (Foto: Reuters/Temilade Adelaja)

Petugas
kepolisian
berjalan
di
dekat
tempat
kejadian
perkara
insiden
penikaman
di
Southport,
Inggris,
pada
30
Juli
2024.
(Foto:
Reuters/Temilade
Adelaja)

Sidang
vonis
dilanjutkan
tanpa
kehadirannya.


Horor
di
Musim
Panas

Jaksa
Deanna
Heer
menggambarkan
bagaimana
serangan
itu
terjadi
pada
hari
pertama
libur
musim
panas,
ketika
26
gadis
kecil
“berkumpul
di
ruangan
dengan
beberapa
meja,
membuat
gelang
dan
bernyanyi
lagu-lagu
Taylor
Swift.”

Dengan
bersenjatakan
pisau
besar,
Rudakubana
masuk
ke
dalam
kelas
dan
mulai
menikam
para
siswi
dan
guru
mereka.

Sidang
pengadilan
memperlihatkan
video
saat
tersangka
tiba
di
lokasi
Hart
Space
dengan
taksi,
memasuki
gedung,
dan
dalam
hitungan
detik
terdengar
teriakan-teriakan.
Anak-anak
berlarian
keluar
dengan
panik,
sebagian
di
antaranya
terluka.

Seorang
anak
perempuan
berhasil
mencapai
pintu
keluar,
namun
ditarik
kembali
ke
dalam
oleh
Rudakubana.
Dia
ditikam
sebanyak
32
kali
namun
berhasil
selamat.

Mereka
yang
hadir
di
sidang
pengadilan
itu
tidak
dapat
menahan
perasaan
yang
campur
aduk,
dan
isak
tangis
saat
video
diputar.

Heer
mengatakan
dua
dari
anak-anak
yang
tewas
“menderita
luka-luka
yang
sangat
mengerikan
yang
sulit
untuk
dijelaskan
sebagai
sesuatu
selain
sadis.”
Salah
satu
anak
perempuan
yang
tewas
mengalami
122
luka
tikaman,
sementara
yang
lainnya
menderita
85
luka
tikaman.

Raja Inggris Charles berkunjung ke Southport menyusul insiden penikaman di wilayah tersebut yang memicu kerusuhan yang menargetkan Muslim dan para migran, pada 20 Agustus 2024. (Foto: Reuters/Temilade Adelaja)

Raja
Inggris
Charles
berkunjung
ke
Southport
menyusul
insiden
penikaman
di
wilayah
tersebut
yang
memicu
kerusuhan
yang
menargetkan
Muslim
dan
para
migran,
pada
20
Agustus
2024.
(Foto:
Reuters/Temilade
Adelaja)


Obsesi
pada
kekerasan

Jaksa
penuntut
mengatakan
Rudakubana
memiliki
“obsesi
yang
sudah
berlangsung
lama
terhadap
kekerasan,
pembunuhan,
genosida.”

“Satu-satunya
tujuannya
adalah
untuk
membunuh.
Dan
dia
menargetkan
orang-orang
yang
paling
muda
dan
paling
rentan
dalam
masyarakat,”
katanya,
sementara
kerabat
para
korban
menyaksikan
jalannya
sidang.

Heer
mengatakan
ketika
dia
ke
kantor
polisi,
Rudakubana
terdengar
mengatakan:
“Untunglah
anak-anak
itu
sudah
mati,
saya
sangat
senang,
saya
sangat
bahagia.”

Pembunuhan
itu
memicu
kekerasan
anti-imigran
selama
berhari-hari
di
seluruh
Inggris
setelah
para
aktivis
sayap
kanan
memanfaatkan
laporan
yang
tidak
benar
bahwa
penyerang
adalah
pencari
suaka
yang
baru
saja
tiba
di
Inggris.
Beberapa
orang
mengatakan
kejahatan
itu
merupakan
serangan
jihad,
dan
menuduh
polisi
dan
pemerintah
menyembunyikan
informasi.

Rudakubana
lahir
di
Cardiff,
Wales.
Orang
tuanya
berasal
Rwanda.
Para
penyelidik
belum
dapat
menentukan
motif
serangan
yang
dilakukannya.
Namun
polisi
menemukan
dokumen-dokumen
tentang
berbagai
hal
termasuk
Nazi
Jerman,
genosida
Rwanda,
dan
bom
mobil
di
piranti
miliknya.

Pada
tahun-tahun
sebelum
serangan
itu,
dia
telah
dilaporkan
ke
berbagai
pihak
berwenang
atas
minat
dan
tindakan
kekerasannya.
Semua
lembaga
itu
gagal
melihat
bahaya
yang
ditimbulkannya.

Pada
tahun
2019,
Rudakubana
menelepon
saluran
nasihat
anak-anak
untuk
bertanya
“Apa
yang
harus
saya
lakukan
jika
saya
ingin
membunuh
seseorang?”
Ia
mengatakan
telah
membawa
pisau
ke
sekolah
karena
ingin
membunuh
seseorang
yang
merundungnya.
Dua
bulan
kemudian,
dia
menyerang
sesama
siswa
dengan
tongkat
hoki
dan
dihukum
karena
melakukan
penyerangan
tersebut.


Definisi
terorisme

Jaksa
penuntut
mengatakan
Rudakubana
telah
tiga
kali
dirujuk
ke
program
anti-ekstremisme
pemerintah,
“Prevent,”
saat
ia
berusia
13
dan
14
tahun.
Ia
durujuk
pertama
kali
karena
kedapatan
meneliti
tentang
penembakan
di
sekolah,
kemudian
karena
mengunggah
foto-foto
pemimpin
Libya,
Moammar
Gadhafi,
di
Instagram,
dan
karena
melakukan
penelitian
tentang
serangan
teror
di
London.

Namun
mereka
menyimpulkan
bahwa
kejahatannya
tidak
dapat
digolongkan
sebagai
terorisme
karena
Rudakubana
tidak
memiliki
tujuan
politik
atau
agama
yang
jelas.

Heer
mengatakan
“tujuannya
adalah
melakukan
pembunuhan
massal,
bukan
untuk
tujuan
tertentu,
tetapi
sebagai
tujuan
itu
sendiri.”

Perdana
Menteri
Keir
Starmer
minggu
ini
mengatakan
bahwa
Inggris
harus
menghadapi
“ancaman
baru”
dari
individu-individu
kejam
yang
memiliki
motivasi
tertentu
dan
menguji
definisi
tradisional
terorisme.

“Setelah
salah
satu
momen
paling
mengerikan
dalam
sejarah
negara
kita,
kita
berhutang
pada
para
gadis
muda
tak
berdosa
ini
dan
semua
yang
terkena
dampaknya
untuk
memberikan
perubahan
yang
layak
mereka
dapatkan,”
kata
Starmer
setelah
hukuman
dijatuhkan.

[em/lt]

Source