Rakyat
Ukraina
berkumpul
di
jalan-jalan
di
ibu
kota
Ukraina,
Kyiv,
untuk
menunjukkan
dukungan
kepada
Presiden
Volodymyr
Zelenskyy,
Jumat
(28/2),
setelah
terlibat
perdebatan
sengit
dengan
Presiden
Amerika
Serikat
Donald
Trump
di
Gedung
Putih.

Zelenskyy
secara
terbuka
menantang
Trump
atas
pendekatannya
terhadap
Presiden
Rusia
Vladimir
Putin
dalam
pertemuan
tersebut
dan
mendesaknya
untuk “tidak
berkompromi
dengan
seorang
pembunuh.”

Trump
menuduh
Zelenskyy
sedang
mempertaruhkan
pecahnya
Perang
Dunia
Ketiga
dan
tidak
berterima
kasih
kepada
Washington
atas
bantuan
militer
yang
diberikan
kepada
Ukraina.

“Trump
akhirnya
mengerti
bahwa
Zelenskyy
adalah
seorang
presiden
yang
tidak
akan
menyerah
begitu
saja,”
kata
Mila,
seorang
manajer
sumber
daya
manusia
(SDM)
yang
tidak
menyebutkan
nama
belakangnya.
Dia
berbicara
pada
suatu
malam
yang
dingin
di
pusat
kota
Kyiv.

“Bukan
Ukraina
yang
berjudi
dengan
Perang
Dunia
Ketiga

lebih
mungkin
kami
dimanfaatkan
sebagai
alat
tawar-menawar
dalam
permainan
ini,”
kata
Oksana,
seorang
konsultan
bisnis.

Di
media
sosial,
para
pejabat
Ukraina
dan
tokoh
terkemuka
lainnya
juga
mendukung
Zelenskyy.
Mereka
menyerukan
persatuan
di
negara
yang
kelelahan
karena
pertempuran
yang
melelahkan
selama
tiga
tahun.

“Presiden
Zelenskyy
memiliki
keberanian
dan
kekuatan
untuk
membela
apa
yang
benar,”
tulis
Menteri
Luar
Negeri
Ukraina
Andrii
Sybiha,
yang
berada
di
pertemuan
dengan
Trump,
di
media
sosial.

Sementara
sebagian
besar
warga
Kyiv
yang
diwawancarai

Reuters

mengatakan
Ukraina
akan
dapat
terus
maju
apa
pun
yang
akan
terjadi,
sejumlah
warga
lainnya
khawatir
dengan
putusnya
hubungan
antara
kedua
pemimpin.

“Tanpa
pasokan
senjata
dari
Amerika
Serikat,
kita
tidak
akan
memenangkan
perang
ini
dan
saya
tidak
tahu
apa
yang
akan
terjadi,”
kata
Andriy,
seorang
dosen
universitas
berusia
59
tahun.

Pertemuan
di
Washington
dimaksudkan
untuk
meredakan
hubungan
pribadi
yang
tidak
harmonis
antara
Trump
dan
Zelenskyy.
Kedua
pemimpin
itu
sedianya
akan
menandatangani
perjanjian
yang
akan
membagi
keuntungan
dari
cadangan
bahan
baku
penting
Ukraina
dengan
Amerika
Serikat.

Namun,
pertemuan
dengan
cepat
berubah
menjadi
adu
mulut
sengit
di
depan
kamera
karena
Trump
tampaknya
membuat
Zelenskyy
kesal
dengan
menolak
mengutuk
Rusia,
yang
melancarkan
invasi
besar-besaran
ke
Ukraina
tiga
tahun
lalu
dan
menduduki
sebagian
wilayahnya
sejak
2014.

“Perjanjian
dan
partisipasi
Amerika
Serikat
dalam
transaksi
mineral
akan
menstabilkan
hubungan.
Sekarang
sangat
menakutkan,”
kata
Petro,
seorang
mahasiswa
berusia
20
tahun.

“Saya
pikir
itu
bisa
didekati
dengan
cara
yang
lebih
diplomatis,
tetapi
dari
sudut
pandang
individu
saya
dapat
memahami
Zelenskyy
karena
nada
dialog
dengan
Trump
dan
Vance
mengindikasikan
bahwa
itu
akan
berakhir
seperti
ini,”
ujar
Petro.

[ft]

Source