Jakarta
(ANTARA)

Gereja
Katolik
Roma
memasuki
babak
sejarah
baru
dengan
terpilihnya
Kardinal
Robert
Francis
Prevost
sebagai
Paus
Leo
XIV.
Ia
menjadi
Paus
pertama
yang
berasal
dari
Amerika
Serikat
dan
juga
dari
Ordo
Augustinian
sejak
abad
ke-15,
menandai
momen
penting
dalam
sejarah
kepausan
modern.

Pemilihan
Paus
Leo
XIV
berlangsung
dalam
Konklaf
yang
diadakan
pada
7-8
Mei
2025,
menyusul
wafatnya
Paus
Fransiskus
pada
21
April
2025
di
usia
88
tahun.
Proses
ini
diikuti
oleh
para
kardinal
dari
berbagai
negara
yang
berkumpul
di
Vatikan
untuk
menentukan
pemimpin
baru
Gereja
Katolik.



Baca
juga:

Paus
baru
terpilih
pada
konklaf
hari
kedua


Proses
konklaf
dan
pemilihan

Konklaf
2025
dihadiri
oleh
133
dari
135
kardinal
yang
memenuhi
syarat
sebagai
pemilih.
Setelah
melalui
empat
putaran
pemungutan
suara
selama
dua
hari,
pada
8
Mei
pukul
18:07
waktu
setempat,
asap
putih
akhirnya
mengepul
dari
cerobong
Kapel
Sistina,
menandakan
terpilihnya
Paus
baru
dan
mengakhiri
masa
sede
vacante.

Tidak
lama
setelah
itu,
Kardinal
Protodiakon
Dominique
Mamberti
muncul
di
balkon
Basilika
Santo
Petrus
dan
mengumumkan “Habemus
Papam”
kepada
umat
yang
berkumpul
di
Lapangan
Santo
Petrus.
Ia
memperkenalkan
Paus
Leo
XIV
sebagai
pemimpin
baru
Gereja
Khatolik,
disambut
sorak
sukacita
dari
ribuan
umat
yang
hadir.


Profil
Robert
Francis
Prevost
(Paus
Leo
XIV)

Robert
Francis
Prevost
lahir
pada
14
September
1955
di
Chicago,
Illinois,
dari
keluarga
berdarah
Prancis,
Italia,
dan
Spanyol.
Ia
bergabung
dengan
Ordo
Santo
Agustinus
pada
1977
dan
ditahbiskan
sebagai
imam
lima
tahun
kemudian,
pada
1982,
menandai
awal
pelayanannya
dalam
kehidupan
religius
dan
pastoral.

Pendidikan
teologinya
mencakup
gelar
Master
of
Divinity
dari
Catholic
Theological
Union
di
Chicago,
serta
Lisensiat
dan
Doktor
Hukum
Kanonik
dari
Universitas
Kepausan
Santo
Tomas
Aquinas
di
Roma.
Latar
belakang
akademis
yang
kuat
ini
menjadi
fondasi
penting
dalam
perjalanannya
menuju
kepemimpinan
tertinggi
dalam
Gereja
Katolik.



Baca
juga:

Robert
Prevost,
dari
misionaris
di
Peru
jadi
Paus
Leo
XIV

Prevost
memiliki
pengalaman
misionaris
yang
luas
di
Peru
sejak
1985,
termasuk
sebagai
pastor
paroki,
pengajar
seminari,
dan
administrator
keuskupan.
Ia
juga
menjabat
sebagai
Prior
Jenderal
Ordo
Agustinus
dari
2001
hingga
2013,
menunjukkan
kemampuannya
dalam
memimpin
dan
mengelola
Ordo
tersebut
di
tingkat
global.

Pada
2015,
Robert
diangkat
sebagai
Uskup
Chiclayo,
sebuah
posisi
yang
semakin
mengukuhkan
peranannya
dalam
Gereja.
Kemudian,
pada
2023,
Paus
Fransiskus
menunjuknya
sebagai
Prefek
Dikasteri
untuk
Para
Uskup
dan
Presiden
Komisi
Kepausan
untuk
Amerika
Latin,
mempertegas
pengaruhnya
dalam
struktur
kepemimpinan
Gereja
Katolik
dunia.


Makna
nama “Leo
XIV

Dengan
memilih
nama
Leo
XIV,
Paus
baru
mengikuti
jejak
13
Paus
sebelumnya
yang
menggunakan
nama
tersebut,
termasuk
Leo
XIII
yang
dikenal
karena
modernisasi
pandangan
Gereja
terhadap
isu-isu
sosial
pada
akhir
abad
ke-19.
Nama
ini
memiliki
warisan
panjang
dalam
sejarah
Gereja
dan
sarat
makna
historis.

Pilihan
nama
tersebut
mencerminkan
komitmen
Paus
baru
terhadap
nilai-nilai
tradisional
Gereja
sekaligus
menunjukkan
keterbukaan
terhadap
perubahan
zaman.
Ini
menandakan
upaya
untuk
menjembatani
warisan
masa
lalu
dengan
tantangan
dan
harapan
umat
Katolik
di
era
modern.



Baca
juga:

Trump,
Putin
ucapkan
selamat
kepada
Paus
Leo
XIV


Arah
kepemimpinan

Dalam
pidato
pertamanya
sebagai
Paus,
Leo
XIV
menekankan
pentingnya
persatuan,
perdamaian,
dan
perhatian
terhadap
mereka
yang
menderita.
Ia
dipandang
sebagai
tokoh
moderat
yang
mampu
menjembatani
perbedaan
ideologis
dalam
Gereja,
serta
melanjutkan
warisan
reformasi
pastoral
yang
telah
dirintis
oleh
Paus
Fransiskus.

Pengalamannya
yang
luas
di
Amerika
Latin
menjadikannya
akrab
dengan
dinamika
Gereja
di
wilayah
berkembang,
sementara
kemampuannya
berbahasa
Inggris,
Spanyol,
Italia,
Prancis,
dan
Portugis
memperkuat
posisinya
sebagai
pemimpin
global
yang
inklusif
dan
komunikatif
di
tengah
keragaman
umat
Katolik
di
seluruh
dunia.

Dengan
latar
belakang
yang
kaya
dan
pengalaman
internasional
yang
luas,
Paus
Leo
XIV
dipandang
sebagai
sosok
yang
mampu
membawa
angin
segar
dalam
kepemimpinan
Gereja
Khatolik.
Kehadirannya
membuka
lembaran
baru
bagi
umat
yang
mendambakan
arah
yang
jelas
dan
penuh
harapan
di
tengah
dunia
yang
terus
berubah.

Dirinya
membawa
harapan
baru
bagi
Gereja
untuk
menghadapi
tantangan
zaman
dengan
semangat
pembaruan
yang
tidak
meninggalkan
akar
tradisi,
serta
memperkuat
persatuan
di
antara
umat
yang
semakin
beragam.
Kepemimpinannya
diharapkan
menjadi
jembatan
antara
nilai-nilai
lama
dan
kebutuhan
akan
transformasi.



Baca
juga:

Paus
ke-267
Gereja
Katolik
terpilih
pada
pemungutan
suara
keempat



Baca
juga:

Kardinal
Robert
Prevost
terpilih
sebagai
Paus
pertama
dari
AS

Pewarta:
M.
Hilal
Eka
Saputra
Harahap
Editor:
Suryanto
Copyright
©
ANTARA
2025

Source