
Sudan
—
Militer
Sudan
hari
Minggu
(23/2)
mengatakan
mereka
telah
merebut
kembali
kota
el-Gitaina,
tepat
di
sebelah
selatan
ibu
kota,
dari
Pasukan
Dukungan
Cepat
(RSF).
Mereka
juga
telah
mematahkan
pengepungan
kelompok
paramiliter
itu
terhadap
kota
strategis
el-Obeid
di
bagian
barat.
Pekan
lalu,
para
aktivis
mengatakan
serangan
tiga
hari
RSF
telah
menewaskan
lebih
dari
200
orang
di
dekat
Gitaina,
di
negara
bagian
White
Nile,
yang
menjadi
medan
pertempuran
utama
ketika
militer
merebut
kembali
teritori
di
bagian
tengah
Sudan.
Perang
yang
berkobar
dari
perebutan
kekuasaan
antara
RSF
dan
militer
pada
April
2023
itu
telah
menewaskan
puluhan
ribu
orang,
membuat
12
juta
orang
mengungsi
dan
menyebarkan
penyakit
serta
kelaparan
akut.
Kemajuan
yang
dicapai
militer
pada
hari
Minggu
itu
terjadi
beberapa
jam
setelah
RSF
menandatangani
sebuah
piagam
politik
untuk
mendirikan
pemerintahan
sempalan
bersama
dengan
para
pemimpin
kelompok
bersenjata
dan
politik
yang
bersekutu
dengannya,
terutama
dari
wilayah-wilayah
Barat.
Negara
tetangga,
Mesir,
yang
mendukung
Angkatan
Bersenjata
Sudan
dalam
perang
ini,
menolak
langkah
RSF
menandatangani
piagam
politik
dengan
sekutu-sekutunya.
“Kami
menolak
seruan
apa
pun
bagi
pembentukan
kerangka
kerja
yang
paralel
dengan
kerangka
kerja
sekarang
ini
di
Sudan
dan
mengukuhkan
dukungan
penuh
kami
untuk
Sudan,”
kata
Menteri
Luar
Negeri
Badr
Abdelatty
dalam
konferensi
pers
dengan
sejawatnya,
Menteri
Luar
Negeri
Sudan
Ali
Youssef.
Ia
menambahkan
bahwa
integritas
teritorial
Sudan
menjadi
perhatian
utama
Mesir.
Berbagai
upaya
pada
pembicaraan
perdamaian
dalam
konflik
itu
telah
macet
dan
kedua
pihak
terus
meminta
para
pendukung
asing
mereka
untuk
mendapatkan
senjata,
kata
berbagai
organisasi
HAM
dan
pengamat
internasional.
[uh/ab]