Pembicaraan
untuk
menemukan
jalan
politik
ke
depan
telah
dimulai
di
Prancis,
menyusul
hasil
pemilu
pada
Minggu,
yang
menempatkan
koalisi
kiri
sebagai
pemenang.
Hasil
pemilu
membuat
Prancis
tidak
memiliki
mayoritas
politik
yang
jelas
atau
jalan
untuk
pembentukan
pemerintahan,
hanya
tiga
pekan
sebelum
Olimpiade.

Ini
bukan
hasil
pemilu
yang
diperkirakan
kebanyakan
rakyat
Prancis.
Bukannya
kemenangan
sayap
kanan,
justru
koalisi
kiri
New
Popular
Front
yang
meraup
kursi
paling
banyak
di
Majelis
Nasional,
dan
menjadi
kemunduran
bagi
partai
National
Rally,
sayap
kanan
yang
anti
imigran.

Setelah
perolehan
suaranya
melonjak
di
putaran
pertama,
National
Rally
hanya
berada
di
posisi
ketiga
dalam
putaran
kedua.
Partai
ini
berada
di
bawah
koalisi
sentris
pimpinan
Presiden
Emmanuel
Macron,
yang
memperoleh
hasil
lebih
baik
dari
perkiraan,
meskipun
kehilangan
hampir
100
kursi
dan
mayoritas
relatif
di
Majelis
Rendah.

Gabriel Attal, Perdana Menteri Prancis dan kandidat kelompok mayoritas presiden Prancis "Ensemble pour la Republique", menyampaikan pidato di Hotel Matignon di Paris di Paris, Prancis, 7 Juli 2024. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Gabriel
Attal,
Perdana
Menteri
Prancis
dan
kandidat
kelompok
mayoritas
presiden
Prancis “Ensemble
pour
la
Republique”,
menyampaikan
pidato
di
Hotel
Matignon
di
Paris
di
Paris,
Prancis,
7
Juli
2024.
(REUTERS/Guglielmo
Mangiapane)

Perdana
Menteri
Gabriel
Attal
masih
memegang
posisinya
saat
ini,
sementara
presiden
mempertimbangkan
langkah
ke
depan.

Banyak
yang
memuji
perolehan
suara
sayap
kiri,
untuk
apa
yang
disebut
sebagai
“Front
Republikan”
oleh
partai-partai
arus
utama,
untuk
menjauhkan
sayap
kanan
dari
kemenangan.

Gesine
Weber,
analis
di
German
Marshall
Fund
mengungkapkan
pandangannya,
ketika
dihubungi
VOA
melalui
Skype.

“Saya
pikir,
skenario
yang
paling
memungkinkan
saat
ini
adalah
blok
sayap
kiri,
New
Popular
Front
dan
Ensemble,
yaitu
partai-partai
yang
mendukung
Macron,
membentuk
semacam
kesepakatan
koalisi
atau
setidaknya
semacam
perjanjian
kerja
sama.”

Setelah
lebih
cenderung
ke
tengah
kanan,
presiden
Prancis
dan
aliansinya
mungkin
sekarang
harus
lebih
cenderung
ke
kiri.
Macron
mungkin
harus
membentuk
pemerintahan
dengan
lawan
politik,
sesuatu
yang
tidak
pernah
dia
lakukan
selama
tujuh
tahun
berkuasa.

Weber
mengatakan,
Macron
nampaknya
akan
tetap
mengendalikan
kebijakan
luar
negeri,
yang
mendukung
Ukraina,
Uni
Eropa,
dan
aliansi
transatlantik.

Anggota parlemen Prancis yang baru terpilih kembali dari partai sayap kiri La France Insoumise (LFI) Manuel Bompard (tengah) bersiap menyampaikan berpidato di depan media di markas besar partai sayap kiri La France Insoumise (LFI) di Paris pada 8 Juli 2024. (Alain JOCARD / AFP)

Anggota
parlemen
Prancis
yang
baru
terpilih
kembali
dari
partai
sayap
kiri
La
France
Insoumise
(LFI)
Manuel
Bompard
(tengah)
bersiap
menyampaikan
berpidato
di
depan
media
di
markas
besar
partai
sayap
kiri
La
France
Insoumise
(LFI)
di
Paris
pada
8
Juli
2024.
(Alain
JOCARD
/
AFP)

Namun,
sebuah
aliansi
yang
mungkin
dibentuk
dengan
sayap
kiri
bisa
menghentikan
atau
membalikkan
agenda
domestik
Macron,
termasuk
reformasi
pensiun
yang
kontroversial
dan
sejumlah
reformasi
lain.

Keterbelahan
politik
Prancis
tergambar
di
Neuilly-Plaisance,
di
pinggiran
ibu
kota
Paris,
yang
pemilu
pada
Minggu
mempertemukan
kandidat
sayap
kiri
melawan
sayap
kanan.

Louise
Ragu
adalah
seorang
pemilih
di
kawasan
ini.
“Saya
memilih
sayap
kiri.
Mereka
memiliki
nilai-nilai
yang
saya
percayai,”
kata
dia.

Begitu
juga
dengan
Yanina
Kerkini,
anak
dari
seorang
imigran
Aljazair,
dia
mengkhawatirkan
daya
tarik
dari
sayap
kanan.

“Orang-orang
mengatakan
lebih
banyak
tentang
apa
yang
benar-benar
mereka
yakini.
Kami
melihatnya
setiap
hari.
Mereka
melupakan
sejarah.
Itu
membuat
saya
sedih,”
kata
dia.

National
Rally
kecewa
dengan
hasil
pemilu
kali
ini,
tetapi
mereka
masih
tetap
memenangkan
puluhan
kursi
legislatif
baru,
dan
tetap
menjadi
kekuatan
utama
menjelang
pemilu
presiden
Prancis,
tiga
tahun
lagi.

Sebelumnya
pada
Minggu,
tangisan
kegembiraan
dan
airmata
kelegaan
pecah
di
seluruh
Paris,
ketika
hasil
awal
putaran
kedua
pemilu
legislatif
Prancis
diumumkan.
Koalisi
kiri
New
Popular
Front
muncul
sebagai
kekuatan
dominan
di
Majelis
Nasional,
setelah
memenangkan
lebih
dari
180
kursi.

“Malam
ini,
Prancis
mengatakan
“tidak”
terhadap
kehadiran
National
Rally
ke
kekuasaan.
Disini,
melalui
Anda
semua,
saya
ingin
berterimakasih
kepada
jutaan
rakyat
Prancis
yang
mengizinkan
kita
malam
mini
menghela
nafas
lega.
Pemilu
ini
adalah
yang
pertama
dan
terutama
kemenangan
dari
New
Popular
Front
yang
mampu
menyatukan
kelompok
sayap
kiri,
mewujudkan
harapan,
mendesakkan
sebuah
front
republican
melawan
bahaya
dari
sayap
kanan,”
kata
Olivier
Faure,
pemimpin
dari
partai
Sosialis
Prancis.

Koalisi
National
Rally
pimpinan
Le
Pen
memenangkan
143
kursi,
sebuah
kekecewaan
besar
setelah
kemenangan
pada
putaran
pertama
30
Juni
dengan
margin
yang
jelas.

“Rawa
yang
saya
peringatkan
sebelumnya
telah
menjadi
kenyataan.
Prancis
akan
sepenuhnya
terblokir
oleh
tiga
kelompok
yang
kurang
lebih
memiliki
pengaruh
yang
sama
di
Majelis
Nasional.
Nah,
kita
akan
menuju
ke
sana.
Ini
menyedihkan.
Kita
kehilangan
satu
tahun
lagi,
satu
tahun
lagi
imigrasi
yang
tidak
diatur,
satu
tahun
lagi
kehilangan
daya
beli,
satu
lagi
lonjakan
ketidakamanan
di
negara
kita.
Tetapi
jika
kita
memang
harus
melewatinya,
kita
akan
melewati
itu,”
ujar
LePen.

Sementara
aliansi
tengah
pimpinan
presiden
Emmanuel
Macron
berada
di
posisi
kedua
setelah
memenangkan
lebih
dari
160
kursi.

[ns/ab]

Source