Hizbullah
tengah
mempersiapkan
perang
panjang
di
Lebanon
selatan
setelah
Israel
membunuh
pimpinan
tertingginya,
Sayyed
Hassan
Nasrallah.
Kelompok
militan
tersebut
kini
membentuk
komando
militer
baru
yang
bertugas
memimpin
serangan
roket
dan
pertempuran
darat,
menurut
dua
sumber
yang
mengetahui
operasinya.

Kondisi
Hizbullah
semakin
lemah
setelah
Israel
terus
melakukan
serangan
selama
tiga
minggu
tanpa
jeda,
ditambah
dengan
tewasnya
Nasrallah
dalam
salah
satu
serangan
tersebut.
Baik
sekutu
maupun
musuh
kini
memperhatikan
bagaimana
kelompok
ini
mampu
melawan
pasukan
Israel
yang
berhasil
merangsek
ke
Lebanon
untuk
mengusirnya
dari
perbatasan.

Kelompok
yang
didukung
Iran
itu
mengklaim
masih
memiliki
persediaan
senjata
yang
cukup
banyak,
termasuk
rudal
presisi
terkuatnya
yang
belum
digunakan,
kata
empat
sumber
yang
mengetahui
operasinya.
Padahal
Israel
mengatakan
persenjataan
Hizbullah
cukup
terkuras
dalam
menghadapi
gelombang
serangan
udaranya.

Komando
Hizbullah
terhambat
selama
beberapa
hari
pertama
setelah
pembunuhan
Nasrallah
pada
27
September.
Dan
pada
akhirnya
militan
Syiah
tersebut
mendirikan “ruang
operasi”
baru
72
jam
kemudian,
kata
dua
sumber
yang
merupakan
seorang
komandan
lapangan
Hizbullah
dan
seorang
sumber
yang
dekat
dengan
kelompok
itu
kepada

Reuters
.

Potret pemimpin Hizbullah yang terbunuh, Hassan Nasrallah, terlihat di antara puing-puing di lingkungan Rouweiss, pinggiran selatan Beirut, pada 10 Oktober 2024. (Foto: AFP)

Potret
pemimpin
Hizbullah
yang
terbunuh,
Hassan
Nasrallah,
terlihat
di
antara
puing-puing
di
lingkungan
Rouweiss,
pinggiran
selatan
Beirut,
pada
10
Oktober
2024.
(Foto:
AFP)

Nasrallah
terbunuh,
bersama
dengan
para
pemimpin
Hizbullah
lainnya
dan
seorang
komandan
Iran,
ketika
Israel
menemukan
dan
mengebom
bunkernya
yang
dalam
di
bawah
Beirut.

Pusat
komando
baru
itu
tetap
beroperasi
meski
menghadapi
serangan
Israel
berikutnya,
memungkinkan
para
kombatan
di
selatan
menembakkan
roket
dan
bertempur
sesuai
perintah
yang
dikeluarkan
dari
pusat.
Sumber-sumber
yang
enggan
disebut
namanya
berpendapat
bahwa
hal
tersebut
menunjukkan
bahwa
komando
tetap
berjalan.

Sumber
ketiga,
seorang
pejabat
senior
yang
dekat
dengan
Hizbullah,
mengatakan
kelompok
itu
sekarang
melancarkan
perang
gesekan.

Avraham
Levine,
seorang
analis
di
lembaga
kajian
Israel
Alma,
mengatakan
bahwa
Hizbullah
seharusnya “siap
dan
menunggu”
pasukan
Israel
dan
bahwa
mereka
bukanlah
target
yang
mudah.

“Fakta
bahwa
rantai
komando
telah
rusak
tidak
menghilangkan
kemampuan
untuk
menembaki
komunitas
Israel
atau
mencoba
menyerang”
pasukan
Israel,
kata
Levine
kepada

Reuters
.
Ia
menggambarkan
Hizbullah
sebagai “pasukan
teror
yang
sama
kuatnya
seperti
yang
kita
semua
tahu.”

Pasukan
Hizbullah
memiliki
fleksibilitas
dalam
melaksanakan
perintah
yang
disesuaikan
dengan
kemampuan
di
garis
depan,
kata
seorang
komandan
lapangan
Hizbullah.
Ia
menjelaskan
bahwa
komando
baru
ini
merupakan “lingkaran
sempit”
yang
terhubung
langsung
dengan
medan
pertempuran.

Ia
mengatakan
komando
baru
tersebut
beroperasi
secara
rahasia.
Ia
tidak
memberikan
informasi
lebih
lanjut
tentang
komunikasi
atau
strukturnya.
Hizbullah
belum
menunjuk
pemimpin
pengganti
Nasrallah,
mengingat
calon
kuat
penggantinya
kemungkinan
besar
juga
tewas.
Wakil
pemimpin
kelompok
Syiah
itu,
Sheik
Naim
Qassem,
mengatakan
minggu
ini
bahwa
ia
mendukung
upaya
gencatan
senjata,
tetapi
memastikan
kemampuan
kelompok
tersebut
masih
solid.

Sumber
lain
yang
mengetahui
operasi
Hizbullah
menyatakan
bahwa
jaringan
telepon
khusus
kelompok
ini
sangat “penting”
untuk
komunikasi
saat
ini.
Mereka
juga
mengatakan
bahwa
jaringan
tersebut
berhasil
bertahan
dari
serangan
yang
menargetkan
komunikasi
Hizbullah
pada
September.

Petugas tanggap darurat sedang bekerja di lokasi serangan Israel di Ain Deleb, Lebanon selatan, pada 30 September 2024. Serangan ini terjadi di tengah konflik yang terus berlanjut antara Hizbullah dan pasukan Israel. (Photo: Aziz Taher/REUTERS)

Petugas
tanggap
darurat
sedang
bekerja
di
lokasi
serangan
Israel
di
Ain
Deleb,
Lebanon
selatan,
pada
30
September
2024.
Serangan
ini
terjadi
di
tengah
konflik
yang
terus
berlanjut
antara
Hizbullah
dan
pasukan
Israel.
(Photo:
Aziz
Taher/REUTERS)

Israel
mengumumkan
pada
1
Oktober
bahwa
pasukan
darat
berhasil
memasuki
Lebanon
selatan,
yang
diawali
engan
unit
komando,
diikuti
oleh
unit
lapis
baja
reguler
dan
unit
infanteri.
Tentara
cadangan
dari
Divisi
ke-146
kini
berada
di
darat,
kata
militer
pada
Selasa,
sehingga
jumlah
divisi
di
wilayah
Lebanon
kini
menjadi
empat.

Israel
belum
mengatakan
berapa
banyak
tentara
yang
berada
di
darat,
tetapi
satu
divisi
Israel
biasanya
terdiri
dari
lebih
dari
1.000
orang.

Hizbullah
memiliki
jaringan
terowongan
yang
luas
di
Lebanon
selatan,
kata
kelompok
tersebut
dan
Israel.
Terowongan
tersebut
bertambah
setelah
perang
Hizbullah-
Israel
pada
2006,
menurut
laporan
2021
oleh
lembaga
kajiam
Alma.
Israel
memperkirakan
terowongan
panjangnya
bisa
mencapai
ratusan
kilometer.

Orang-orang memeriksa lokasi serangan udara Israel, di tengah permusuhan yang sedang berlangsung antara Hizbullah dan pasukan Israel, di Beirut, Lebanon, 11 Oktober 2024. (Foto: Louisa Gouliamaki/REUTERS)

Orang-orang
memeriksa
lokasi
serangan
udara
Israel,
di
tengah
permusuhan
yang
sedang
berlangsung
antara
Hizbullah
dan
pasukan
Israel,
di
Beirut,
Lebanon,
11
Oktober
2024.
(Foto:
Louisa
Gouliamaki/REUTERS)

Komandan
lapangan
Hizbullah
menyatakan
bahwa
terowongan
itu “adalah
fondasi
pertempuran.”
Ia
menambahkan
bahwa
Hizbullah
telah
bekerja
keras
selama
bertahun-tahun
untuk
membangunnya. “Waktunya
telah
tiba,”
ujarnya.

Andreas
Krieg,
dosen
senior
di
School
of
Security
Studies
di
King’s
College
London,
mengatakan
bahwa
meskipun
kemampuan
Hizbullah
telah
menurun,
mereka
masih
mampu
meluncurkan
roket
dengan
intensitas
tinggi
ke
Israel.
Dia
juga
menyebutkan
bahwa
rudal
balistik
tetap
menjadi
senjata
pilihan
terakhir
bagi
kelompok
tersebut.

Hizbullah
mengatakan
telah
meningkatkan
intensitas
serangan
dalam
beberapa
hari
terakhir.

Sebelum
konflik
terakhir,
World
Factbook
dari
Badan
Intelijen
Pusat
Amerika
Serikat
mengatakan
Hizbullah
memiliki
lebih
dari
150.000
rudal
dan
roket.

Kedua
sumber
tersebut
menyatakan
bahwa
Hizbullah
memutuskan
tidak
menggunakan
roket-roket
terkuatnya,
termasuk
rudal
berpemandu
presisi,
sebagai
cadangan
untuk
menghadapi
perang
yang
panjang.
Hizbullah
memutuskan
hal
itu
menghindari
serangan
Israel
yang
membabi
buta
dan
menyasar
infrastruktur
Lebanon,
seperti
bandara
Beirut,
jalan
raya,
dan
jembatan.

Sumber
ketiga
mengatakan
Hizbullah
tidak
menargetkan
kota-kota
Israel,
seperti
Tel
Aviv,
dengan
senjata
terkuatnya
karena
tindakan
seperti
itu
akan
memberi
Israel
alasan
untuk
menyerang
Lebanon
lebih
berat
lagi.

Tidak
diragukan
lagi
serangan
Israel
cukup
memberi
pukulan
bagi
Hizbullah.
Pada
September,
ribuan
perangkat
komunikasi
yang
dipasangi
bom
yang
digunakan
oleh
anggota
Hizbullah
diledakkan,
sebuah
serangan
yang
tidak
dikonfirmasi
atau
disangkal
Israel.

[ah/ft]

Source