
Kendari,
7
Desember
2024
Menteri
Kesehatan
(Menkes)
Budi
Gunadi
Sadikin
melakukan
kunjungan
ke
Rumah
Sakit
Jantung
Pembuluh
Darah
&
Otak
(RSJPDO)
Oputa
Yi
Koo
di
Kendari,
Sulawesi
Tenggara,
pada
Sabtu
(7/12).
Dalam
kunjungan
tersebut,
Menkes
mengunjungi
pasien
bedah
jantung
terbuka
pertama
yang
dilakukan
di
Provinsi
Sulawesi
Tenggara
oleh
tim
dokter
RSJPDO
Oputa
Yi
Koo,
dengan
pendampingan
tim
RSJPD
Harapan
Kita
sebagai
Pusat
Jantung
Nasional.
Dalam
kunjungannya,
Menkes
menekankan
pentingnya
penanganan
cepat
untuk
penyakit
jantung
dan
stroke.
Untuk
itu,
kemampuan
rumah
sakit
pada
setiap
provinsi
untuk
menangani
pasien
jantung
harus
terus
ditingkatkan.
“Jantung
sama
stroke
itu
ada
syaratnya
kalau
kena
serangan,
itu
harus
cepat
ditangani.
Kalau
terlambat
makin
rendah
kesempatan
untuk
selamat.
Itu
sebabnya
kalau
kena
serangan
harus
cepat
ditangani.
Enggak
mungkin
harus
dikirim
ke
Jakarta
kalau
kena
serangan
jantung
sama
stroke.
Harus
ditangani
secepat
mungkin
di
rumah
sakit
yang
sedekat
mungkin
dengan
yang
bersangkutan,”
ujar
Menkes
Budi.
Penyakit
jantung
merupakan
salah
satu
penyakit
katastropik
atau
penyakit
yang
mengancam
jiwa,
membutuhkan
perawatan
medis
dalam
jangka
waktu
panjang,
dan
membutuhkan
biaya
pengobatan
yang
besar.
Menurut
data
Survei
Kesehatan
Indonesia
(SKI)
2023,
prevalensi
jantung
mencapai
angka
8,5
dari
1.000
penduduk.
Di
Indonesia,
saat
ini
ada
23
provinsi
yang
mampu
melakukan
bedah
jantung
terbuka.
RSJPD
Oputa
Yi
Koo
di
Sulawesi
Tenggara
menjadi
rumah
sakit
ke
24
yang
melakukan
layanan
bedah
jantung
terbuka,
dengan
tindakan
operasi
perdana
pada
Jumat
(6/12)
untuk
diagnosis
penyumbatan
tiga
arteri
utama,
dan
operasi
kedua
pada
Sabtu
(7/12)
untuk
diagnosis
penyakit
jantung
koroner.
“Provinsi
ke
23
itu
Sorong
untuk
bedah
jantung
terbuka.
Kendari
ini
provinsi
ke
24
untuk
bisa
operasi
by
pass.
Selamat
untuk
teman-teman
di
sini
karena
itu
operasi
yang
susah,”
kata
Menkes
Budi.
RSJPD
Oputa
Yi
Koo
merupakan
rumah
sakit
utama
pelayanan
jantung
di
Provinsi
Sulawesi
Tenggara.
RSJPD
Oputa
Yi
Koo
ditargetkan
mampu
memberikan
layananan
bedah
pintas
arteri
koroner
atau
by
pass
jantung.
Produktivitas
rata-rata
Dokter
RSJPD
Harapan
Kita
melakukan
operasi
bedah
terbuka
adalah
7,13
tindakan
per
dokter
setiap
bulan.
Sementara
itu,
produktivitas
rata-rata
dari
dokter
seluruh
rumah
sakit
vertikal
dalam
melakukan
bedah
jantung
terbuka
adalah
2,2
tindakan
per
dokter
setiap
bulan.
Selain
itu,
tindakan
bedah
jantung
vaskuler
memerlukan
waktu
tunggu
hingga
tiga
bulan
untuk
ditangani
di
RSJPD
Harapan
Kita.
Perbedaan
kapasitas
dan
waktu
tunggu
yang
cukup
lama
ini
menjadi
perhatian
Menkes
Budi.
Untuk
itu,
Menkes
Budi
mengupayakan
pemerataan
layanan
rujukan
penyakit
jantung
di
seluruh
wilayah
Indonesia
melalui
pengembangan
jejaring
rumah
sakit
rujukan
jantung
di
seluruh
Indonesia.
“By
pass
itu
harus
bisa
dilakukan
di
provinsi.
Harapan
saya,
nanti
semua
kabupaten
dan
kota
sudah
bisa
pasang
ring
untuk
jantung,
dan
semua
provinsi
sudah
bisa
by
pass,
jadi
rakyat
itu
nggak
usah
susah-susah.
Nggak
usah
tunggu
lama
dan
kemungkinan
hidupnya
juga
lebih
tinggi,”
ujar
Menkes
Budi.
Melalui
program
pengenbangan
jejaring
rumah
sakit
rujukan
jantung
ini,
rumah
sakit
di
setiap
provinsi
akan
ditingkatkan
kapasitasnya
dalam
memberikan
program
layanan
jantung,
dengan
RSJPD
Nasional
Harapan
Kita
sebagai
pengampu
pelayanan
jantung
di
berbagai
rumah
sakit
di
Indonesia.
Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut
dapat
menghubungi
nomor
hotline
Halo
Kemenkes
melalui
nomor
hotline
1500-567,
SMS
081281562620
dan
alamat
email
kontak@kemkes.go.id.
(RR)
Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik
Aji
Muhawarman,
ST,
MKM