Jakarta,
1
Mei
2025

Pemerintah
Indonesia
kembali
menunjukkan
komitmennya
dalam
meningkatkan
pelayanan
haji,
dengan
dilepasnya
kloter
pertama
jemaah
haji
Indonesia
Embarkasi
Jakarta
(JKG
01)
dari
Asrama
Haji
Pondok
Gede
oleh
Menteri
Agama
didampingi
Menteri
Kesehatan,
Menteri
Perhubungan,
dan
perwakilan
DPR
RI.
Kloter
pertama
ini
terdiri
dari
389
jemaah
asal
DKI
Jakarta,
didampingi
oleh
empat
petugas
haji,
yaitu
satu
dokter,
satu
perawat,
satu
ketua
kloter,
dan
satu
pembimbing
ibadah.

Menteri
Kesehatan
Budi
Gunadi
Sadikin
menyampaikan
bahwa
jumlah
kematian
jemaah
haji
Indonesia
pada
tahun
2024
mengalami
penurunan
signifikan
dibandingkan
tahun
sebelumnya.
Dari
773
jemaah
yang
wafat
pada
2023,
jumlah
tersebut
turun
menjadi
461
orang
pada
2024.

“2023
adalah
puncak
dari
jumlah
kematian
jemaah
Indonesia,
yaitu
sekitar
773
orang.
Waktu
itu
saya
sempat
diajak
bicara
oleh
Menteri
Haji
Arab
Saudi,
yang
juga
mantan
Menteri
Kesehatan
Saudi,
beliau
menghimbau
agar
kesehatan
jemaah
Indonesia
ditingkatkan
karena
tingginya
angka
kematian
bisa
berdampak
negatif
pada
penetapan
syarat
haji
dan
premi
asuransi
di
tahun
berikutnya,”
ujar
Menkes
Budi.

Menurutnya,
penurunan
angka
kematian
tersebut
merupakan
hasil
dari
berbagai
langkah
perbaikan
yang
dilakukan
bersama
Kementerian
Agama,
terutama
dalam
proses
pemeriksaan
kesehatan
yang
kini
dilakukan
lebih
awal
dan
pendampingan
yang
lebih
menyeluruh.
Ia
menekankan
bahwa
salah
satu
penyebab
utama
kematian
adalah
pneumonia
dan
serangan
jantung
yang
terlambat
ditangani.
Karena
itu,
pemerintah
meminta
alokasi
khusus
di
Masjidil
Haram
yang
kini
telah
dilengkapi
dengan
alat-alat
modern
dan
petugas
yang
bisa
berbahasa
Indonesia.

Tahun
ini,
pemerintah
terus
memperkuat
sistem
layanan
kesehatan
haji.
Salah
satu
langkah
strategisnya
adalah
optimalisasi
peran
rumah
sakit
di
Arab
Saudi
yang
kini
lebih
mudah
diakses
oleh
jemaah.
Dengan
kemudahan
ini,
jemaah
dapat
memperoleh
penanganan
medis
secara
lebih
cepat
dan
efisien,

Pemerintah
Saudi
juga
telah
memberikan
daftar
organisasi
dan
perusahaan
yang
bertugas
melayani
kesehatan
jemaah
dari
berbagai
negara,
termasuk
Indonesia.
Kemenkes
telah
memilih
satu
grup
layanan
kesehatan
yang
siap
menjadi
mitra
dalam
penanganan
darurat.

“Pemerintah
Saudi
sekarang
sudah
sadar
bahwa
banyak
yang
wafat
karena
proses
rujukannya
lama.
Dengan
sistem
optimalisasi
peran
rumah
sakit
di
Arab
Saudi,
kita
harapkan
pelayanan
semakin
cepat
dan
kematian
jemaah
bisa
ditekan,”
tutup
Menkes

Kementerian
Kesehatan
sendiri
telah
menyiapkan
1.766
tenaga
kesehatan,
menyusun
panduan
klinis
untuk
kondisi
gawat
darurat,
serta
menyediakan
fasilitas
seperti
Klinik
Kesehatan
Haji
Indonesia
(KKHI),
pos
kesehatan
di
bandara,
sektor
kesehatan
di
Makkah
dan
Madinah,
hingga
armada
ambulans.
Tak
hanya
itu,
distribusi
vaksin
meningitis
dan
polio,
serta
paket
obat-obatan
dan
perbekalan
kesehatan,
telah
dilakukan
secara
menyeluruh.

Pemeriksaan
kesehatan
jemaah
juga
diperketat,
mencakup
aspek
kognitif,
kesehatan
mental,
dan
kemampuan
aktivitas
harian
(ADL),
terutama
bagi
jemaah
lanjut
usia
dengan
penyakit
penyerta.
Upaya
ini
merupakan
bagian
dari
strategi
menyeluruh
pemerintah
untuk
menjamin
keselamatan
dan
kenyamanan
jemaah
haji
Indonesia.

Menteri
Agama
Prof.
Nasaruddin
Umar
turut
memastikan
bahwa
seluruh
fasilitas
dan
layanan
di
Madinah
telah
siap
untuk
menyambut
kedatangan
kloter
satu
gelombang
pertama.

Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut,
dapat
menghubungi
Halo
Kemenkes
melalui
hotline
1500-567,
SMS
081281562620,
atau
email

[email protected]
.
(DJ/SK)

Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik

Aji
Muhawarman,
ST,
MKM

Sumber Berita