Jakarta,
29
Oktober
2024

Stigma
seputar
masalah
kesehatan
jiwa
masih
sulit
dihilangkan.
Beberapa
stigma,
seperti
depresi,
gangguan
kecemasan,
dan
stres,
sering
kali
dikaitkan
dengan
rendahnya
keimanan
seseorang.
Bahkan,
pekerja
yang
berupaya
mencari
layanan
kesehatan
jiwa
tak
jarang
dipandang
“sudah
tidak
mampu
lagi
bekerja.”

Menurut
Organisasi
Kesehatan
Dunia
(WHO),
dampak
stigma
dan
diskriminasi
yang
dialami
orang-orang
dengan
gangguan
kesehatan
jiwa
dapat
memperparah
kondisi
mereka.
Stigma
dan
diskriminasi
ini
dapat
menghambat
proses
pemulihan
serta
menimbulkan
keengganan
untuk
mencari
bantuan
atau
perawatan.

Direktur
Kesehatan
Jiwa
Kementerian
Kesehatan
(Kemenkes)
RI
dr.
Imran
Pambudi,
MPHM
menyampaikan
tiga
langkah
untuk
memutus
rantai
stigma
dan
diskriminasi
terhadap
orang-orang
yang
memiliki
masalah
kesehatan
jiwa.

“WHO
menganjurkan
beberapa
langkah
untuk
melawan
stigma
dan
diskriminasi.
Langkah
ini
tertuang
dalam
‘World
Mental
Health
Report:
Transforming
mental
health
for
all’,
yang
diterbitkan
WHO
pada
2022,”
ujar
Imran
di
Jakarta,
ditulis
Selasa
(29/10).

“Pertama,
strategi
edukasi
(education
strategies)
untuk
meluruskan
mitos
dan
kesalahpahaman,
termasuk
di
dalamnya
kampanye
literasi,
kampanye
untuk
meningkatkan
kesadaran
masyarakat,
dan
berbagai
kegiatan
pelatihan
dan
pembelajaran.”

Langkah
kedua
adalah
strategi
kontak
(contact
strategies)
untuk
mengubah
sikap
negatif
masyarakat
umum
melalui
interaksi
dengan
orang-orang
yang
memiliki
kondisi
kesehatan
jiwa.
Strategi
ini
dapat
mencakup
kontak
sosial
langsung,
kontak
simulasi,
kontak
video
atau
online,
serta
penggunaan
layanan
dukungan
sebaya
dalam
pengaturan
perawatan
kesehatan.

“Berikutnya,
langkah
ketiga
berupa
strategi
aksi
(protest
strategies),
yaitu
penolakan
terhadap
stigma
dan
diskriminasi
secara
formal.
Contohnya,
demo,
petisi,
boikot,
dan
kampanye
advokasi
lainnya,”
lanjut
Imran.

Penelitian
tentang
dampak
ketiga
strategi
WHO
tersebut
menunjukkan
bahwa
bagi
sebagian
besar
kelompok
orang,
kontak
sosial
adalah
jenis
intervensi
paling
efektif
untuk
meningkatkan
pengetahuan
dan
sikap
terkait
stigma.
Beberapa
negara
berpenghasilan
tinggi
telah
berhasil
mengampanyekan
kesadaran
publik
berskala
besar
dan
strategi
berbasis
kontak
untuk
menciptakan
perubahan
positif
terkait
kesehatan
jiwa.


Kampanye
Anti-Stigma
Kesehatan
Jiwa

Di
beberapa
negara,
lanjut
Direktur
Imran
Pambudi,
terdapat
kampanye
nasional
yang
mengarah
pada
perubahan
positif
dalam
sikap
publik
terhadap
kesehatan
jiwa.
Upaya
ini
juga
tercatat
dalam
laporan
WHO.

Contohnya
adalah
Time
to
Change,
kampanye
anti-stigma
di
Inggris
yang
bertujuan
mengakhiri
stigma
dan
diskriminasi
yang
dihadapi
orang-orang
dengan
kondisi
kesehatan
jiwa.

“Kegiatan
yang
dilakukan,
misalnya,
acara-acara
komunitas
lokal
dan
penghargaan
yang
dibuat
oleh
penyintas.
Hasilnya,
kegiatan
yang
berbasis
kontak
dengan
masyarakat
awam,
efektif
menurunkan
stigma
serta
meningkatkan
kesadaran
masyarakat
terhadap
kesehatan
jiwa,”
kata
Imran.

Di
Australia,
terdapat
program
literasi
kesehatan
jiwa
oleh
Beyond
Blue,
sebuah
organisasi
yang
mendukung
kesehatan
dan
kesejahteraan
jiwa.
Kegiatan
organisasi
ini
berfokus
pada
penyediaan
dukungan
untuk
mengatasi
depresi
dan
gangguan
kecemasan.

Selain
itu,
Beyond
Blue
mengadakan
pelatihan
perawatan
kesehatan
jiwa
dan
forum
diskusi
komunitas.
Temuan
utama
dari
kegiatan
tersebut
menunjukkan
lebih
banyak
peningkatan
kesadaran
masyarakat
terkait
depresi
dan
manfaat
perawatannya.
Program
pelatihan
ini
cukup
berhasil
meningkatkan
pengetahuan
tentang
gangguan
kesehatan
jiwa.

“Ada
juga
kampanye
Opening
Minds,
edukasi
berbasis
kontak
di
Kanada.
Kampanye
ini
memberikan
dukungan
terkait
kesehatan
jiwa.
Intervensi
ditujukan
kepada
penyedia
layanan
kesehatan,
karyawan,
dan
anak-anak
muda,”
terang
Imran.

“Hasil
temuan
utama,
salah
satunya,
berbagai
cerita
tentang
harapan
dan
kesembuhan
adalah
yang
paling
berhasil
menurunkan
stigma.”

Opening
Minds
adalah
sebuah
kampanye
dari
Mental
Health
Commission
of
Canada
(MHCC)
untuk
mengurangi
stigma
dan
mengupayakan
kesehatan
jiwa
yang
baik
di
Kanada.
Kampanye
ini
mempromosikan
kesehatan
dan
ketahanan
jiwa
sekaligus
menghilangkan
stigma.

Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut
dapat
menghubungi
nomor
hotline
Halo
Kemenkes
melalui
nomor
hotline
1500-567,
SMS
081281562620
dan
alamat
email
kontak@kemkes.go.id.

Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik

Aji
Muhawarman,
ST,
MKM

 

 

Sumber Berita