Bandung,
10
Juni
2025

Kementerian
Kesehatan
RI
resmi
meluncurkan
Program
Pengampuan
Layanan
Kesehatan
Ibu
dan
Anak
(KIA)
di
Provinsi
Jawa
Barat.
Program
ini
merupakan
langkah
strategis
dan
terukur
untuk
menurunkan
angka
kematian
ibu
dan
bayi
baru
lahir
serta
menekan
prevalensi
stunting,
melalui
optimalisasi
peran
rumah
sakit
rujukan
nasional
dan
jejaring
fasilitas
kesehatan
di
daerah.

Peluncuran
program
dilakukan
dalam
kegiatan
Kick
Off
Intervensi
Pencegahan
dan
Penurunan
Angka
Kematian
Ibu
dan
Bayi
(AKI-AKB)
di
Auditorium
Pusat
Pelayanan
Ibu
dan
Anak
Terpadu,
Rumah
Sakit
Hasan
Sadikin
(RSHS)
Bandung,
Selasa
(10/6).

Menteri
Kesehatan
Budi
Gunadi
Sadikin
menekankan
bahwa
isu
AKI
dan
AKB
bukan
sekadar
persoalan
data,
melainkan
menyangkut
keselamatan
nyawa.

“Kalau
Jawa
Barat
bisa
menurunkan
angka
kematian
ibu
dan
bayi,
maka
angka
nasional
juga
ikut
turun.
Karena
17%
kematian
ibu
dan
bayi
terjadi
di
Jawa
Barat,”
tegasnya.

Direktur
Jenderal
Kesehatan
Layanan
Primer
dan
Komunitas
Kemenkes,
dr.
Endang
Sumiwi,
menjelaskan
bahwa
Jawa
Barat
menjadi
provinsi
pertama
penerapan
program
karena
tingginya
beban
AKI-AKB
serta
kualitas
sistem
pelaporan
fasyankes
yang
sudah
baik
(di
atas
90%).

“Tiga
kabupaten
dengan
beban
kematian
tertinggi,
yaitu
Kabupaten
Bogor,
Kabupaten
Garut,
dan
Kabupaten
Bandung,
akan
menjadi
fokus
intervensi.
Masing-masing
akan
didampingi
oleh
rumah
sakit
pengampu
nasional:
RS
Harapan
Kita
Ibu
dan
Anak,
RSCM,
dan
RSHS,”
jelas
dr.
Endang.

Sebanyak
12
puskesmas
dan
jejaring
fasyankes
tingkat
pertama
akan
dilibatkan.
Fokus
pengampuan
mencakup
standardisasi
SOP
klinis,
penguatan
sistem
rujukan,
pelatihan
berkelanjutan,
hingga
mentoring
langsung
oleh
RS
pengampu.

Kemenkes
menargetkan
keberhasilan
di
Jawa
Barat
sebagai
model
nasional
yang
dapat
direplikasi
di
seluruh
provinsi
melalui
pendekatan
berbasis
data,
kolaborasi,
dan
lintas
sektor.

Gubernur
Jawa
Barat
Dedi
Mulyadi
menekankan
pentingnya
pendekatan
promotif
dan
preventif
dalam
pembangunan
kesehatan.

“Kesehatan
masyarakat
tak
bisa
hanya
mengandalkan
fasilitas
rumah
sakit.
Ia
harus
dibangun
dari
rumah,
sekolah,
dan
lingkungan,”
ujar
Gubernur
Dedi.

Ia
juga
mengusulkan
sejumlah
kebijakan
preventif,
seperti
pemeriksaan
kesehatan
pranikah,
bekal
makanan
sehat
dari
rumah
untuk
anak
sekolah,
dan
sertifikasi
kesehatan
bagi
pedagang
jajanan
sekolah.

Menkes
turut
mengapresiasi
capaian
Jawa
Barat
dalam
menurunkan
angka
stunting,
yang
kini
berada
di
15,9%,
jauh
di
bawah
rata-rata
nasional
sebesar
19,8%.

“Ini
luar
biasa
karena
penduduk
Jawa
Barat
paling
banyak,
ibu
hamil
paling
banyak,”
ujarnya.

Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.Untuk
informasi
lebih
lanjut,
dapat
menghubungi
Halo
Kemenkes
melalui
hotline
1500-567,
SMS
081281562620,
atau
email

[email protected]
.
(DJ/SK)

Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik

Aji
Muhawarman,
ST,
MKM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Berita