MANADOPOST.ID- Pdt Johan Manampiring adalah salah satu pasien positif Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) di Sulawesi Utara (Sulut), yang berhasil sembuh. Bagaimana Pdt Manampiring berjuang untuk sembuh? Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan manadopost.id Lina Pendong, Kamis (4/6).

W: Bisa ceritakan bagaimana awal mula sebelum pak pendeta dinyatakan positif terjangkit Covid-19?

Pdt Manampiring: Sebelumnya, saya sempat melakukan perjalanan ke luar daerah untuk memimpin ibadah reuni di Tangerang. Waktu mau pulang dari acara di Tangerang dan memang waktu itu kena hujan lalu naik taksi, tapi itu biasa-biasa saja. Nah, tiba di Manado juga tidak apa-apa.

W: Kapan mulai merasakan sakit?

Pdt Manampiring: Setelah beberapa hari di Manado, saya kena batuk. Tapi memang batuk saya sudah bertahun-tahun, karena biasa pimpin-pimpin ibadah saya ceramah tiap malam. Keringat seringkali basah kering di badan. Jadi paru-paru saya sudah ada flek.

W: Saat merasakan sakit, langsung ke rumah sakit atau ke dokter?

Pdt Manampiring: Saya sempat pergi ke dokter, lalu sembuh. Namun setiap kali capek atau kena hujan, batuk lagi, dan itu biasanya sudah rutin. Setelah beberapa hari pulang dari Tangerang, saya pergi ke salah satu klinik. Dan di sana mereka tanya, kalau ada riwayat perjalanan. Dikarenankan ada riwayat perjalanan, maka mereka mengarahkan untuk periksa ke RS Wolter Mongisidi Teling.

W: Saat tiba di RS Teling, apa tindakan medis yang diambil?

Pdt Manampiring: Karena batuk saya makin keras dan sesak nafas, malamnya saya pergi rumah sakit dan langsung diambil darah untuk rapid test dan hasilnya negatif. Keesokan harinya juga saya dirapid test dua kali siang dan malam, hasilnya juga negatif. Waktu itu saya sudah diinfus dan pakai oksigen karena sesak nafas. Selama lima hari saya di rawat di RS Wolter Monginsidi Teling, sudah ada lima tabung oksigen habis digunakan. Karena tidak ada kemajuan, maka dirujuk ke RSUP Prof Kandou Manado. Sampai di sana, saya dikarantina selama empat jam di ruang kaca sambil menunggu hasil rapid test, tapi hasilnya juga negative. Selanjutnya, saya dipindah ke ruangan.

W: Bisa gambarkan sedikit pak pendeta, bagaimana situasi ruangan isolasi saat itu?

Pdt Manampiring: Di situ hanya seorang diri. Tidak ada keluarga yang menjaga. Jadi siksanya luar biasa, karena batuk, diinfus dan pakai oksigen.

W: Apa saja penanganan yang dilakukan RS pak pendeta? Kapan dinyatakan positif?

Pdt Manampiring: Usai dimasukan ke ruangan, pemeriksaan dilanjutkan ke Swab, pertama hasilnya negatif, tapi pada pemeriksaan kedua hasilnya positif tertanggal 12 April.

W: Apa pak pendeta sudah tahu terjangkit dari mana?

Pdt Manampiring: Ada teman-teman yang ikut acara reuni. Tapi semuanya tidak ada yang sakit Covid-19, sampai hari ini mereka sehat. Jadi kemungkinannya, saya terjangkit di taksi, atau di airport atau bisa juga di pesawat.

W: Apa yang pak pendeta rasakan ketika divonis positif Covid-19 waktu itu?

Pdt Manampiring: Saat dinyatakan positif, saya langsung stres berat. Karena kebetulan waktu itu masih diinfus dan memakai oksigen. Memang dalam keterbatasan dan seorang diri di kamar, tidak ada teman ataupun keluarga. Stresnya pun makin meningkat. Waktu itu, saya langsung berdoa supaya Tuhan tolong, beri hikmat dan kebijaksanaan pada tenaga medis, peralatan maupun obat-obatan diberkati agar dapat sembuh. Saya minta Tuhan agar jangan dulu ambil saya, saya tidak mau mati dalam keadaan Covid-19 karena saya sudah terbayang bagaimana orang-orang yang mati akibat Covid-19, dan saya katakan pada Tuhan, saya tidak mau seperti itu.

W: Apa sempat ada pikiran yang aneh-aneh saat di ruang isolasi?

Pdt Manampiring: Waktu masih masa pengobatan Covid-19, saya sempat minta pulang rumah. Saya mengatakan tidak apa-apa kalau saya mati di rumah, tapi jangan di rumah sakit. Tapi karena harus mengikuti protokol kesehatan, saya tetap dirawat di rumah sakit.

W: Bisa ceritakan perjuangan pak pendeta untuk bisa sembuh?

Pdt Manampiring: Untuk melawan Covid-19 ini, perjuangan saya begitu luar biasa. Tapi sebenarnya Covid-19 ini tidak terlalu berbahaya jika tidak ada penyakit penyerta. Kebanyakan pasien yang dirawat biasa-biasa saja. Karena tidak ada penyakit penyerta. Kini saya sangat bersyukur. Doanya didengar dan dikabulkan Tuhan, akhirnya bisa sembuh dari Covid-19. Selain berdoa, saya makan dan minum obat yang diberikan secara teratur. Walaupun selera makan hilang dia tetap berusaha makan untuk menjaga stamina jangan sampai jatuh. Caranya, saya menganti nasi dengan makan bubur dan perbanyak makan buah-buahan.

W: Apa ada pesan dari bapak, untuk masyarakat Sulawesi Utara agar tak mengganggap enteng Covid-19?

Pdt Manampiring: Kepada masyarakat Sulut taatilah protokol kesehatan. Sering-seringlah cuci tangan, pakai masker, jaga jarak dan hindari keramaian. Karena kita tidak tahu, di dekat kita atau kita ada virus atau tidak. Kalaupun harus menghadiri kegiatan penting harus jaga jarak. Dengan begitu, kita bisa lindungi diri kita dan orang lain. Saya tidak jadi penyebar atau kena sebaran virus dari orang lain. Jagalah kesehatan dan taatilah aturan pemerintah. Karena pemerintah juga adalah hambah Allah.(*)

Source