TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA – Ekonom senior Faisal Basri mengatakan, sektor pariwisata yang paling terdampak dari sisi ekonomi saat ada pandemi corona atau Covid-19. Namun, ia memperkirakan, ketika ada krisis ekonomi justru sektor pariwisata tersebut akan bangkit lebih cepat setelah pandemi usai.

Tolak Herd Immunity, Direktur WHO: Manusia Bukan Ternak

“Jadi, jangan sampai sektor pariwisata itu terhujam dan tidak bisa bangun lagi. Harus dijaga karena sektor pariwisata ini adalah sektor yang paling cepat bangkit nanti,” ujarnya, Rabu (13/5).

Sementara, sektor lain yang diperkirakan cepat bangkit juga yakni automotif meski periode Januari hingga Maret 2020 penjualannya sudah minus.”Iya, tapi minusnya masih lebih baik dari dari 2019, kelihatannya puncak penurunannya Mei 2020. Intinya sekarang yang terjadi adalah masyarakat yang tadinya mau beli mobil ditunda, uangnya ditaruh di bank,” kata Faisal.

Faisal menambah, nanti kalau pandemi corona sudah beres maka diyakini masyarakat akan kembali untuk membeli atau mengganti mobilnya.”Kelihatannya akan bangkit tanpa prioritas, tapi jangan diganggu, kalau tidak bisa bantu jangan ganggu. Artinya, walaupun tidak bisa memberikan insentif kepada sektor tersebut, jangan dibebankan dengan kebijakan-kebijakan yang sifatnya menyusahkan,” pungkasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut situasi pandemi Covid-19 dan ketidakpastian yang tinggi mengharuskan pemerintah untuk mempersiapkan beberapa skenario perkembangan ekonomi ke depan.Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 hanya sebesar 2,97 persen atau telah menunjukkan terjadi koreksi yang cukup tajam.

“Hal ini mengindikasikan tekanan lebih berat akan dialami sepanjang tahun 2020, yang artinya pertumbuhan ekonomi terancam bergerak dari skenario berat sebesar 2,3 persen menuju skenario sangat berat yaitu kontraksi minus 0,4 persen,” papar Sri Mulyani.

Menurutnya, pemerintah telah mengambil langkah dan kebijakan penanganan pandemi Covid-19, agar tekanan terhadap perekonomian nasional dapat diminimalkan.”Oleh karena itu, APBN 2020 dilakukan refocusing dan realokasi untuk menangani tiga prioritas utama, yaitu penanganan kesehatan, perluasan jaring pengaman sosial untuk melindungi masyarakat miskin dan rentan, menjaga daya tahan dunia usaha dan mendukung pemulihan aktivitas ekonomi,” tutur Sri Mulyani.

“Dengan demikian, kebijakan ekonomi makro dan arah kebijakan fiskal di tahun 2021 akan berfokus pada upaya-upaya pemulihan ekonomi sekaligus upaya reformasi untuk mengatasi masalah fundamental ekonomi jangka menengah-panjang menuju Visi Indonesia Maju 2045,” papar Sri Mulyani.

PA 212 Desak Masjid Segera Dibuka: Pemerintah Jangan Bersikap Diskriminatif

Kemarin,nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot berhasil ditutup menguat ke Rp 14.865 per dolar AS.Berdasarkan data Bloomberg, posisi menguat 0,27 persen dibandingkan penutupan Selasa (12/5/2020), yakni Rp 14.905 per dolar AS.Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp 14.887 per dolar AS.

Dilansir Kontan.co.id, posisi rupiah memimpin penguatan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.Baht Thailand juga menguat 0,16%, pesso Filipina menguat 0,10%, yen Jepang menguat 0,10%, dan won Korea menguat 0,09%.Kemudian, rupee India menguat 0,04% dan dolar Hong Kong menguat 0,003%.

Source