
Jakarta,
5
Juni
2025
Kementerian
Kesehatan
(Kemenkes)
akan
menggandeng
Kementerian
Pendidikan
Dasar
dan
Menengah
untuk
meluncurkan
program
Cek
Kesehatan
Gratis
(CKG)
di
sekolah-sekolah
mulai
tahun
ajaran
baru
ini.
Program
ini
menjadi
salah
satu
dari
tiga
prioritas
utama
Menteri
Kesehatan
Budi
Gunadi
Sadikin,
selain
percepatan
penanggulangan
tuberkulosis
dan
peningkatan
kelas
rumah
sakit
dari
D
ke
C.
“Kita
akan
meluncurkan
program
CKG.
Ini
merupakan
satu
dari
tiga
tugas
ke
saya
satu,
pemeriksaan
gratis,
dua,
TBC,
tiga,
bangun
rumah
sakit
kelas
dari
D
ke
C,”
ujar
Menkes
Budi
dalam
pertemuan
bersama
Menteri
Pendidikan
Dasar
dan
Menengah,
Kamis
(5/6).
Menkes
menekankan
bahwa
CKG
memiliki
cakupan
paling
luas,
yakni
280
juta
penduduk,
dan
akan
dilakukan
setiap
tahun.
Ia
mengakui
bahwa
eksekusi
program
ini
sangat
kompleks,
namun
memiliki
dampak
paling
besar
terhadap
kesehatan
masyarakat.
Program
ini
tidak
akan
berhasil
tanpa
dukungan
kepala
daerah.
“Di
daerah,
kalau
bupati
dan
gubernurnya
tidak
mendukung
akan
sulit.
Setiap
kali
saya
bertemu
bupati,
wali
kota,
gubernur,
saya
bilang
bahwa
Pak
Prabowo
tinggi
ratingnya
karena
soal
kesehatan
berdasarkan
survei
Litbang
Kompas.
Jadi
mesti
mendukung
program
kesehatan,”
ujarnya.
Menurut
Budi,
selama
ini
pemeriksaan
kesehatan
dilakukan
di
Puskesmas.
Namun,
pendekatan
ini
dinilai
belum
optimal
karena
keterbatasan
kapasitas.
“Kita
ada
280
juta
(penduduk),
Puskesmas
10
ribu.
Ini
akan
jadi
terpusat
ke
Puskesmas.
Namun
dirasa
belum
maksimal
jika
hanya
mengandalkan
Puskesmas,”
ujarnya.
Oleh
karena
itu,
Kemenkes
mengimbau
agar
Cek
Kesehatan
Gratis
(CKG)
juga
dilaksanakan
di
sekolah-sekolah
guna
menjangkau
anak-anak
usia
sekolah.
Momen
tahun
ajaran
baru
dianggap
sebagai
titik
awal
yang
tepat
untuk
implementasi
program
ini.
“Saat
ini
mendekati
tahun
ajaran
baru
menjadi
momentum
baik
untuk
berkoordinasi
dengan
Kemendikdasmen
terkait
CKG
di
sekolah,”
kata
Budi.
Direktur
Jenderal
Kesehatan
Primer
dan
Komunitas
Kemenkes,
dr.
Maria
Endang
Sumiwi,
menjelaskan
bahwa
program
CKG
sudah
menjangkau
8
juta
peserta,
dengan
7,5
juta
di
antaranya
telah
diperiksa.
Dalam
pelaksanaannya,
jumlah
pemeriksaan
pernah
mencapai
97
ribu
dalam
sehari,
meskipun
sempat
mengalami
penurunan
karena
libur
nasional.
Ia
menyebut
rendahnya
aktivitas
fisik
sebagai
salah
satu
masalah
kesehatan
utama
yang
ditemukan
pada
orang
dewasa
dan
lansia.
“Ini
yang
kami
harap
pada
tenaga
pendidik
di
sekolah
agar
melakukan
CKG
ke
Puskesmas
untuk
CKG
ulang
tahunan,”
kata
dr.
Endang.
Kemenkes
juga
telah
melakukan
simulasi
CKG
di
beberapa
sekolah,
seperti
Penabur
dan
Assidiqiyah,
pada
Maret–April
lalu.
Hasilnya
menunjukkan
berbagai
masalah
kesehatan
pada
siswa,
mulai
dari
gangguan
penglihatan,
karies
gigi,
hingga
risiko
diabetes
karena
riwayat
keluarga.
“Masalah
kesehatan
selalu
ketemu
di
setiap
anak,
entah
itu
diabetes,
gangguan
mata,
karies.
Semuanya
kita
rujuk
ke
Puskesmas
untuk
penanganan
lebih
lanjut,”
ujarnya.
Pemeriksaan
CKG
akan
disesuaikan
dengan
jenjang
pendidikan.
Siswa
SD
akan
menjalani
13
jenis
pemeriksaan,
SMP
15
jenis,
dan
SMA
kembali
13
jenis.
Pemeriksaan
darah
akan
dilakukan
pada
remaja
putri
di
tingkat
SMP
dan
SMA,
serta
remaja
putra
di
tingkat
SMA.
Persiapan
teknis
dimulai
tujuh
hari
sebelum
pemeriksaan,
termasuk
distribusi
tautan
kuesioner
kepada
orang
tua.
Dua
hari
sebelum
pelaksanaan,
tenaga
kesehatan
akan
memastikan
kesiapan
alat
medis
dan
bahan
habis
pakai
(BMHP).
Pemeriksaan
akan
dilakukan
di
dua
ruang
terpisah,
termasuk
ruang
khusus
minimal
6
meter
untuk
pemeriksaan
mata.
Guru
UKS
dan
guru
PJOK
akan
dilibatkan
dalam
pengukuran
fisik
dan
kebugaran
siswa.
Menteri
Pendidikan
Dasar
dan
Menengah,
Prof.
Abdul
Mu’ti,
menyambut
baik
inisiatif
ini.
Ia
bahkan
mengusulkan
agar
pelaksanaan
CKG
meniru
skema
tes
Covid-19,
yakni
dilakukan
di
lokasi
terdekat
dari
tempat
tinggal
siswa
dengan
bantuan
mahasiswa
kedokteran.
“Kemungkinan
akan
banyak
yang
melakukan
tes
CKG.
Ini
sekitar
bayangan
saja
nanti
silakan
diputuskan
mana
yang
terbaik,”
ujarnya.
Menkes
Budi
menegaskan
bahwa
CKG
tidak
hanya
bertujuan
untuk
skrining
kesehatan,
tetapi
juga
untuk
membangun
kebiasaan
hidup
sehat
sejak
usia
sekolah.
Ia
juga
menekankan
pentingnya
revitalisasi
Usaha
Kesehatan
Sekolah
(UKS)
sebagai
garda
terdepan
layanan
kesehatan
di
lingkungan
pendidikan.
“Mengenai
UKS,
itu
karunia
luar
biasa.
Kalau
kita
bisa
revitalisasi
UKS,
itu
akan
bagus
sekali.
Ini
butuh
bantuan
Bapak
Mendikdasmen
dan
juga
Pemda-nya.
Saya
sangat
menghargai
kalau
ada
bantuan
dari
Bapak
untuk
sama-sama
revitalisasi
UKS,”
kata
Budi.
Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut,
dapat
menghubungi
Halo
Kemenkes
melalui
hotline
1500-567,
SMS
081281562620,
atau
email
[email protected].
(D2/SK)
Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Informasi
Publik
Aji
Muhawarman,
ST,
MKM