Jakarta
(ANTARA)

Terpilihnya
Paus
baru,
Leo
XIV,
yang
merupakan
Paus
pertama
dari
Amerika
Serikat,
kembali
menjadi
sorotan
dunia
setelah
asap
putih
mengepul
dari
cerobong
Kapel
Sistina
pada
Kamis
(8/5)
petang
sekitar
pukul
18.00
waktu
Vatikan
(23.00
WIB).
Asap
putih
ini
menandai
bahwa
konklaf
telah
mencapai
keputusan
dan
seorang
Paus
baru
telah
terpilih
oleh
para
kardinal
elektor.

Namun
di
balik
momen
bersejarah
tersebut,
muncul
pertanyaan
yang
kerap
mengemuka
setiap
kali
berlangsungnya
konklaf:
bagaimana
asap
konklaf
terbentuk
dan
mengapa
warnanya
bisa
berbeda,
yakni
hitam
dan
putih?

Dikutip
dari
Catholic
News
Agency,
secara
historis,
asap
putih
dihasilkan
dari
pembakaran
surat
suara
atau
ballot
yang
dicampur
dengan
jerami
kering.
Sementara
asap
hitam,
yang
menandakan
belum
terpilihnya
Paus,
berasal
dari
pembakaran
surat
suara
dengan
jerami
basah
yang
ditambahkan

ter

atau
bahan
kimia
khusus
untuk
menghasilkan
warna
gelap.

Seiring
berjalannya
waktu,
metode
tradisional
tersebut
telah
mengalami
perubahan.
Sejak
konklaf
tahun
2005,
Vatikan
mulai
menggunakan
senyawa
kimia
khusus
untuk
memastikan
warna
asap
yang
lebih
jelas
dan
mudah
dikenali
oleh
publik.

Asap
hitam
mengepul
dari
cerobong
asap
di
atas
Kapel
Sistina
yang
menandakan
bahwa
belum
ada
keputusan
yang
diambil
setelah
pemungutan
suara
pertama
pada
hari
kedua
pemilihan
Paus
baru
di
Kota
Vatikan,
Rabu
(13/3/2013).
ANTARA/REUTERS/Alessandro
Bianchi/am.



Baca
juga:

Paus
baru
terpilih
pada
konklaf
hari
kedua

Asap
putih
kini
dihasilkan
dari
pembakaran
kombinasi
bahan
kimia
berupa
kalium
klorat
(potassium
chlorate
),
laktosa,
dan
resin
pinus
yang
dikenal
juga
sebagai
rosin
atau

Greek
pitch
.
Sementara
itu,
asap
hitam
dibentuk
dari
campuran
kalium
perklorat
(potassium
perchlorate
),
antrasena,
dan
belerang.

Mekanisme
pembakaran
tersebut
melibatkan
dua
tungku:
satu
tungku
lama
yang
digunakan
untuk
membakar
surat
suara,
dan
satu
tungku
modern
yang
dihubungkan
dengan
sistem
elektronik.
Saat
surat
suara
dibakar
dalam
tungku
lama,
sistem
elektronik
secara
otomatis
memicu
kartrid
dalam
tungku
baru
untuk
mengeluarkan
senyawa
kimia
penghasil
asap
berwarna,
yang
berlangsung
selama
sekitar
tujuh
menit.

Agar
asap
dapat
mengalir
lancar
ke
cerobong,
sistem
ini
juga
dilengkapi
pemanas
listrik
pada
saluran
cerobong,
serta
kipas
tambahan
yang
dapat
dinyalakan
jika
dibutuhkan
untuk
memperkuat
hembusan
asap.

Proses
pembentukan
asap
ini
merupakan
bagian
penting
dari
tradisi
konklaf
yang
berlangsung
secara
tertutup
di
Kapel
Sistina.
Dalam
konklaf
terbaru,
sebanyak
133
kardinal
elektor
mengikuti
proses
pemungutan
suara.
Seorang
kandidat
baru
dapat
terpilih
menjadi
Paus
jika
berhasil
memperoleh
minimal
dua
pertiga
suara
atau
setidaknya
89
suara
dari
para
kardinal.

Dengan
munculnya
asap
putih
pada
Kamis
malam
waktu
Vatikan,
dunia
pun
mengetahui
bahwa
para
kardinal
telah
sepakat
memilih
Uskup
Agung
Robert
Francis
Prevost
sebagai
pemimpin
baru
Gereja
Katolik,
yang
kini
mengambil
nama
Paus
Leo
XIV.



Baca
juga:

Misa
untuk
pemilihan
Paus
baru
diselenggarakan
jelang
konklaf



Baca
juga:

Asap
hitam
tandai
belum
ada
Paus
terpilih
pada
hari
pertama
konklaf

Pewarta:
Raihan
Fadilah
Editor:
Suryanto
Copyright
©
ANTARA
2025

Source