Presiden
Amerika
Serikat
Donald
Trump
menyatakan
pada
Jumat
(21/2)
bahwa
ia
berharap
Ukraina
segera
menyetujui
kesepakatan
yang
diusulkan,
yang
mencakup
investasi
Amerika
Serikat
dalam
aset
mineralnya
guna
membantu
memulihkan
sebagian
dana
pertahanan
negara
itu.

“Kami
menandatangani
perjanjian,
semoga
dalam
waktu
yang
cukup
singkat,
yang
akan
memastikan
kami
mendapatkan
kembali
$400
atau
500
miliar,”
kata
Trump
kepada
wartawan
di
Ruang
Oval
saat
ditanya
tentang
kemungkinan
kesepakatan.

“Ini
adalah
kesepakatan
besar,
tetapi
mereka
[Ukraina]
menginginkannya,
dan
itu
membuat
kami
tetap
berada
di
negara
itu,”
kata
Trump,
seraya
menambahkan, “kami
mendapatkan
kembali
uang
kami.
Ini
seharusnya
ditandatangani
jauh
sebelum
kami
masuk.”

Pemerintahan
Trump
mengusulkan
kesepakatan
mineral
tanah
jarang
sebagai
bagian
dari
negosiasi
yang
lebih
luas
untuk
mengakhiri
perang
di
Ukraina.

Pernyataan
Trump
muncul
setelah
laporan
bahwa
pemerintahannya
mengajukan
versi
revisi
perjanjian
mineral
kepada
Kyiv,
menyusul
penolakan
proposal
awal
oleh
Presiden
Ukraina
Volodymyr
Zelenskyy.

Presiden Donald Trump bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Trump Tower, 27 September 2024, di New York. (Foto: AP)

Presiden
Donald
Trump
bertemu
dengan
Presiden
Ukraina
Volodymyr
Zelenskyy
di
Trump
Tower,
27
September
2024,
di
New
York.
(Foto:
AP)

Penasihat
keamanan
nasional
Amerika
Serikat,
Mike
Waltz,
menyampaikan
pernyataan
serupa
pada
Jumat
sebelumnya
di
Konferensi
Aksi
Politik
Konservatif
tahunan
di
luar
Washington.

“Baiklah,
begini,
intinya:
Presiden
Zelenskyy
akan
menandatangani
kesepakatan
itu.
Dan
Anda
akan
melihatnya
dalam
jangka
waktu
yang
sangat
pendek.
Dan
itu
bagus
untuk
Ukraina,”
katanya.

Diskusi
mengenai
kesepakatan
mineral
muncul
setelah
perdebatan
sengit
minggu
ini
antara
Trump
dan
Zelenskyy.
Menanggapi
pernyataan
Trump
yang
menyebut
Ukraina
memulai
perang
dengan
Rusia,
Presiden
Ukraina
itu
mengatakan
bahwa
Trump
hidup
dalam “ruang
disinformasi”
yang
dipengaruhi
Rusia.

Trump
membalas
di
platform
Truth
Social-nya,
menyebut
Zelenskyy
sebagai “diktator
tanpa
pemilu.”

Pada
Jumat,
Trump
menyinggung
pernyataan
tidak
langsungnya
dengan
Zelenskyy
saat
berbicara
di
pertemuan
Asosiasi
Gubernur
Negara
Bagian
Republik
di
Gedung
Putih.
Ia
mengatakan
telah
melakukan “pembicaraan
yang
sangat
baik
dengan
[Presiden
Rusia
Vladimir]
Putin”
dan “pembicaraan
yang
tidak
begitu
baik
dengan
Ukraina.”
Trump
menambahkan
bahwa
Ukraina
bersikap “keras”
tetapi
tidak
memiliki
banyak
daya
tawar.

Presiden terpilih Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Katedral Notre Dame, 7 Desember 2024 di Paris. (Foto: via AP)

Presiden
terpilih
Donald
Trump
berjabat
tangan
dengan
Presiden
Ukraina
Volodymyr
Zelenskyy
di
Katedral
Notre
Dame,
7
Desember
2024
di
Paris.
(Foto:
via
AP)


Bom
Diplomatik

Pada
Senin,
komunitas
internasional
akan
berkumpul
di
Majelis
Umum
PBB
untuk
menandai
tiga
tahun
sejak
invasi
Rusia
ke
Ukraina.
Dengan
dukungan
Uni
Eropa,
Ukraina
telah
mengajukan
rancangan
resolusi
yang
dijadwalkan
untuk
diputuskan
dalam
sidang
itu.

Dokumen
itu
menegaskan “perlunya
segera
mengakhiri
perang
tahun
ini”
melalui “perdamaian
yang
komprehensif,
adil,
dan
berkelanjutan”
sesuai
dengan
prinsip-prinsip
Piagam
PBB.
Resolusi
tersebut
juga
menyerukan
penarikan
penuh
pasukan
Rusia
dari
Ukraina “hingga
perbatasan
yang
diakui
secara
internasional.”

Namun,
rencana
Ukraina
batal
pada
Jumat
malam
setelah
pemerintahan
Trump
mengedarkan
rancangan
resolusi
mereka
sendiri.
Berjudul
Jalan
Menuju
Perdamaian,
teks
singkat
sepanjang
65
kata
itu
menyoroti “hilangnya
nyawa
yang
tragis
selama
konflik
Rusia-Ukraina”
serta “mendesak
diakhirinya
perang
secepat
mungkin
dan
terwujudnya
perdamaian
abadi
antara
Ukraina
dan
Rusia.”

Para
diplomat
mengatakan
bahwa
para
duta
besar
Eropa
menggelar
pertemuan
untuk
membahas
langkah
mengejutkan
itu,
yang
berisiko
melemahkan
dukungan
terhadap
rancangan
mereka
atau
bahkan
memaksa
mereka
menghentikan
upaya
tersebut
sepenuhnya.

Utusan
Rusia
mengatakan
kepada
wartawan
bahwa
rancangan
dari
Amerika
Serikat
merupakan “langkah
yang
baik.”

“Namun,
ada
satu
poin
penting
yang
terlewatkan,”
kata
Vassily
Nebenzia. “Akar
permasalahannya.
Kita
harus
mengatasi
akar
permasalahannya.”

Delegasi
Rusia
mengedarkan
amandemen
terhadap
teks
yang
diajukan
Washington
dengan
menambahkan
pernyataan
itu.

Moskow
terus
berupaya
membenarkan
invasi
ilegalnya
ke
Ukraina
dengan
klaim
bahwa
minoritas
berbahasa
Rusia
di
timur
Ukraina
mengalami
penganiayaan
oleh
pemerintah
Kyiv.
Kremlin
juga
menuding
pemerintah
Ukraina
sebagai “Nazi”
dan “fasis.”

Moskow
juga
mengecam
apa
yang
disebutnya
sebagai
ekspansionisme
NATO
ke
negara-negara
tetangganya.

Presiden AS Donald Trump berdiri di belakang Resolute Desk selama upacara pelantikan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, pada 21 Februari 2025. (Foto: AFP)

Presiden
AS
Donald
Trump
berdiri
di
belakang
Resolute
Desk
selama
upacara
pelantikan
Menteri
Perdagangan
AS
Howard
Lutnick
di
Ruang
Oval
Gedung
Putih
di
Washington,
DC,
pada
21
Februari
2025.
(Foto:
AFP)

Richard
Gowan,
Direktur
PBB
untuk
International
Crisis
Group,
mengatakan
di
platform
X
bahwa
ia
memperkirakan “Uni
Eropa
dan
Ukraina
akan
mengajukan
amandemen
balasan,
sehingga
teks
Amerika
Serikat
menjadi
tidak
dapat
dilaksanakan.”


Diskusi

Trump
mengirim
utusan
khususnya
untuk
Ukraina
dan
Rusia,
pensiunan
Letnan
Jenderal
Amerika
Keith
Kellogg,
untuk
bertemu
dengan
Zelenskyy
di
Kyiv,
Ukraina,
pada
Kamis.
Komentar
yang
disampaikan
setelah
pertemuan
tersebut
mengindikasikan
bahwa
hubungan
antara
Washington
dan
Kyiv
mulai
membaik.

Di
akun
media
sosial
X
miliknya,
Zelenskyy
hanya
mengatakan
hal-hal
positif.

“Pertemuan
saya
dengan
Jenderal
Kellogg
adalah
pertemuan
yang
memulihkan
harapan,
dan
kita
membutuhkan
perjanjian
yang
kuat
dengan
Amerika
Serikat

perjanjian
yang
benar-benar
akan
berhasil,”
kata
Zelenskyy. “Saya
telah
menginstruksikan
tim
saya
untuk
bekerja
dengan
cepat
dan
sangat
bijaksana.”

Kellogg,
melalui
akun
X
miliknya,
membagikan
ulang
komentar
Zelenskyy
dan
menulis, “Diskusi
yang
luas
dan
positif
dengan
[Presiden
Zelenskyy],
pemimpin
negara
yang
berjuang
dan
pemberani
dalam
perang,
serta
tim
keamanan
nasionalnya
yang
berbakat.”

Sebagian
besar
ketegangan
pekan
lalu
berpusat
pada
pembicaraan
soal
perang
di
Ukraina
antara
delegasi
Amerika
Serikat
yang
dipimpin
Menteri
Luar
Negeri
Marco
Rubio
dan
mitra
mereka
dari
Rusia
di
Arab
Saudi.
Tidak
ada
perwakilan
dari
Ukraina
maupun
Eropa
dalam
pertemuan
itu.

Rubio
kemudian
mencatat
bahwa
pertemuan
itu
tidak
melibatkan
poin-poin
penting
dari
kesepakatan.

Saat
ditanya
wartawan
pada
Jumat
apakah
ia
akan
pergi
ke
Moskow,
Trump
membantah
laporan
tersebut
dan
menegaskan, “Tidak,
tidak,
saya
tidak
akan
pergi.”

Ukraina
khawatir
Trump
tengah
berupaya
mengakhiri
perang
dengan
ketentuan
yang
lebih
menguntungkan
Moskow.
Saat
ini,
Rusia
menguasai
sekitar
seperlima
wilayah
Ukraina
yang
diakui
secara
internasional.

Para
pemimpin
Eropa
menanggapi
pernyataan
terbaru
Trump
tentang
Ukraina
dengan
berjanji
meningkatkan
anggaran
pertahanan,
sementara
beberapa
mempertimbangkan
pengerahan
pasukan
penjaga
perdamaian
Eropa
yang
didukung
Amerika
Serikat
jika
pertempuran
berakhir.
Kremlin
menyebut
rencana
itu
sebagai
sumber
kekhawatiran
utama,
tetapi
Zelenskyy
dan
NATO
menyambutnya.

[ah/ft]


Margaret
Besheer,
Tatiana
Vorozhko
Koprowicz,
Myroslava
Gongadze,
dan
Patsy
Widakuswara
berkontribusi
pada
laporan
ini.
Beberapa
informasi
berasal
dari
The
Associated
Press,
Reuters,
dan
Agence
France-Presse.

Source