Jakarta
(ANTARA)

Aplikasi
sosial
media
TikTok
dikabarkan
telah
memblokir
kata “Free
Palestine

untuk
disebutkan
pada
kolom
komen
aplikasi
mereka.

Insiden
ini
terjadi
setelah
TikTok
sempat
mengalami
gangguan
akses
di
Amerika
Serikat,
yang
kemudian
dilanjutkan
dengan
pemulihan
layanan.

Setelah
hal
itu
terjadi,
beberapa
pengguna
mulai
memperhatikan
bahwa
platform
tersebut
tidak
mengizinkan
mereka
untuk
menuliskan
frasa “Free
Palestine

di
kolom
komentar.

Beberapa
pengguna
TikTok
membagikan
tangkapan
layar
di
platform
lain
seperti
X
(Twitter)
dan
Bluesky,
yang
menunjukkan
pesan
kesalahan
yang
mereka
terima
setelah
mencoba
menuliskan
kalimat
tersebut.



Baca
juga:

Donald
Trump
perintahkan
penolakan
pelarangan
TikTok
selama
75
hari

Ketika
dicoba
oleh
beberapa
jurnalis,
ditemukan
bahwa
pada
beberapa
akun,
komentar “Free
Palestine

dapat
dituliskan
dengan
lancar,
sementara
pada
akun
lainnya,
komentar
tersebut
langsung
dihapus
dan
pengguna
menerima
pemberitahuan
bahwa
mereka
telah
melanggar
Pedoman
Komunitas
TikTok.

Namun,
hal
yang
menarik
adalah
pada
akun
yang
komentarnya
dihapus,
pengguna
masih
dapat
memposting
video
dengan
keterangan
“Free
Palestine”

tanpa
masalah.

Juru
bicara
TikTok
menyatakan
bahwa
kebijakan
dan
algoritma
platform
tidak
mengalami
perubahan
selama
akhir
pekan,
dan
mereka
sedang
berupaya
untuk
mengembalikan
operasionalnya
di
Amerika
Serikat
ke
kondisi
normal.
Mereka
mengakui
adanya “instabilitas
sementara”
selama
pemulihan
layanan,
yang
dapat
mempengaruhi
beberapa
fitur
atau
akses.



Baca
juga:

Jadi
alternatif
TikTok,
Tumblr
rilis
fitur
konten
video
di
Tumblr
TV

Juru
bicara
juga
menegaskan
bahwa
TikTok
tidak
memiliki
kebijakan
yang
melarang
pengguna
untuk
mengucapkan
“Free
Palestine”

dan
mengarahkan
mereka
ke
halaman
pedoman
komunitas,
laporan
transparansi,
dan
pendekatan
moderasi
platform.

Ini
bukan
pertama
kalinya
muncul
laporan
tentang
pembatasan
konten
pro-Palestina
di
platform
media
sosial.
Pada
Oktober
2023,
48
organisasi,
termasuk
7amleh,
Pusat
Arab
untuk
Kemajuan
Media
Sosial,
yang
mengadvokasi
hak-hak
digital
masyarakat
sipil
Palestina
dan
Arab,
mengeluarkan
pernyataan
yang
mendesak
perusahaan
teknologi
untuk
menghormati
hak-hak
digital
Palestina
selama
perang
yang
sedang
berlangsung.

Pernyataan
tersebut
menyatakan
keprihatinan
tentang
sensor
yang
signifikan
dan
tidak
proporsional
terhadap
suara-suara
Palestina
melalui
penghapusan
konten
dan
penyembunyian
tagar,
di
antara
pelanggaran
lainnya.
Pembatasan
terhadap
aktivis,
masyarakat
sipil,
dan
pembela
hak
asasi
manusia
ini,
menurut
pernyataan
tersebut,
merupakan
ancaman
serius
terhadap
kebebasan
berekspresi
dan
akses
informasi,
kebebasan
berkumpul,
dan
partisipasi
politik.

Insiden
ini
menambah
daftar
panjang
kontroversi
seputar
moderasi
konten
dan
kebijakan
platform
media
sosial.

Sebelumnya,
telah
terjadi
beberapa
kasus
serupa,
seperti
fitur “terjemahkan”
di
Instagram
yang
secara
otomatis
memasukkan
kata “teroris”
pada
bio
yang
berisi
informasi
tentang
Palestina,
hingga
platform
AI
Gemini
milik
Google
yang
menolak
menjawab
pertanyaan
tentang
Palestina.



Baca
juga:

Lirik
lagu “Luka
Dalam”
karya
Manja
Mooy,
viral
di
TikTok

Para
pengguna
online
kini
tengah
mendiskusikan
penanganan
konten
pro-Palestina
oleh
TikTok,
terutama
laporan
pemblokiran
komentar
“Free
Palestine”
.

Beberapa
pengguna
di
Reddit
juga
turut
membagikan
tangkapan
layar
pemberitahuan
dari
TikTok
yang
menyatakan
bahwa
komentar
mereka
telah
dihapus
karena
melanggar
pedoman
komunitas,
meskipun
komentar
tersebut
hanya
berisi
frasa
“Free
Palestine”.

Banyak
pengguna
lain
juga
melaporkan
mengalami
hal
serupa,
dengan
sebagian
besar
komentar
“Free
Palestine”

mereka
secara
otomatis
dihapus
oleh
sistem.

Muncul
spekulasi
bahwa
pemblokiran
ini
terkait
dengan
lobi
dari
kelompok-kelompok
pro-Israel,
mengingat
tingginya
jumlah
konten
pro-Palestina
di
aplikasi
tersebut.

Namun,
perlu
diingat
bahwa
belum
ada
bukti
konkret
yang
menunjukkan
bahwa
TikTok
telah
memberlakukan
larangan
khusus
terhadap
komentar
“Free
Palestine”
,
dan
platform
tersebut
sendiri
belum
memberikan
pernyataan
resmi
terkait
persoalan
ini.



Baca
juga:

Meta
berusaha
memikat
pembuat
konten
TikTok
dengan
berbagai
tawaran



Baca
juga:

Meta “rayu”
kreator
TikTok
dengan
bonus

Pewarta:
Raihan
Fadilah
Editor:
Suryanto
Copyright
©
ANTARA
2025

Source