Jakarta,
17
September
2024

Penyakit
polio
dapat
menyebabkan
dampak
serius
pada
kesehatan,
salah
satunya
kelumpuhan
permanen.
Namun,
penyakit
ini
dapat
dicegah
melalui
imunisasi
polio
lengkap.

Imunisasi
polio
yang
termasuk
dalam
program
nasional
terdiri
dari
dua
jenis
vaksin,
yaitu
vaksin
polio
tetes
atau
Oral
Polio
Vaccine
(OPV)
yang
diberikan
dalam
4
dosis,
dan
vaksin
polio
suntik
atau
Inactivated
Polio
Vaccine
(IPV)
yang
diberikan
dalam
2
dosis.
Keduanya
aman
dan
memberikan
kekebalan
optimal.

Hingga
saat
ini,
kasus
polio
masih
dilaporkan
terjadi
di
beberapa
wilayah
Indonesia,
termasuk
Aceh
(Pidie,
Aceh
Utara,
Bireuen),
Purwakarta,
Klaten,
Sampang,
Pamekasan,
Pandeglang,
Mimika,
Nduga,
dan
Asmat.

Sebagai
respons
aktif
terhadap
penularan
dan
penanggulangan
Kejadian
Luar
Biasa
(KLB)
polio
yang
sedang
terjadi
di
Indonesia,
Kementerian
Kesehatan
(Kemenkes)
RI
bersama
pemerintah
daerah
gencar
melakukan
pemberian
2
dosis
imunisasi
tambahan
polio
melalui
kegiatan
Pekan
Imunisasi
Nasional
(PIN).

Direktur
Pengelolaan
Imunisasi
Kemenkes
dr.
Prima
Yosephine,
MKM
mengatakan,
pemberian
imunisasi
tambahan
pada
PIN
Polio
secara
serentak
dan
massal
sangat
penting
untuk
memutus
rantai
penularan
virus
dan
menghentikan
KLB.

Sasaran
PIN
Polio
adalah
anak
usia
0
hingga
7
tahun
dan
tanpa
memandang
status
imunisasi
sebelumnya.
Vaksin
yang
diberikan
adalah
vaksin
polio
tetes.

“Per
tanggal
15
September
2024
hanya
3
provinsi,
yaitu
Banten,
Jakarta,
dan
Sumatera
Selatan
yang
sudah
mencapai
cakupan
≥95%
untuk
dosis
1
dan
2,”
ujar
dr.
Prima.

Selain
itu,
ada
2
provinsi,
yaitu
Gorontalo
dan
Sulawesi
Selatan,
yang
telah
mencapai
target
cakupan
dosis
1
≥95%,
sementara
cakupan
dosis
2
belum
mencapai
target.

Dibutuhkan
akselerasi,
kecepatan,
dan
semangat
lebih
untuk
mencapai
target
PIN
Polio
secara
keseluruhan.
Karena
itu,
pelaksanaan
PIN
Polio
dosis
1
dan
2
di
33
provinsi
diperpanjang
hingga
23
September
2024.

“Puskesmas
harus
melakukan
pemetaan
desa/kelurahan
yang
belum
mencapai
target
dan
menyusun
strategi
untuk
pencapaian
target,”
ucap
dr.
Prima.

dr.
Prima
juga
meminta
petugas
puskesmas
melakukan
sweeping
dan
mengoptimalkan
supervisi
untuk
memastikan
setiap
anak
mendapatkan
dua
dosis
imunisasi
polio
tambahan.

“Apresiasi
bagi
seluruh
jajaran
dinas
kesehatan
provinsi,
dinas
kesehatan
kabupaten/kota,
dan
Puskesmas
yang
telah
bekerja
keras
dalam
melaksanakan
PIN
Polio
putaran
1
dan
2,”
tutur
dr.
Prima.

Upaya
penting
lainnya
adalah
meningkatkan
komunikasi
dan
advokasi
kepada
para
pemangku
kepentingan
terkait
(stakeholder)
untuk
mendapatkan
dukungan
dalam
menjangkau
sasaran
di
sisa
waktu
pelaksanaan
PIN
ini.
Optimalisasi
penjangkauan
harus
melibatkan
perangkat
daerah
setempat,
kader,
tokoh
agama/adat,
relawan
PMI/Poltekkes,
serta
TNI
dan
POLRI.

Bersama-sama,
kita
pasti
dapat
mengalahkan
polio.
Mari
kita
wujudkan
Indonesia
yang
sehat
dan
bebas
polio!

Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut
dapat
menghubungi
nomor
hotline
Halo
Kemenkes
melalui
nomor
hotline
1500-567,
SMS
081281562620
dan
alamat
email
kontak@kemkes.go.id.

Plt.
Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik

dr.
Siti
Nadia
Tarmizi,
M.Epid

 

Sumber Berita