11
September
2024

Penggunaan
vaksin
Mpox
di
Indonesia
telah
mendapat
persetujuan
dari
Organisasi
Kesehatan
Dunia
(WHO)
dan
Badan
Pengawas
Obat
dan
Makanan
(BPOM)
RI.
Artinya,
vaksin
Mpox
dapat
diberikan
dalam
situasi
darurat
kesehatan.

Pernyataan
ini
disampaikan
oleh
Juru
Bicara
Kementerian
Kesehatan
RI,
dr.
Mohammad
Syahril,
Sp.P,
MPH,
merespons
narasi
yang
mengklaim
bahwa
vaksin
Mpox
yang
dipersiapkan
adalah
vaksin
eksperimental.
Bahkan,
klaim
tersebut
disertai
ajakan
agar
masyarakat
menolak
vaksin
Mpox.

Faktanya,
klaim
tersebut
keliru.
Dalam
pelaksanaan
vaksinasi,
Komisi
Nasional
Kejadian
Ikutan
Pasca
Imunisasi
(Komnas
KIPI)
turut
memantau
keamanan
dan
memastikan
manfaat
pemberian
vaksin
Mpox
sebagai
upaya
pencegahan
penularan
virus
Mpox
(MPXV).

“Vaksin
Mpox
sudah
menerima
Emergency
Use
Listing
(EUL)
dari
WHO
dan
Emergency
Use
Authorization
(EUA)
dari
BPOM,
yang
berarti
vaksin
ini
boleh
digunakan
dalam
kondisi
darurat,”
terang
Syahril
di
Jakarta,
Selasa
(10/9).

“BPOM
dengan
Komnas
KIPI
yang
independen
terus
memantau
penggunaan
vaksin
ini
untuk
memastikan
keamanan
dan
manfaatnya.”

Saat
ini,
vaksin
Mpox
yang
digunakan
di
Indonesia
adalah
jenis
Modified
Vaccinia
Ankara-Bavarian
Nordic
(MVA-BN),
yaitu
vaksin
turunan
cacar
(smallpox)
generasi
ketiga
yang
bersifat
non-replicating.
Pelaksanaan
vaksinasi
Mpox
dengan
MVA-BN
telah
dilakukan
sejak
2023,
setelah
ditemukan
kasus
konfirmasi
Mpox
di
Indonesia.


Pilihan
Jenis
Vaksin
Mpox

Berdasarkan
dokumen
WHO
berjudul
“Weekly
Epidemiological
Record:
Smallpox
and
Mpox
(Orthopoxviruses)
Vaccine
Position
Paper”
yang
diterbitkan
pada
23
Agustus
2024,
ada
tiga
vaksin
yang
dapat
digunakan
untuk
pencegahan
Mpox.
Ketiga
vaksin
ini
awalnya
untuk
pencegahan
cacar,
tetapi
kemudian
dikembangkan
dan
diperluas
penggunaannya
untuk
pencegahan
Mpox.

Pertama,
MVA-BN.
Vaksin
ini
disetujui
tahun
2013
untuk
pencegahan
cacar
di
Kanada
dan
Uni
Eropa
yang
menyasar
kelompok
orang
berusia
18
tahun
ke
atas.
Pada
2019,
MVA-BN
disetujui
untuk
pencegahan
cacar
dan
Mpox
pada
orang
dewasa
di
Amerika
Serikat.

Pada
tahun
yang
sama,
Kanada
memperluas
MVA-BN
untuk
pencegahan
Mpox.
Pada
22
Juli
2022,
Uni
Eropa
menyetujui
MVA-BN
untuk
pencegahan
Mpox
pada
orang
dewasa.
MVA-BN
tidak
dilisensikan
untuk
orang
di
bawah
usia
18
tahun.

Kedua,
LC16m8.
Di
Jepang,
LC16m8
dilisensikan
pada
1975
untuk
penyakit
cacar
tanpa
batasan
usia
dan
diperluas
untuk
pencegahan
Mpox
pada
Agustus
2022.
LC16m8
yang
digunakan
merupakan
vaksin
cacar
generasi
ketiga.

Ketiga,
ACAM2000.
Vaksin
cacar
generasi
kedua
ini
disetujui
Badan
Pengawas
Obat
dan
Makanan
Amerika
Serikat
(FDA)
untuk
imunisasi
cacar
sejak
2007.
Pada
2024,
vaksin
ini
disetujui
untuk
mencegah
Mpox
di
bawah
protokol
Investigasi
Obat
Baru
Akses
yang
Diperluas
(Expanded
Access
Investigational
New
Drug).

Menurut
tinjauan
pakar
dari
jurnal
berjudul,
“Vaccines
against
mpox:
MVA-BN
and
LC16m8”
yang
terbit
di
Taylor
&
Francis
Online
pada
1
September
2024,
probabilitas
MVA-BN
menurunkan
penyakit
Mpox
sebesar
62%
hingga
85%.
Pada
orang
yang
sudah
terpapar
Mpox,
MVA-BN
mengurangi
risiko
penyakit
sebesar
20%.

Berdasarkan
hasil
uji
klinis,
LC16m8
memberikan
perlindungan
terhadap
virus
Mpox.
MVA-BN
dan
LC16m8
secara
konsisten
mengembangkan
respons
antibodi
penetral
terhadap
orthopoxvirus,
termasuk
Clade
I
MPXV.

Selanjutnya,
efikasi
ACAM2000
yang
diperoleh
dari
studi
model
hewan
menemukan,
vaksin
ACAM2000
manjur
melawan
virus
MPXV
bila
dibandingkan
dengan
kelompok
kontrol
yang
tidak
divaksinasi.

Berita
ini
disiarkan
oleh
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik,
Kementerian
Kesehatan
RI.
Untuk
informasi
lebih
lanjut
dapat
menghubungi
nomor
hotline
Halo
Kemenkes
melalui
nomor
hotline
1500-567,
SMS
081281562620,
dan
alamat
email
kontak@kemkes.go.id.

Plt.
Kepala
Biro
Komunikasi
dan
Pelayanan
Publik

dr.
Siti
Nadia
Tarmizi,
M.Epid

Sumber Berita