Kim
Yo
Jong,
saudara
perempuan
yang
berpengaruh
dari
pemimpin
Korea
Utara
Kim
Jong
Un
mengecam
Seoul
pada
Senin
(8/7)
atas
latihan
militer
yang
dilakukan
di
dekat
perbatasan
baru-baru
ini.
Ia
mengatakan
bahwa
Korea
Selatan
tampaknya
memiliki
kecenderungan
untuk “bunuh
diri”
dan
memperingatkan
negara
tetangganya
itu
tentang “bencana
yang
mengerikan”.
Setelah
Pyongyang
mengirim
balon-balon
berisi
sampah
melintasi
perbatasan,
Seoul
menangguhkan
kesepakatan
militer
yang
bertujuan
untuk
meredakan
ketegangan
pada
bulan
lalu.
Pada
sisi
lain,
mereka
juga
melanjutkan
latihan
tembak-menembak
di
pulau-pulau
perbatasan
serta
zona
demiliterisasi
yang
memisahkan
Semenanjung
Korea.
Kim
Yo
Jong,
yang
merupakan
juru
bicara
kunci
pada
rezim
tersebut,
menyebut
latihan
itu
sebagai “latihan
perang
yang
terang-terangan
dan
provokasi
yang
tidak
bisa
dimaafkan
serta
memperburuk
situasi,”
menurut
sebuah
pernyataan
yang
disiarkan
oleh
Kantor
Berita
Pusat
Korea
KCNA.
Latihan
perbatasan
Korea
Selatan
adalah “tindakan
bunuh
diri
yang
histeris,
sehingga
mereka
harus
siap
menghadapi
bencana
yang
menakutkan,”
ujarnya.
Kim
Yo
Jong
menyatakan, “Sudah
jelas
bagi
semua
orang…
risiko
dari
latihan
tembak-menembak
yang
sembrono
oleh
tentara
Korea
Selatan
di
dekat
perbatasan,”
sambil
merujuk
Korea
Selatan
dengan
nama
resminya,
Republik
Korea.
Jika
latihan
yang
dilakukan
Seoul
melanggar
kedaulatan
Korea
Utara,
Kim
Yo
Jong
memperingatkan:
“Angkatan
bersenjata
kami
akan
segera
menjalankan
misinya,”
tanpa
memberikan
rincian
lebih
lanjut.
Dia
menyalahkan
Presiden
Korea
Selatan
Yoon
Suk
Yeol
karena
situasi
saat
ini.
Ia
mengatakan
bahwa
Yoon “berusaha
melakukan
pelarian
darurat’
melalui
platform
ketegangan
yang
semakin
meningkat”.
Yoon,
yang
meraih
sedikit
dukungan
sejak
memulai
jabatannya
pada
2022,
kini
menjadi
sorotan
karena
adanya
petisi
pemakzulan.
“Dunia
harus
memperhatikan
fakta
bahwa
jumlah
orang
yang
mengajukan
petisi
untuk
mengusulkan
rancangan
undang-undang
pemakzulan
Yoon
Suk
Yeol
hingga
saat
ini
telah
melebihi
satu
juta,”
kata
Kim
Yo
Jong.
Sangat
Disayangkan
Seoul
mengatakan
pada
Senin
bahwa
“Sangat
disayangkan
Korea
Utara
mencampuri
urusan
dalam
negeri
kami,
termasuk
mengkritik
kepala
negara
kami”.
“Kami
ingin
menegaskan
sekali
lagi
bahwa
upaya
Korea
Utara
untuk
memecah
belah
opini
publik
di
masyarakat
kita
tidak
akan
pernah
berhasil,”
tambahnya.
Pada
Senin,
sekitar
1,3
juta
orang
menandatangani
petisi
tersebut,
dan
dibutuhkan
lebih
dari
50.000
orang
lagi
agar
parlemen
dapat
meninjau
permintaan
itu.
Namun,
memang
ada
sedikit
harapan
bahwa
petisi
itu
akan
memiliki
dampak
yang
signifikan.
Hubungan
antara
kedua
Korea
berada
pada
titik
terendah
dalam
beberapa
tahun
terakhir.
Pyongyang
meningkatkan
uji
coba
senjata
seiring
dengan
semakin
dekatnya
hubungan
mereka
dengan
Rusia.
Seoul
dan
Washington
menuduh
Pyongyang
memasok
senjata
ke
Moskow
untuk
digunakan
dalam
perang
di
Ukraina
–
yang
akan
melanggar
sanksi
terhadap
kedua
negara.
Pada
awal
tahun
ini,
Korea
Utara,
yang
memiliki
senjata
nuklir,
menyebut
Seoul
sebagai
musuh
utamanya.
Mereka
telah
menghentikan
lembaga-lembaga
yang
dirancang
untuk
berkomunikasi
dan
menjalin
diplomasi
dengan
Seoul,
sambil
meningkatkan
keamanan
di
sepanjang
perbatasan
bersama.
[ah/rs]
