
Jakarta
(ANTARA)
–
Saat
memilih
pendingin
udara
untuk
rumah
atau
kantor,
Anda
mungkin
dihadapkan
pada
dua
pilihan
utama,
yaitu
antara
AC
inverter
dengan
AC
non-inverter.
Keduanya
memiliki
fungsi
yang
sama,
yaitu
mendinginkan
ruangan,
tetapi
cara
kerja
serta
efisiensinya
berbeda.
AC
inverter
dikenal
lebih
hemat
energi
dan
memiliki
kinerja
yang
stabil,
sementara
AC
non-inverter
cenderung
lebih
terjangkau
dengan
biaya
perawatan
yang
lebih
rendah.
Lalu,
mana
yang
lebih
cocok
untuk
kebutuhan
Anda?
Mari
kita
bahas
perbedaan
utama
keduanya
agar
Anda
bisa
membuat
keputusan
yang
tepat,
melansir
situs
Aqua
elektronik
dan
berbagai
sumber
lainnya.
Perbedaan
utama
AC
inverter
dengan
AC
non-inverter
Perbedaan
mendasar
antara
AC
inverter
dan
AC
non-inverter
terletak
pada
cara
kerja
kompresor-nya.
AC
inverter
menggunakan
kompresor
yang
dapat
menyesuaikan
kecepatan
sesuai
kebutuhan,
sedangkan
AC
non-inverter
memiliki
kompresor
dengan
kecepatan
tetap.
Selain
itu,
ada
beberapa
perbedaan
lain
yang
perlu
diperhatikan
sebelum
memilih
jenis
AC
yang
sesuai
dengan
kebutuhan
Anda.
1.
Konsumsi
daya
listrik
Dari
segi
penggunaan
listrik,
AC
inverter
lebih
hemat
hingga
30%
–
50%
dibandingkan
AC
non-inverter.
•
AC
inverter
bekerja
dengan
daya
normal
sekitar
900
watt,
tetapi
saat
pertama
kali
dinyalakan,
tarikan
listriknya
hanya
75
watt.
Setelah
suhu
ruangan
stabil,
daya
yang
dibutuhkan
turun
menjadi
sekitar
300
watt.
Oleh
karena
itu,
jika
ingin
menghemat
pemakaian
listrik,
AC
inverter
bisa
menjadi
pilihan
terbaik.
•
AC
non-inverter,
di
sisi
lain,
menggunakan
sistem
mati-nyala
(on/off)
yang
membuat
konsumsi
dayanya
lebih
tinggi.
Selain
itu,
kompresor
pada
AC
non-inverter
tidak
bekerja
secara
terus-menerus
dalam
kecepatan
penuh,
sehingga
efisiensinya
lebih
rendah
dibandingkan
dengan
AC
inverter.
2.
Stabilitas
suhu
Perbedaan
utama
antara
AC
inverter
dan
non-inverter
juga
terletak
pada
bagaimana
keduanya
menjaga
suhu
ruangan
tetap
nyaman.
•
AC
inverter
mampu
mempertahankan
suhu
ruangan
agar
tetap
stabil.
Setelah
mencapai
suhu
yang
diinginkan,
kompresornya
tidak
mati,
melainkan
hanya
menurunkan
kecepatan
putaran
agar
tetap
bekerja
secara
efisien.
Hal
ini
membuat
suhu
ruangan
lebih
konsisten
tanpa
perubahan
yang
drastis,
sehingga
memberikan
kenyamanan
lebih
bagi
penghuni.
•
AC
non-inverter,
di
sisi
lain,
bekerja
dengan
sistem
mati-nyala.
Saat
suhu
ruangan
sudah
sesuai
dengan
pengaturan,
kompresor
akan
berhenti
bekerja.
Namun,
ketika
suhu
mulai
meningkat,
kompresor
kembali
menyala
dengan
daya
tinggi
untuk
mendinginkan
ruangan.
Akibatnya,
suhu
cenderung
naik-turun,
yang
bisa
membuat
pengguna
merasa
kurang
nyaman
karena
adanya
perubahan
suhu
yang
cukup
terasa.
3.
Cara
kerja
Sistem
kerja
kedua
jenis
AC
ini
memiliki
perbedaan
yang
cukup
mencolok.
•
AC
inverter
bekerja
dengan
mengubah
tenaga
listrik
arus
bolak-balik
(AC)
menjadi
arus
searah
(DC).
Proses
ini
memungkinkan
AC
mengontrol
daya
dengan
lebih
efisien,
sehingga
konsumsi
listrik
tetap
stabil
meskipun
suhu
ruangan
mengalami
fluktuasi.
•
AC
non-inverter
menggunakan
sistem
on/off,
di
mana
kompresor
akan
berhenti
saat
suhu
yang
diinginkan
tercapai
dan
menyala
kembali
ketika
suhu
naik
atau
turun.
Setiap
kali
kompresor
menyala,
daya
yang
dibutuhkan
cukup
besar.
4.
Tingkat
kebisingan
Perbedaan
lain
yang
cukup
mencolok
antara
AC
inverter
dan
non-inverter
adalah
tingkat
kebisingannya.
•
AC
inverter
bekerja
dengan
kompresor
yang
beroperasi
secara
konstan
tanpa
sering
mati-nyala,
sehingga
suaranya
lebih
halus
dan
tidak
mengganggu.
•
AC
non-inverter,
sebaliknya,
menghasilkan
suara
bising
terutama
saat
kompresor-nya
mulai
bekerja
kembali
setelah
mati.
Suara
ini
berasal
dari
unit
outdoor
dan
bisa
semakin
mengganggu
seiring
bertambahnya
usia
AC.
5.
Ketahanan
dan
umur
pakai
Dari
segi
daya
tahan,
AC
inverter
cenderung
lebih
awet
dibandingkan
AC
non-inverter.
•
AC
inverter
memiliki
putaran
kompresor
yang
lebih
fleksibel,
sehingga
tidak
mengalami
tekanan
kerja
yang
berlebihan.
RPM
(rotasi
per
menit)
kompresor
juga
berkurang
saat
AC
menyala,
yang
membantu
memperpanjang
usia
pemakaian.
•
AC
non-inverter,
di
sisi
lain,
bekerja
dengan
sistem
on/off.
Kompresor
yang
terus-menerus
hidup
dan
mati
dalam
waktu
singkat
membuatnya
lebih
cepat
aus.
Karena
sistem
kerja
AC
inverter
lebih
stabil,
komponen
di
dalamnya
juga
tidak
cepat
rusak.
Selain
lebih
tahan
lama,
AC
inverter
juga
dianggap
lebih
ramah
lingkungan
karena
konsumsi
energi-nya
lebih
efisien.
6.
Perawatan
Dalam
hal
perawatan,
AC
non-inverter
lebih
mudah
dan
murah
dibandingkan
AC
inverter.
•
AC
inverter
menggunakan
jenis
freon
yang
memerlukan
perawatan
lebih
teliti
dan
biaya
yang
lebih
tinggi.
Selain
itu,
ukuran
pipa
pada
AC
inverter
lebih
besar
dibandingkan
AC
non-inverter,
sehingga
perlu
diperhatikan
saat
pemasangan
maupun
perawatannya.
•
Agar
tetap
berfungsi
optimal,
baik
AC
inverter
maupun
non-inverter
sebaiknya
diservis
setiap
3–4
bulan
sekali.
Pembersihan
mencakup
filter,
evaporator,
serta
kipas
AC.
Selain
itu,
pemeriksaan
rutin
pada
freon
juga
penting
untuk
menghindari
kebocoran
yang
dapat
berdampak
negatif
pada
kesehatan.
Jika
diperlukan,
pengguna
bisa
meminta
bantuan
teknisi
profesional
untuk
memastikan
AC
tetap
bekerja
dengan
baik.
7.
Harga
•
Dari
segi
harga,
AC
inverter
umumnya
lebih
mahal
dibandingkan
AC
non-inverter.
Teknologi
inverter
yang
disematkan
dalam
AC
ini
membuat
harganya
bisa
dua
kali
lipat
lebih
tinggi
daripada
AC
non-inverter.
•
Namun,
harga
yang
lebih
mahal
ini
sebanding
dengan
fitur
dan
manfaat
yang
ditawarkan.
Beberapa
AC
inverter
dilengkapi
teknologi
penyaring
bakteri
dan
kuman,
sehingga
lebih
sehat
dan
ramah
lingkungan.
Dengan
keunggulan
tersebut,
AC
inverter
lebih
cocok
untuk
kamar
tidur
atau
ruangan
yang
sering
digunakan,
karena
mampu
menjaga
kenyamanan
dengan
suhu
yang
lebih
stabil
dan
hemat
energi,
sehingga
tagihan
listrik
pun
lebih
terkendali.
Baca
juga:
Kenapa
Pevita
Pearce “anti-AC”
di
kamar
?
Baca
juga:
Tidak
sulit,
ini
cara
bersihkan
sendiri
AC
di
rumah
Baca
juga:
AC
di
rumah
tidak
dingin?
Ini
penyebab
dan
ongkos
perbaikannya
Pewarta:
Sean
Anggiatheda
Sitorus
Editor:
Alviansyah
Pasaribu
Copyright
©
ANTARA
2025