Gaza
(ANTARA)


Perselisihan
Terkait
Solusi


Presiden
AS
Donald
Trump
baru-baru
ini
mengusulkan
relokasi
penduduk
Palestina
di
Gaza
ke
negara-negara
tetangga,
seraya
menyatakan
bahwa
warga
Gaza
yang
telah
pergi
tidak
akan
diizinkan
untuk
kembali.
Usulan
tersebut
memicu
protes
di
tingkat
regional
dan
internasional.

Institut
Kebijakan
Luar
Negeri
Regional
Israel
menyebut
proposal
Trump
sebagai “sebuah
ide
yang
kacau”,
sekaligus
menyebut
bahwa
proposal
Trump “sering
kali
dilihat
sebagai
upaya
untuk
menerapkan
prinsip-prinsip
bisnis
dalam
diplomasi”.

Publik
Amerika
Serikat
(AS)
kemungkinan
besar
akan
menentang
langkah
seperti
itu.
Hal
ini
dikarenakan
minat
AS
untuk
terlibat
dalam
berbagai
konflik
luar
negeri
telah
berkurang,
terutama
setelah
kegagalan
di
Irak,
Afghanistan,
dan
Suriah,
kata
institut
itu.

Usulan
tersebut “ditentang
keras
oleh
semua
negara
Arab,
karena
itu
akan
memaksa
mereka
bertindak
bertentangan
dengan
kepentingan
mereka
sendiri,”
imbuh
institut
itu. “Jika
mereka
menerima
usulan
itu,
mereka
berisiko
merusak
legitimasi
dan
stabilitas
rezim
mereka.”

Bagi
warga
Gaza,
usulan
itu
juga
tidak
dapat
diterima. “Israel
selalu
berusaha
menghapus
keberadaan
kami,
baik
melalui
pembunuhan
maupun
pengusiran.
Namun,
kami
akan
tetap
bertahan
di
tanah
kami.
Meskipun
mengalami
kesulitan,
kami
tidak
akan
pergi,”
kata
Sajida
Ayesh,
seorang
warga
Saftawi
di
Gaza
utara,
kepada
Xinhua.

“Kami
akan
membangun
kembali
apa
yang
telah
dihancurkan
oleh
orang
lain,”
imbuh
ibu
tiga
anak
berusia
29
tahun
ini.

Perselisihan
yang
terus
berlangsung
mengenai
masa
depan
Gaza
mencakup
usulan
dari
pemimpin
oposisi
Israel
Yair
Lapid,
yang
menginginkan
Mesir
memerintah
Gaza
selama
delapan
tahun.
Mesir
dengan
tegas
menolak
usulan
itu,
dengan
juru
bicara
Kementerian
Luar
Negeri
Mesir,
Tamim
Khalaf,
menyebut
usulan
tersebut
sebagai “solusi
setengah
matang”
yang
hanya
akan
memperpanjang
siklus
konflik,
bukan
membawa
perdamaian
yang
abadi.

“Mengakhiri
kekuasaan
Hamas…
tidak
dapat
dicapai
tanpa
serangan
militer
yang
keras,
tetapi
juga
tidak
dapat
dicapai
dengan
serangan
militer
saja.
Penghapusan
kekuasaan
Hamas
mengharuskan
adanya
kekuasaan
lain
yang
menggantikannya,”
demikian
sebuah
artikel
opini
yang
diterbitkan
oleh
surat
kabar
Israel,
Haaretz.

Sajida,
warga
Gaza,
telah
melalui
perjalanan
yang
memilukan,
berulang
kali
mengungsi
di
selatan
Gaza
untuk
mencari
tempat
yang
lebih
aman
bagi
keluarganya
yang
terdiri
dari
lima
orang. “Di
selatan,
kami
mengalami
penderitaan,
ketakutan,
dan
kelaparan
yang
paling
berat…
Janji
perlindungan
dari
tentara
Israel
adalah
sebuah
kebohongan,”
katanya.

“Saya
tidak
akan
mengulangi
kesalahan
itu.
Bahkan
jika
mereka
membunuh
kami
di
sini,
kami
akan
mati
di
tanah
kami,”
imbuhnya.

Menurut
perkiraan
PBB
pada
4
Februari,
lebih
dari
565.000
orang
telah
mengungsi
dari
Gaza
selatan
ke
Gaza
utara
sejak
27
Januari.
Namun,
ketika
mereka
yang
mengungsi
kembali
ke
tempat
asalnya,
mereka
mendapati
kehancuran
masif
di
daerah
tersebut.
Sebuah
laporan
PBB
menunjukkan
bahwa
92
persen
rumah
di
Gaza
telah
rusak
atau
hancur.

Ketika
Sajida
sampai
di
pesisir
Gaza
City,
dia
berhenti
sejenak
untuk
melihat
ombak
laut
yang
tenang. “Sayangnya,
semuanya
telah
berubah.
Bahkan
laut,
yang
dulu
mengingatkan
kami
akan
mimpi-mimpi
kami,
kini
ikut
merintih
bersama
kami,”
katanya.

Meskipun
gencatan
senjata
memungkinkan
lebih
banyak
bantuan
kemanusiaan
masuk
ke
Gaza,
bantuan
tersebut
masih
belum
mencukupi.

Lebih
dari
1.500
titik
air
kini
beroperasi,
tetapi
pasokan
air
hanya
sekitar
seperempat
dari
level
sebelum
Oktober
2023.
Sementara
itu,
sekitar
350.000
pasien
yang
sakit
kronis
menghadapi
kekurangan
obat-obatan,
dan
antara
12.000
hingga
14.000
orang,
termasuk
5.000
anak-anak,
sangat
membutuhkan
evakuasi
medis,
menurut
laporan
PBB.

Badai
musim
dingin
yang
dahsyat
melanda
Jalur
Gaza
pada
awal
Februari. “Dengan
musim
dingin
yang
sedang
berlangsung,
hampir
1
juta
warga
Palestina
yang
mengungsi
masih
sangat
membutuhkan
bantuan,”
kata
PBB.

Om
Ahmed
al-Ramli,
seorang
wanita
pengungsi
di
Deir
al-Balah
di
Gaza
tengah,
berjuang
mati-matian
untuk
menyelamatkan
barang-barangnya
yang
tersisa
setelah
badai
meluluhlantakkan
tendanya.

“Ini
bukan
rumah,
ini
hanya
potongan
kain
yang
hampir
tidak
melindungi
kami,”
katanya
kepada
Xinhua
dengan
marah. “Kini,
bahkan
itu
pun
hilang.
Badai
telah
merenggut
segalanya,
termasuk
harapan
terakhir
kami,”
demikian
Xinhua.

Penerjemah:
Xinhua
Editor:
Alviansyah
Pasaribu
Copyright
©
ANTARA
2025

Source