
Pemerintah
Taiwan,
Senin
(10/2),
menegaskan
perusahaan
energi
milik
negara,
CPC
Corporation,
siap
meningkatkan
volume
impor
gas
alam
dari
Amerika
Serikat.
Ketegasan
itu
disampaikan
menyusul
rencana
Presiden
Amerika
Serikat
Donald
Trump
untuk
memberlakukan
tarif
pada
cip
semikonduktor
dari
pulau
tersebut.
Taiwan
mengandalkan
impor
untuk
hampir
seluruh
kebutuhan
energinya.
Data
resmi
mencatat
bahwa
sekitar
38
persen
pasokan
gas
alamnya
berasal
dari
Australia,
25
persen
dari
Qatar,
dan
kurang
dari
10
persen
dari
Amerika
Serikat.
Trump,
yang
menjanjikan “zaman
keemasan”
bagi
Amerika
Serikat,
mengancam
akan
mengenakan
tarif
pada
beberapa
mitra
dagang
utama
dalam
upayanya
mengatasi
ketidakseimbangan
perdagangan.
“CPC
Corporation,
dengan
mempertimbangkan
faktor-faktor
seperti
rute
pengiriman
yang
lebih
pendek
dan
rute
transportasi
yang
tersebar,
memang
sangat
tertarik
pada
gas
alam
Alaska,”
kata
Kementerian
Urusan
Ekonomi
dalam
sebuah
pernyataan.
“Perusahaan
akan
terus
mengevaluasi
kelayakan
dan
siap
meningkatkan
volume
pembelian.”
Pernyataan
itu
disampaikan
setelah
Trump
mengancam
akan
memberlakukan
tarif
pada
cip
buatan
luar
negeri,
sebagai
langkah
untuk
mendorong
perusahaan
memindahkan
produksinya
ke
Amerika
Serikat.
Taiwan
merupakan
produsen
cip
terkemuka
di
dunia,
yang
digunakan
dalam
berbagai
produk,
mulai
dari
iPhone
buatan
Apple
hingga
perangkat
keras
kecerdasan
buatan
Nvidia.
Industri
cip
juga
menjadi
pilar
utama
perekonomian
negara
itu.
Trump,
yang
menuduh
Taiwan
merebut
industri
cip
Amerika,
baru-baru
ini
mengancam
akan
memberlakukan
pajak
hingga
100
persen
pada
semikonduktor
impor
dari
pulau
tersebut.
Menteri
Ekonomi
Kuo
Jyh-huei
mengatakan
kepada
wartawan
pada
Sabtu
(8/12)
bahwa
ia
akan
mengutus
wakilnya
ke
Amerika
Serikat
untuk
membahas
potensi
tarif
dengan “orang-orang
di
lingkaran
Trump.”
[ah/rs]