Setidaknya
12
warga
sipil
tewas,
termasuk
tiga
anak-anak,
dan
puluhan
terluka
pada
Selasa
(4/3)
petang
setelah
dua
kendaraan
bermuatan
bahan
peledak
diledakkan
di
kompleks
angkatan
bersenjata
di
Pakistan
barat
laut,
kata
para
pejabat.
Serangan
tersebut
dengan
segera
diklaim
oleh
sebuah
kelompok
militan.

Ledakan
besar
dan
diikuti
baku
tembak
itu
terjadi
ketika
matahari
tenggelam,
ketika
warga
berbuka
puasa
di
bulan
suci
Ramadan.

Perdana
Menteri
Shehbaz
Sharif
mengecam
“para
teroris
pengecut
yang
menarget
warga
sipil
tidak
bersalah
di
tengah
bulan
Ramadan”
dan
“tidak
pantas
untuk
diampuni”.

Serangan
itu
terjadi
di
Bannu,
sebuah
distrik
di
provinsi
Khyber
Pakhtunkhwa
yang
bergolak
di
Pakistan
yang
terletak
berdekatan
dengan
wilayah-wilayah
kesukuan
yang
sebelumnya
memiliki
pemerintahan
sendiri
di
negara
tersebut.

Seorang
pejabat
keamanan,
berbicara
secara
anonim,
mengatakan
kepada

AFP

pada
malam
harinya
bahwa
jumlah
korban
meninggal
telah
meningkat
menjadi
12,
termasuk
tiga
anak-anak
dan
dua
perempuan,
dengan
32
orang
terluka.

Seorang
pejabat
intelijen
sebelumnya
mengatakan
kepada

AFP

bahwa
12
anggota
kelompok
militan
telah
berupaya
menyerbu
kompleks
tersebut
setelah
ledakan
bom
bunuh
diri,
dan
enam
penyerang
berhasil
ditembak
mati.

“Ledakan
itu
menciptakan
dua
lubang
sedalam
60
sentimeter,
dan
karena
intensitasnya,
setidaknya
delapan
rumah
di
wilayah
itu
telah
rusak,”
kata
seorang
petugas
polisi.

Serangan
itu
diklaim
oleh
sebuah
faksi
dari
kelompok
bersenjata
Hafiz
Gul
Bahadur,
yang
secara
aktif
mendukung
Taliban
di
Afghanistan
dalam
perang
mereka
melawan
koalisi
NATO
pimpinan
AS
sejak
2001.

“Para
pejuang
kami
memiliki
akses
ke
target
penting
dan
mengambil
alih
kendali,”
kata
kelompok
itu
dalam
sebuah
pernyataan
tanpa
memberikan
rincian
lebih
jauh.

Presiden
Pakistan
Asif
Ali
Zardari
mengutuk
serangan
itu
dalam
sebuah
pernyataan
dan
menyebutnya
“keji”,
dia
juga
mengatakan
bahwa
“seluruh
bangsa
menolak
tindakan
hina
semacam
itu”.

Gumpalan
asap
abu-abu
membubung
ke
angkasa
setelah
dua
ledakan
itu,
sementara
baku
tembak
berlanjut,
dengan
tembakan
terdengar
dari
kejauhan
di
kawasan
itu.

“Kekuatan
dari
ledakan
itu
melemparkan
saya
beberapa
meter.
Ledakan
itu
begitu
besar
hingga
menimbulkan
kerusakan
yang
besar
di
lingkungan
saya,”
kata
Nadir
Ali
Shah,
seorang
warga
setempat
berusia
40
tahun
kepada

AFP

di
rumah
sakit,
ketika
dia
dirawat
karena
luka-luka
di
kepala
dan
kaki.

“Itu
adalah
adegan
kehancuran
seperti
kiamat,”
tambahnya.

Serangan
itu
terjadi
beberapa
hari
setelah
seorang
pelaku
bom
bunuh
diri
beraksi
dan
menewaskan
enam
orang
di
sebuah
sekolah
keagamaan
Islam
di
Pakistan,
yang
siswanya
adalah
para
pemimpin
kunci
Taliban
di
provinsi
tersebut.

Serangan-serangan
serupa
telah
meningkat
di
Pakistan
sehak
otoritas
Taliban
kembali
berkuasa
di
Afghanistan
pada
Agustus
2021.

Hafiz
Gul
Bahadur
melakukan
serangan
yang
lain
pada
kompleks
yang
sama
pada
Juli
lalu,
meledakkan
sebuah
kendaraan
yang
memuat
bahan
peledak
ke
dinding
luar
kompleks
itu,
dan
menewaskan
delapan
tantara
Pakistan.

Tahun
lalu
adalah
yang
paling
mematikan
selama
satu
dekade
di
Pakistan,
yang
menjadi
rumah
bagi
250
juta
orang,
dengan
lonjakan
serangan-serangan
yang
menewaskan
lebih
dari
1.600
orang,
menurut
Lembaga
analisis
yang
berbasis
di
Islamabad,
the
Center
for
Research
and
Security
Studies.

Kekerasan
ini
secara
umum
terbatas
terjadi
di
kawasan
perbatasan
negara
itu
dengan
Afghanistan.

Pakistan
menuduh
pemerintah
Afghanistan
gagal
membasmi
militan
yang
berlindung
di
wilayah
negara
itu
ketika
mereka
mempersiapkan
diri
untuk
melakukan
serangan
ke
Pakistan,
sebuah
tuduhan
yang
dibantah
oleh
pemerintah
Taliban.

[ns/uh]

Source