Dalam
pemilihan
presiden
Amerika
Serikat
(AS),
upaya
memenangkan
hati
para
pemilih
sedang
berlangsung
habis-habisan.

Donald
Trump,
calon
presiden
dari
Partai
Republik,
mengatakan,
“Kita
akan
menyelamatkan
perekonomian
kita.
Kita
akan
menyelamatkan
kelas
menengah
kita.”

Calon
presiden
dari
Partai
Demokrat
Kamala
Harris
menyerukan,
“Saatnya
membuka
lembaran
baru.
Buka
lembaran
baru.”

Namun
persaingan
mereka,
menurut
para
pejabat
AS,
termasuk
Jaksa
Agung
Merrick
Garland,
sebetulnya
dipengaruhi
Rusia.
“Lingkaran
dekat
Presiden
Vladimir
Putin,
termasuk
Sergey
Kiriyenko
mengarahkan
perusahaan-perusahaan
hubungan
masyarakat
Rusia
untuk
mempromosikan
disinformasi
dan
narasi
yang
disponsori
negara
sebagai
bagian
dari
program
untuk
mempengaruhi
pemilihan
presiden
AS
pada
tahun
2024,”
komentarnya.

Salah
satu
bagian
dari
skema
tersebut,
menurut
dakwaan
AS,
termasuk
meniru
puluhan
situs
berita
untuk
memengaruhi
cara
para
pemilih
AS
menelaah
isu-isu
penting.

Bagian
lainnya
melibatkan
media
RT
yang
didukung
pemerintah
Rusia

yang
dituduh
menyalurkan
hampir
$10
juta
ke
sebuah
perusahaan
media
yang
berbasis
di
AS.

FILE - Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller saat konferensi pers rutin di Departemen Luar Negeri AS di Washington, D.C., 5 Agustus 2024.

FILE

Juru
Bicara
Departemen
Luar
Negeri
AS
Matthew
Miller
saat
konferensi
pers
rutin
di
Departemen
Luar
Negeri
AS
di
Washington,
D.C.,
5
Agustus
2024.

Juru
Bicara
Departemen
Luar
Negeri
AS
Matthew
Miller
mengatakan,
“Dana
jutaan
dolar
itu
digunakan
untuk
membayar
orang-orang
Amerika
yang
tidak
sepenuhnya
menyadari
bahwa
mereka
dimanfaatkan
untuk
menyampaikan
pesan-pesan
Kremlin
yang
dapat
mempengaruhi
pemilu
AS
dan
melemahkan
demokrasi.”

Rusia
membantah
tuduhan
tersebut.
Juru
Bicara
Kementerian
Luar
Negeri
Rusia
Maria
Zakharova
mengatakan,
“Ini
adalah
sikap
anti-Rusia.
Ini
adalah
serangan
terhadap
kebebasan
berpendapat.
Ini
adalah
diskriminasi,
dan
ini
adalah
permainan
manipulasi
paling
kotor
AS
dan
orang-orang
berpengaruh
di
pemerintahan
selama
siklus
pemilu.”

FILE: Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova di Moskow, Rusia, 18 Januari 2024. (Maxim Shemetov/REUTERS)

FILE:
Juru
Bicara
Kementerian
Luar
Negeri
Rusia
Maria
Zakharova
di
Moskow,
Rusia,
18
Januari
2024.
(Maxim
Shemetov/REUTERS)

Para
pejabat
AS
menganggap
bantahan
tersebut
sebagai
hal
yang
menggelikan.

Penilaian
intelijen
tidak
rahasia
AS
yang
dikeluarkan
awal
bulan
ini
menyebut
Rusia
sebagai
“ancaman
pengaruh
asing
paling
aktif”
terhadap
pemilu
mendatang

yang
bertujuan
meningkatkan
peluang
mantan
Presiden
Donald
Trump.

Menyusul
posisi
Rusia,
kata
Jaksa
Agung
Garland,
adalah
Iran.
“Kami
telah
mengamati
aktivitas
Iran
yang
semakin
agresif
selama
siklus
pemilu
ini.
Hal
ini
termasuk
aktivitas
yang
dilaporkan
baru-baru
ini
oleh
Iran
untuk
mempengaruhi
kampanye
mantan
Presiden
Trump
dan
untuk
menghindari
hasil
pemilu
yang
dianggap
bertentangan
dengan
kepentingannya,”
jelasnya.

Para
pejabat
intelijen
AS
mengatakan
China
juga
telah
menjalankan
kampanye
media
sosial
berskala
kecil
yang
bertujuan
merugikan
para
kandidat
yang
dianggap
memusuhi
Beijing.

Namun,
apakah
pencegahan
AS
ini
berhasil?
Margaret
Talev,
pakar
pemilu
di
Universitas
Syracuse,
masih
mempertanyakannya.
“Saya
rasa
sejauh
ini
hal
ini
belum
benar-benar
menjadi
isu
utama
yang
diikuti
oleh
sebagian
besar
pemilih
Amerika,
namun
sangat
penting
bagi
para
pemilih
untuk
memahami
apa
yang
sedang
terjadi
dan
bagaimana
mereka
bisa
menjadi
pion.”

[ab/ka]

Source