Pemberontak
Houthi
yang
didukung
Iran
menembakkan
rudal
dari
Yaman
yang
menghantam
kota
pusat
bisnis
Israel,
Tel
Aviv,
pada
Sabtu
(21/12)
dini
hari.
Serangan
itu
melukai
16
orang
dan
menjadi
yang
kedua
dalam
beberapa
hari
terakhir.
Rudal
itu
menyasar
kawasan
permukiman
di
Tel
Aviv
dan
membuat
banyak
penduduk
terpaksa
mengungsi
pada
Sabtu
dini
hari.
Militer
Israel
mengakui
tidak
berhasil
mencegat
rudal
tersebut.
Houthi
mengklaim
bertanggung
jawab
atas
serangan
tersebut,
menyatakan
bahwa
mereka
menggunakan
rudal
balistik
yang
diarahkan
ke “target
militer
musuh
Israel.”
Houthi
acap
melakukan
serangan
rudal
terhadap
Israel
sebagai
bentuk
solidaritas
dengan
Palestina
sejak
perang
di
Gaza
berkobar
lebih
dari
setahun
yang
lalu.
Namun,
sebagian
besar
rudal
itu
berhasil
dicegat.
Sebagai
balasannya,
Israel
menyerang
beberapa
target
yang
dikuasai
Houthi
di
Yaman,
termasuk
pelabuhan
dan
fasilitas
energi
di
wilayah.
“Sirene
berbunyi
di
Israel
tengah
beberapa
saat
lalu,
dan
sebuah
proyektil
yang
diluncurkan
dari
Yaman
teridentifikasi,
tetapi
upaya
intersepsi
gagal,”
ujar
militer
Israel
melalui
saluran
Telegramnya.
Dalam
pernyataan
terpisah,
militer
menyebut
serangan
rudal
itu
sebagai “contoh
nyata
lainnya
dari
warga
sipil
Israel
yang
sengaja
menjadi
sasaran”.
Magen
David
Adom
(MDA),
layanan
medis
darurat
Israel,
mengatakan
16
orang
mengalami
luka
ringan
akibat
serangan
tersebut.
Kelompok
Houthi
menyatakan
serangan
itu
dilakukan
sebagai
aksi
solidaritas
dalam
mendukung
warga
Palestina.
Mereka
bertekad
pada
Sabtu
untuk
terus
melancarkan
operasi “hingga
agresi
dihentikan
dan
blokade
di
Jalur
Gaza
dicabut.”
Serangan
ini
terjadi
dua
hari
setelah
kelompok
pemberontak
tersebut
meluncurkan
rudal
ke
Israel
yang
menyebabkan
sebuah
sekolah
hancur.
Israel
mengklaim
rudal
tersebut
berhasil
dicegat,
tetapi
serpihannya
menghantam
sekolah
itu.
Israel
kemudian
melancarkan
serangan
balasan
terhadap
beberapa
lokasi
Houthi
di
Yaman,
termasuk
di
Ibu
Kota
Sanaa,
serangan
pertama
Israel
yang
menyasar
ibu
kota
yang
berada
di
bawah
kendali
pemberontak.
“Musuh
Israel
menargetkan
pelabuhan
di
Hodeida
dan
pembangkit
listrik
di
Sanaa,
dan
agresi
Israel
mengakibatkan
sembilan
warga
sipil
menjadi
martir,”
kata
pemimpin
pemberontak
Abdul
Malik
al-Huthi
dalam
pidato
panjang
yang
disiarkan
oleh
TV
pemberontak
Al-Masira.
Setelah
membalas
serangan
pada
Kamis,
Perdana
Menteri
Israel
Benjamin
Netanyahu
memperingatkan
Houthi
bahwa
tindakan
mereka
akan
mendapatkan
konsekuensi
berat.
“Setelah
Hamas,
Hizbullah,
dan
rezim
[Bashar
al-]
Assad
di
Suriah,
Houthi
hampir
menjadi
lengan
terakhir
yang
tersisa
dari
poros
kejahatan
Iran,”
katanya
dalam
sebuah
pernyataan.
“Houthi
akan
belajar
dengan
cara
yang
sulit
bahwa
mereka
yang
menyerang
Israel
akan
membayar
dengan
harga
yang
sangat
mahal,”
ancam
Netanyahu.
Sebelumnya,
pada
9
Desember,
sebuah
drone
yang
diklaim
oleh
Houthi
meledak
di
lantai
atas
sebuah
bangunan
tempat
tinggal
di
Kota
Yavne,
Israel
bagian
tengah,
tetapi
tidak
memakan
korban
jiwa.
Pada
Juli,
serangan
pesawat
nirawak
yang
dilancarkan
oleh
pihak
Houthi
di
Tel
Aviv
menewaskan
seorang
warga
sipil
Israel,
yang
kemudian
memicu
serangan
balasan
Israel
di
Pelabuhan
Hodeidah.
[ah]

