
Jumaddin
Khaksar,
juru
bicara
kepolisian
daerah
itu,
mengukuhkan
jumlah
korban
kepada
VOA
melalui
telepon,
dan
mengatakan
bahwa
ledakan
dahsyat
pada
pagi
hari
itu
terjadi
di
tengah
kerumunan
orang
yang
sedang
menunggu
di
luar
kantor
cabang
bank
di
Kabul
itu
untuk
mengambil
gaji.
Ia
menambahkan
bahwa
warga
sipil
Afghanistan
dan
anggota
Taliban
termasuk
di
antara
para
korban.
Kementerian
Dalam
Negeri
yang
dipimpin
Taliban
di
ibukota
Afghanistan,
Kabul,
menggambarkan
jumlah
korban
sebagai
angka
awal
dan
berjanji
untuk
memberi
rincian
lebih
jauh.
Beberapa
sumber
lokal
di
Kunduz,
ibukota
provinsi
dengan
nama
yang
sama,
melaporkan
jumlah
korban
tewas
yang
jauh
lebih
tinggi.
Belum
ada
kelompok
yang
mengaku
bertanggung
jawab
atas
pengeboman
maut
tersebut,
namun
kecurigaan
mengarah
kepada
Negara
Islam-Khorasan,
atau
IS-K,
sebuah
afiliasi
yang
berbasis
di
Afghanistan
dari
jaringan
teroris
transnasional
yang
memproklamirkan
diri
sebagai
ISIS.
Serangan
ini
terjadi
sehari
setelah
pejabat
kontraterorisme
PBB
memperingatkan
dalam
sebuah
pertemuan
Dewan
Keamanan,
Senin
(10/2)
bahwa
IS-K
terus
menjadi
ancaman
yang
signifikan
bagi
keamanan
regional
dan
global.
IS-K
secara
rutin
menargetkan
para
pemimpin
dan
ulama
Taliban
serta
anggota
komunitas
Syiah
Afghanistan
di
Kunduz
dan
di
tempat
lain
di
negara
itu.
Dalam
sebuah
serangan
yang
jarang
terjadi
bulan
lalu,
orang-orang
bersenjata
IS-K
menyergap
dan
membunuh
seorang
pejabat
perusahaan
pertambangan
China
di
provinsi
Takhar,
Afghanistan
timur
laut.
Pada
bulan
Desember,
sebuah
bom
bunuh
diri
yang
diklaim
oleh
IS-K
menewaskan
Khalil
Ur-Rahman
Haqqani,
Menteri
Urusan
Pengungsi
Taliban,
bersama
dengan
beberapa
rekannya
di
dalam
kementeriannya
di
Kabul.
Itu
merupakan
pembunuhan
yang
paling
mendapat
sorotam
sejak
Taliban
merebut
kembali
kendali
atas
Afghanistan
pada
Agustus
2021,
menyusul
penarikan
pasukan
NATO
pimpinan
Amerika
Serikat
dari
negara
itu.
Para
pejabat
Taliban
secara
konsisten
meremehkan
aktivitas
ISIS-K
di
Afghanistan,
mengklaim
bahwa
pasukan
kontraterorisme
mereka
telah
secara
efektif
menekan
kelompok
itu
dan
membuatnya
tidak
mampu
menimbulkan
ancaman
bagi
negara
itu
atau
sekitarnya.
[my/ab]