Taiwan
mengatakan
pada
Kamis
(12/9)
bahwa
pulau
demokratis
tersebut
tidak
akan
pernah
menyerah
meskipun
menghadapi
tekanan
yang
semakin
intens
dari
Beijing
yang
justru
semakin
agresif.

China
menganggap
Taiwan
masuk
dalam
teritori
kekuasaannya.
Beijing
menegaskan
bahwa
mereka
tidak
akan
pernah
meninggalkan
opsi
pengerahan
kekuatan
untuk
mengendalikan
pulau
yang
memiliki
pemerintahan
sendiri
itu.

Dalam
beberapa
tahun
terakhir,
Beijing
meningkatkan
tekanan
militer
dan
politik
terhadap
Taipei,
dengan
mengirimkan
pesawat
tempur,
pesawat
nirawak,
dan
kapal
angkatan
laut
ke
sekitar
pulau
itu
hampir
setiap
hari.

Kepala
Dewan
Urusan
Daratan
Taiwan,
yang
menangani
masalah
terkait
China,
Chiu
Chui-cheng,
mengatakan
pada
Kamis
(12/9)
bahwa “upaya
Beijing
untuk
menghapus
kedaulatan
Republik
China
(Taiwan)”
mengancam
perdamaian
dan
stabilitas
di
seluruh
kawasan.

Upacara penurunan bendera di Balai Peringatan Chiang Kai Shek di Taipei, Taiwan pada 12 Januari 2024. (Foto: AP)

Upacara
penurunan
bendera
di
Balai
Peringatan
Chiang
Kai
Shek
di
Taipei,
Taiwan
pada
12
Januari
2024.
(Foto:
AP)

Namun,
menghadapi “tekanan
yang
belum
pernah
terjadi
sebelumnya,”
tekad
kami
untuk
mempertahankan
kedaulatan
dan
sistem
demokrasi
kami
tidak
pernah
sekuat
ini. “Ini
adalah
tujuan
utama
kami,”
kata
Chiu
Chui-cheng
dalam
pidato
berbahasa
Inggris
di
sebuah
forum
pertahanan
di
Taipei.

“Pada
titik
ini,
tidak
ada
ruang
untuk
kompromi.
Kami
tidak
pernah
menyerah
pada
ancaman
dan
tekanan
yang
semakin
meningkat
dari
China.
Taiwan
tidak
pernah
menyerah,”
tukasnya.

Chiu
juga
memperingatkan
bahwa
kebijakan
Presiden
China,
Xi
Jinping,
terhadap
Taiwan
akan “menjadi
lebih
tegas
dan
agresif.”
Hal
tersebut
selaras
dengan
keinginan
Xi
untuk
dapat “berintegrasi ”
dengan
Taiwan.

“Ambisi
ini
tidak
diragukan
lagi
merupakan
akar
penyebab
risiko
di
Selat
Taiwan,”
katanya.

China
terus
mengerahkan
kekuatan
militer
di
sekitar
Taiwan
dan
Laut
China
Selatan,
karena
Beijing
semakin
memperkuat
klaim
teritorialnya.

Kementerian
pertahanan
Taipei
melaporkan
pada
Kamis
bahwa
dalam
rentang
waktu
24
jam
yang
berakhir
pada
Rabu
(11/9)
pukul
06.00
waktu
setempat,
terdeteksi
29
pesawat
militer
China,
delapan
kapal
angkatan
laut,
dan
satu
kapal
resmi
berada
di
sekitar
wilayah
Taiwan.

Tiga
hari
setelah
Presiden
Taiwan
Lai
Ching-te
dilantik
pada
Mei,
Beijing
menggelar
latihan
perang
untuk
mensimulasikan
blokade
pulau
tersebut.

Presiden
Lai,
yang
dianggap
Beijing
sebagai “separatis
berbahaya,”
menolak
klaim
China
atas
Taiwan,
sama
seperti
pendahulunya,
Tsai
Ing-wen.

Lai
berulang
kali
menawarkan
untuk
memulai
kembali
dialog
dengan
Beijing.
Namun
usaha
tersebut
belum
membuahkan
hasil
karena
hubungan
yang
memburuk
sejak
Tsai
berkuasa
pada
2016.

Chiu
menegaskan
pada
Kamis
(12/9)
bahwa
Taiwan
siap
berbicara
dengan
Beijing “tanpa
prasyarat
politik
apa
pun,
dengan
dasar
saling
menghormati,
bermartabat,
dan
setara.”

“Kami
berharap
para
pemimpin
dari
pihak
lain
akan
menunjukkan
kebijaksanaan
dan
fleksibilitas
untuk
mencapai
masa
depan
yang
saling
menguntungkan
bagi
kedua
belah
pihak
di
Selat
Taiwan,”
tegasnya.

[ah/rs]

Source