Warga
Jerman
akan
memberikan
suara
di
dua
negara
bagian
timur,
pada
Minggu
(1/9).
AfD,
partai
sayap
kanan,
berpotensi
memenangkan
pemilihan
negara
bagian
untuk
pertama
kalinya.
Sementara
itu,
koalisi
Kanselir
Olaf
Scholz
berisiko
kalah
telak
hanya
setahun
sebelum
pemilihan
federal.

Partai
AfD
unggul
di
negara
bagian
Thuringia
dengan
30
persen
suara
dan
bersaing
ketat
dengan
partai
konservatif
di
negara
bagian
Saxony,
dengan
perolehan
suara
antara
30
hingga
32
persen.
Jika
menang,
ini
akan
menjadi
kali
pertama
sejak
Perang
Dunia
Kedua
partai
sayap
kanan
mendapatkan
kursi
terbanyak
di
parlemen
negara
bagian
Jerman.

Meskipun
partai
yang
sudah
berusia
11
tahun
tersebut
mungkin
menang,
mereka
kemungkinan
tidak
akan
bisa
membentuk
pemerintahan
negara
bagian
karena
suaranya
kurang
dari
mayoritas
dan
partai-partai
lain
enggan
bekerja
sama.

Namun,
kehadiran
AfD
dan
partai
populis
baru
yang
kuat,
Sahra
Wagenknecht
Alliance
(BSW),
yang
dinamai
berdasarkan
pendirinya
seorang
mantan
komunis,
akan
menyulitkan
pembentukan
koalisi.

Warga mengibarkan bendera Sachsen selama acara kampanye Jerman (AfD) untuk pemilihan negara bagian Sachsen di Dresden, Jerman, 29 Agustus 2024. (Foto: REUTERS/Lisi Niesner)

Warga
mengibarkan
bendera
Sachsen
selama
acara
kampanye
Jerman
(AfD)
untuk
pemilihan
negara
bagian
Sachsen
di
Dresden,
Jerman,
29
Agustus
2024.
(Foto:
REUTERS/Lisi
Niesner)

Kedua
partai
tersebut
dikenal
sebagai
partai
yang
mengusung
anti-migrasi,
euroskeptis,
pro-Rusia,
dan
sangat
populer
di
bekas
wilayah
Timur
yang
pernah
dikuasai
Komunis.
Di
sana,
orang-orang
sangat
khawatir
tentang
krisis
biaya
hidup,
perang
Ukraina,
dan
imigrasi.

Serangkaian
insiden
penusukan
maut
yang
diduga
dilakukan
oleh
ISIS
10
hari
lalu
telah
menimbulkan
kekhawatiran
terkait
isu
imigrasi.
Hal
ini
juga
memicu
kritik
terhadap
bagaimana
pemerintah
menangani
masalah
tersebut.

“Kebebasan
kita
semakin
terancam
karena
orang-orang
yang
tidak
sesuai
kriteria
diperbolehkan
masuk
ke
negara
ini,”
kata
pemimpin
AfD
di
Thuringia,
Bjoern
Hoecke,
dalam
acara
kampanye
di
Nordhausen
pada
Kamis.

Mantan
guru
sejarah
tersebut
adalah
tokoh
kontroversial
yang
menyebut
tugu
peringatan
Holocaust
Yahudi
Eropa
di
Berlin
sebagai “monumen
memalukan.”
Ia
juga
dihukum
awal
tahun
ini
karena
menggunakan
slogan
Nazi
dalam
pertemuan
partai.

Ketiga
partai
dalam
koalisi
federal
Scholz
diperkirakan
akan
kehilangan
suara
pada
Minggu.
Partai
Hijau
dan
Partai
Demokrat
Bebas,
yang
lebih
liberal,
kemungkinan
akan
kesulitan
mencapai
ambang
batas
5
persen
untuk
masuk
ke
parlemen.

Ketidakpuasan
terhadap
pemerintah
federal
sebagian
disebabkan
oleh
fakta
bahwa
koalisi
tersebut
memiliki
ideologi
yang
sangat
berbeda
dan
sering
mengalami
pertikaian
internal.
Kekalahan
di
Timur
hanya
akan
meningkatkan
ketegangan
di
Berlin,
menurut
para
analis.

Analis
politik
mengatakan
koalisi
Scholz
kemungkinan
tidak
akan
bubar
sebelum
pemilihan
umum
federal
berikutnya
pada
September
2025,
karena
tidak
ada
mitra
koalisi
yang
berharap
mendapatkan
hasil
bagus
saat
ini.

Kanselir Jerman Olaf Scholz menyampaikan pernyataan pers di bandara internasional Cologne/Bonn di Cologne, Jerman barat pada 1 Agustus 2024. (Foto: AFP)

Kanselir
Jerman
Olaf
Scholz
menyampaikan
pernyataan
pers
di
bandara
internasional
Cologne/Bonn
di
Cologne,
Jerman
barat
pada
1
Agustus
2024.
(Foto:
AFP)

BSW,
yang
mengklaim
sebagai
konservatif
dalam
hal
sosial
dan
sayap
kiri
dalam
hal
ekonomi,
telah
mengalami
lonjakan
dukungan
yang
signifikan
sejak
didirikan
pada
Januari.
Peningkatan
ini
menimbulkan
ancaman
serius
bagi
Partai
Demokrat
Sosial
kiri-tengah
milik
Scholz.

Partai
tersebut
diperkirakan
akan
meraih
12-20
persen
suara
pada
Minggu
(1/9),
yang
dapat
menempatkannya
sebagai
kekuatan
penentu
di
kedua
negara
bagian.
Meskipun
pandangan
kebijakan
luar
negerinya
membuatnya
menjadi
mitra
yang
sulit
untuk
partai-partai
arus
utama
di
tingkat
nasional,
kemenangan
suara
tetap
menjadi
kemungkinan.

AfD
dan
BSW
diperkirakan
akan
meraih
sekitar
40-50
persen
suara
di
kedua
negara
bagian,
sementara
di
tingkat
nasional
mereka
hanya
akan
mengantongi
23-27,5
persen.
Ini
menunjukkan
kesenjangan
yang
masih
ada
antara
Timur
dan
Barat
lebih
dari
30
tahun
setelah
reunifikasi.

[ah]

Source