Nairobi
—
Polisi
anti
huru-hara
bentrok
dengan
para
pengunjuk
rasa
di
Nairobi
pada
hari
Selasa,(2/7)
ketika
kekerasan
kembali
terjadi
di
jalan-jalan
ibukota
Kenya.
Asap
gas
air
mata
mengepul
di
pusat
kota
Nairobi
setelah
para
pengunjuk
rasa
membakar
jalan-jalan
utama
di
ibukota
dan
melempari
polisi
dengan
batu
di
distrik
pusat
bisnis.
Protes-protes
ini,
yang
dimulai
sebagai
luapan
kemarahan
secara
online
atas
kenaikan
pajak
sebesar
hampir
$2,7
miliar
dalam
sebuah
rancangan
undang-undang
keuangan,
telah
berkembang
menjadi
sebuah
gerakan
nasional
melawan
korupsi
dan
salah
urus
negara.
Anggaran
2024-25
Kenya
tersebut
awalnya
ingin
memecahkan
masalah
sulit
di
negara
itu,
mengatasi
utang
negara
yang
menjulang
tinggi
sambil
melindungi
pemulihan
ekonomi
yang
rapuh.
Namun,
rencana
fiskal
yang
diumumkan
oleh
Menteri
Keuangan
Njuguna
Ndung’u
pada
tanggal
13
Juni,
telah
memicu
gerakan
yang
dipimpin
oleh
kaum
muda
yang
dengan
cepat
kemudian
berkembang
menjadi
krisis
politik
besar
bagi
pemerintahan
Presiden
William
Ruto.
Ndung’u
memuji
upaya-upaya
untuk
mengurangi
biaya
hidup
dan
memacu
kebangkitan
dari
pandemi
dan
guncangan
iklim
seperti
banjir
besar.
Namun,
anggarannya
memproyeksikan
defisit
3,3%,
turun
dari
5,7%
pada
tahun
sebelumnya,
dan
bergantung
pada
pengumpulan
dana
sebesar
$2,7
miliar
melalui
kenaikan
pajak
baru.
Warga
Nairobi
Casper
Khayeka
mengatakan, “Anggaran
ini,
menurut
saya
tidak
akan
menguntungkan
sebagian
besar
warga,
justru
akan
membawa
banyak
penderitaan
terutama
bagi
orang
biasa,
karena
semua
komoditas
dasar
akan
terpengaruh
oleh
pajak
ini
yang
sebenarnya
dinaikkan.”
Presiden
William
Ruto
telah
membatalkan
kenaikan
pajak
dalam
rancangan
undang-undang
keuangan
yang
diusulkan
itu,
namun
seruannya
untuk
berdialog
ditolak.
Partai
oposisi
Kenya,
Gerakan
Demokratik
Oranye
(ODM),
mengadakan
pertemuan
komite
pusat
pada
hari
Selasa
(7/2),
untuk
membahas
krisis
yang
sedang
berlangsung
di
negara
tersebut.
Menurut
Komisi
Nasional
Hak
Asasi
Manusia
Kenya
(KNCHR),
setidaknya
39
orang
telah
tewas
dalam
bentrokan
dengan
polisi
selama
aksi-aksi
protes
dalam
dua
minggu
terakhir.
Para
aktivis
telah
mengedarkan
seruan
untuk
melakukan
pemogokan
lebih
lanjut
dan
pembangkangan
sipil
kecuali
Ruto
mundur,
menuduhnya
gagal
melindungi
warga
Kenya.
[my/jm]
