Kimchi,
hidangan
populer
khas
Korea
Selatan,
menjadi
korban
perubahan
iklim.
Para
ilmuwan,
petani,
dan
produsen
mengatakan
kualitas
dan
kuantitas
sawi
putih
yang
diolah
menjadi
acar
itu
menurun
akibat
suhu
Bumi
yang
makin
panas.

Sayuran
jenis
sawi
putih
biasanya
tumbuh
subur
di
daerah
beriklim
dingin,
dan
biasanya
ditanam
di
daerah
pegunungan
yang
suhunya
selama
musim
panas
jarang
mencapai
di
atas
25
derajat
Celsius.

Sejumlah
studi
menunjukkan
bahwa
suhu
yang
meningkat
akibat
perubahan
iklim
kini
mengancam
kelangsungan
tanaman
tersebut.
Dengan
suhu
yang
terus
naik
dan
tidak
terkendali,
Korea
Selatan
mungkin
akan
sulit
menanam
sawi
putih
di
masa
depan.

“Kami
berharap
prediksi
ini
tidak
menjadi
kenyataan,”
kata
ahli
patologi
tanaman
dan
virologi
Lee
Young-gyu.

Para relawan membuat kimchi, sayuran tradisional untuk persiapan musim dingin di depan Balai Kota Seoul, Selasa, 16 November 2010. (Foto: AP/Ahn Young-joon)

Para
relawan
membuat
kimchi,
sayuran
tradisional
untuk
persiapan
musim
dingin
di
depan
Balai
Kota
Seoul,
Selasa,
16
November
2010.
(Foto:
AP/Ahn
Young-joon)

“Sawi
putih
tumbuh
di
iklim
dingin
dan
hanya
beradaptasi
dengan
rentang
suhu
yang
sangat
sempit,”
kata
Lee. “Suhu
optimal
adalah
antara
18
dan
21
derajat
Celsius,”
imbuhnya.

Di
ladang
maupun
di
dapur,
baik
dalam
skala
komersial
maupun
rumah
tangga,
petani
dan
pembuat
kimchi
mulai
merasakan
perubahannya.

Kimchi,
hidangan
pedas
yang
telah
difermentasi,
dapat
dibuat
dari
berbagai
sayuran
seperti
lobak,
mentimun,
dan
bawang
daun.
Namun,
jenis
kimchi
yang
paling
populer
adalah
yang
menggunakan
sawi
putih.

Lee
Ha-yeon,
yang
menyandang
gelar
Master
Kimchi
dari
Kementerian
Pertanian
Korea
Selatan,
menjelaskan
dampak
suhu
yang
lebih
tinggi
pada
sayuran
tersebut.
Ia
mengatakan
suhu
tinggi
menyebabkan
inti
sawi
putih “menjadi
rusak,
dan
akarnya
menjadi
lembek.”

Karyawan Hana Financial Group membuat kimchi untuk disumbangkan kepada tetangga yang membutuhkan di kantor pusat Seoul, Korea Selatan, pada 11 November 2022. (Foto: AP/Ahn Young-joon)

Karyawan
Hana
Financial
Group
membuat
kimchi
untuk
disumbangkan
kepada
tetangga
yang
membutuhkan
di
kantor
pusat
Seoul,
Korea
Selatan,
pada
11
November
2022.
(Foto:
AP/Ahn
Young-joon)

“Jika
ini
terus
berlanjut,
maka
di
musim
panas
kita
mungkin
harus
berhenti
mengonsumsi
sawi,”
kata
Lee,
yang
gelarnya
mencerminkan
kontribusinya
terhadap
budaya
makanan
Korea
Selatan.

Data
Badan
Statistik
Korea
Selatan
menunjukkan
bahwa
luas
areal
pertanian
sawi
putih
di
wilayah
dataran
tinggi
pada
tahun
lalu
kurang
dari
setengahnya
dibandingkan
20
tahun
lalu:
3.995
hektare
dibandingkan
dengan
8.796
hektare.

Menurut
Badan
Pembangunan
Pedesaan,
sebuah
lembaga
kajian
pertanian
di
tingkat
negara
bagian,
skenario
perubahan
iklim
memproyeksikan
area
pertanian
akan
menyusut
drastis
dalam
25
tahun
ke
depan
menjadi
hanya
44
hektare.
Ini
artinya,
tidak
ada
lagi
sawi
putih
yang
dapat
ditanam
di
daerah
dataran
tinggi
pada
2090.

Para
peneliti
menyebutkan
suhu
yang
lebih
tinggi,
hujan
lebat
yang
tidak
dapat
diprediksi,
dan
hama
yang
semakin
sulit
dikendalikan
pada
musim
panas
yang
lebih
hangat
dan
panjang,
menjadi
penyebab
utama
merosotnya
hasil
panen.

Infeksi
jamur
yang
membuat
tanaman
layu
juga
sangat
menyusahkan
bagi
para
petani
karena
baru
terlihat
jelas
saat
menjelang
masa
panen
sawi.

Perubahan
iklim
menambah
tantangan
bagi
industri
kimchi
Korea
Selatan,
yang
saat
ini
sedang
berjuang
melawan
kimchi
impor
murah
dari
China,
yang
banyak
digunakan
di
berbagai
restoran.

Data
bea
cukai
yang
dirilis
pada
Senin
(2/9)
menunjukkan
impor
kimchi
hingga
akhir
Juli
naik
6,9
persen
menjadi
$98,5
juta,
atau
sekitar
Rp1,53
triliun
pada
tahun
ini.
Hampir
semuanya
merupakan
kimchi
asal
China
dan
merupakan
angka
yang
tertinggi
selama
periode
tersebut.

Sejauh
ini,
pemerintah
Korea
Selatan
mengandalkan
fasilitas
penyimpanan
yang
dapat
mengatur
suhu
untuk
mencegah
lonjakan
harga
dan
kekurangan
pasokan.
Para
ilmuwan
juga
berlomba-lomba
mengembangkan
jenis-jenis
tanaman
yang
dapat
tumbuh
di
iklim
yang
lebih
hangat
dan
lebih
tahan
terhadap
fluktuasi
besar
dalam
curah
hujan
dan
infeksi.

Berbagai rasa Kimchi Korea dipajang dalam pendingin di toko kelontong Asia Super H Mart di AS, 20 Juli 2015. (Foto: AP/Cliff Owen)

Berbagai
rasa
Kimchi
Korea
dipajang
dalam
pendingin
di
toko
kelontong
Asia
Super
H
Mart
di
AS,
20
Juli
2015.
(Foto:
AP/Cliff
Owen)

Namun,
petani
seperti
Kim
Si-gap,
khawatir
bahwa
jenis
sawi
putih
tersebut
akan
menjadi
lebih
mahal
untuk
ditanam
dan
kemungkinan
juga
akan
memiliki
rasa
yang
kurang
enak.
Pria
berusia
berusia
71
tahun
itu
telah
bekerja
di
ladang
sawi
putih
di
wilayah
timur
Gangneung
sepanjang
hidupnya,

“Ketika
kami
melihat
adanya
laporan
bahwa
akan
tiba
saatnya
kami
tidak
dapat
lagi
menanam
sawi
putih
di
Korea,
rasanya
mengejutkan
di
satu
sisi
dan
juga
menyedihkan
pada
saat
yang
sama,”
kata
Kim.

“Kimchi
adalah
sesuatu
yang
tidak
boleh
tidak
ada
di
meja
makan.
Apa
yang
akan
kita
lakukan
jika
hal
ini
terjadi?”
tukasnya.

[rz/ah]

Source