Pemimpin
Korea
Utara
Kim
Jong
Un
menyatakan
bahwa
sistem
rudal
hipersonik
baru
yang
diuji
minggu
ini
akan
berfungsi
untuk
menghalangi
negara-negara
pesaing
di
kawasan
Pasifik.
Pernyataan
itu
disampaikan
pada
Selasa
(7/1),
ketika
Menteri
Luar
Negeri
Amerika
Serikat
Antony
Blinken
sedang
berkunjung
ke
Korea
Selatan.
Uji
coba
tersebut
dilakukan
dua
minggu
sebelum
pelantikan
presiden
terpilih
Amerika
Serikat,
Donald
Trump,
yang
sebelumnya
berusaha
merayu
Korea
Utara.
“Sistem
rudal
hipersonik
ini
akan
menjadi
andalan
dalam
menghalangi
setiap
pesaing
di
wilayah
Pasifik
yang
dapat
mengancam
keamanan
negara
kita,”
kata
Kim,
yang
memimpin
peluncuran
tersebut,
dalam
pernyataan
yang
disiarkan
oleh
Kantor
Berita
Pusat
Korea
KCNA
pada
Selasa
(7/1).
KCNA
mengutip
penggunaan “senyawa
baru
dari
serat
karbon”
dalam
mesin
rudal
tersebut,
yang
menurut
para
ahli
dapat
memungkinkan
Pyongyang
untuk
menyerang
target
yang
lebih
jauh
dengan
menggunakan
teknologi
yang
saat
ini
hanya
dimiliki
oleh
Amerika
Serikat,
Rusia,
dan
China.
Peluncuran
itu
juga
menggunakan “metode
baru
yang
komprehensif
dan
efektif”
untuk
sistem
kendali
penerbangan
dan
pemandunya,
kata
KCNA.
Pada
Senin
(6/1),
Blinken
mengunjungi
sekutu
strategis
Korea
Selatan,
yang
merupakan
pesaing
utama
Korea
Utara
dan
secara
teknis
masih
berperang
dengannya.
Blinken
yang
kini
berada
di
Tokyo,
diharapkan
untuk
membahas
isu-isu
terkait
Pyongyang
dalam
pembicaraan
dengan
Jepang.
Peluncuran
tersebut
merupakan
yang
pertama
bagi
Korea
Utara
sejak
November,
ketika
negara
tersebut
menguji
coba
apa
yang
disebutnya
sebagai
rudal
balistik
antarbenua
(ICBM)
berbahan
bakar
padat
yang
paling
canggih
dan
kuat.
Kim
menyatakan
dalam
sebuah
pernyataan
bahwa
rudal
yang
diluncurkan
pada
Senin
(6/1)
itu
dapat
terbang
sejauh
1.500
kilometer,
melampaui
jarak
1.100
kilometer
yang
diberikan
oleh
militer
Korea
Selatan,
dan
melaju
dengan
kecepatan
12
kali
kecepatan
suara
sebelum
jatuh
ke
lautan.
“Ini
jelas
merupakan
rencana
dan
upaya
untuk
membela
diri,
bukan
rencana
dan
tindakan
ofensif,”
kata
Kim.
Namun,
ia
menambahkan
bahwa
kinerja
rudal
tersebut “tidak
dapat
diabaikan
di
seluruh
dunia,”
sambil
menyatakan
bahwa
rudal
itu
mampu “melakukan
serangan
militer
serius
terhadap
lawan
dan
secara
efektif
menghancurkan
penghalang
pertahanan
yang
rapat.”
“Pengembangan
kemampuan
pertahanan
DPRK
yang
bertujuan
menjadi
kekuatan
militer
akan
semakin
dipercepat,”
kata
Kim,
merujuk
pada
akronim
nama
resmi
Korea
Utara.
Peluncuran
tersebut
merupakan
pesan
kepada
Amerika
Serikat
untuk
terlibat
dalam
dialog,
berdasarkan
teknologi
baru
Pyongyang
yang
mengubah
permainan,
saat
Trump
bersiap
memasuki
Gedung
Putih,
kata
para
analis.
“Ini
mengirimkan
pesan
yang
jelas
kepada
pemerintahan
Trump,
yang
menunjukkan
bahwa
untuk
terlibat
dalam
dialog,
posisi
strategis
Korea
Utara
harus
diakui,”
kata
Hong
Min,
seorang
analis
senior
di
Institut
Korea
untuk
Penyatuan
Nasional,
kepada
AFP.
Putri
Kim
Gambar
yang
dirilis
oleh
KCNA
menunjukkan
Kim
mengamati
peluncuran
tersebut
bersama
putrinya
yang
masih
berusia
remaja,
Ju
Ae,
di
lokasi
yang
dirahasiakan.
Lokasi
uji
coba
juga
tidak
diungkapkan.
Namun,
gambar-gambar
yang
ada
menunjukkan
peluncuran
rudal
dilakukan
dari
sebuah
area
terpencil
yang
dikelilingi
air
di
kedua
sisi
dan
pepohonan
yang
gundul
akibat
musim
dingin.
Para
analis
mengatakan
bahwa
peluncuran
rudal
baru
itu
mengkhawatirkan
karena
melibatkan
teknologi
yang
hanya
dapat
diakses
oleh
sejumlah
negara.
“Yang
paling
mengesankan
dari
teknologi
ini
adalah…
untuk
mencapai
kecepatan
seperti
itu,
diperlukan
bahan-bahan
yang
dapat
bertahan
dalam
kondisi
ekstrem,”
kata
Yang
Moo-jin,
Presiden
Universitas
Studi
Korea
Utara
di
Seoul.
Jika
berhasil,
peluncuran
tersebut
berarti
Korea
Utara
dapat
menguji
jangkauan
yang
lebih
jauh
dan,
jika
mencapai
antara
3.000
hingga
5.000
kilometer, “itu
dapat
mengancam
tidak
hanya
pasukan
Amerika
di
Jepang,
tetapi
juga
target
yang
lebih
jauh,”
kata
Yang.
Blinken
mengutuk
peluncuran
tersebut
dan
mengatakan
bahwa
Pyongyang “sudah
menerima
peralatan
dan
pelatihan
militer
dari
Rusia,”
serta
memperingatkan
bahwa
Moskow
berniat
untuk
berbagi
teknologi
antariksa
dan
satelit
canggih
dengan
sekutunya
tersebut.
Penjabat
presiden
Korea
Selatan,
Choi
Sang-mok,
mengkritik
peluncuran
Pyongyang
dalam
rapat
kabinet
pada
Selasa,
menyebutnya
sebagai “provokasi”
dan “ancaman
serius
bagi
keamanan
di
Semenanjung
Korea.”
Lee
Sung-joon,
juru
bicara
Kepala
Staf
Gabungan
Korea
Selatan,
mengatakan
beberapa
rincian
peluncuran
yang
dibagikan
oleh
Korea
Utara,
seperti
jangkauan
terbang
rudal,
tidak
akurat.
“Korea
Utara
sangat
ahli
dalam
propaganda,
agitasi,
dan
penipuan.
Korea
Utara
sering
membuat
klaim
dan
pengumuman
yang
bombastis,”
katanya
pada
Selasa.
[ah/rs]

