
Israel
pada
Jumat
(3/1)
membela
aksinya
yang
melakukan
penyerangan
terhadap
rumah
sakit
di
Gaza
utara
pada
pekan
lalu.
Namun,
kepala
HAM
PBB
menyebut
alasan
Israel
tak
berdasar,
sementara
WHO
mendesak
Israel
membebaskan
direktur
rumah
sakit
yang
ditahan.
Duta
Besar
Israel
untuk
PBB
di
Jenewa,
Daniel
Meron,
memposting
surat
yang
dikirimnya
pada
Jumat
kepada
Organisasi
Kesehatan
Dunia,
WHO,
dan
Volker
Turk,
pejabat
HAM
PBB.
Dalam
surat
itu,
ia
menyatakan
bahwa
penggerebekan
di
Rumah
Sakit
Kamal
Adwan
seminggu
sebelumnya “berdasarkan
bukti
tak
terbantahkan”
bahwa
rumah
sakit
tersebut
digunakan
oleh
Hamas
dan
militan
Jihad
Islam
Palestina.
Ia
menyatakan
bahwa
pasukan
Israel
mengambil “langkah
luar
biasa
untuk
melindungi
warga
sipil
sambil
bertindak
berdasarkan
intelijen
yang
kredibel.”
Turk
mengatakan
kepada
Dewan
Keamanan
PBB
pada
Jumat
bahwa
Israel
belum “membuktikan
banyak
klaim
ini,
yang
seringkali
kabur
dan
umum.
Bahkan,
beberapa
klaim
tampaknya
bertentangan
dengan
informasi
yang
tersedia
untuk
umum.
“Saya
menyerukan
penyelidikan
yang
independen,
menyeluruh,
dan
transparan
terhadap
semua
serangan
Israel
terhadap
rumah
sakit,
infrastruktur
perawatan
kesehatan,
dan
personel
medis,
serta
dugaan
penyalahgunaan
fasilitas
tersebut,”
katanya
kepada
badan
yang
beranggotakan
15
orang
tersebut.
Wakil
Duta
Besar
Israel
untuk
PBB,
Jonathan
Miller,
menyatakan
bahwa
lebih
dari “240
teroris
ditangkap,
termasuk
15
orang
yang
terlibat
dalam
pembantaian
7
Oktober”
di
Israel
selatan
pada
2023,
yang
memicu
perang
di
Jalur
Gaza.
Direktur
rumah
sakit,
Hussam
Abu
Safiya,
juga
ditahan
dalam
penggerebekan
itu.
“Kami
menduga
dia
sebagai
anggota
Hamas
karena
ratusan
teroris
Hamas
dan
Jihad
Islam
bersembunyi
di
dalam
Rumah
Sakit
Kamal
Adwan
di
bawah
manajemennya.
Dia
saat
ini
sedang
diselidiki
oleh
pasukan
keamanan
Israel,”
kata
Miller.
WHO
sangat
khawatir
tentang
nasib
Abu
Safiya,
kata
perwakilan
WHO
Richard
Peeperkorn.
Ia
menambahkan, “Kami
telah
kehilangan
kontak
dengannya
sejak
itu
dan
menyerukan
pembebasannya
segera.”
Amerika
Serikat
sedang
mengumpulkan
informasi
terkait
Abu
Safiya,
Wakil
Duta
Besar
AS
untuk
PBB
Dorothy
Shea
mengatakan
kepada
Dewan
Keamanan.
Utusan
Palestina
untuk
PBB,
Riyad
Mansour,
terisak
mengenang
kata-kata
Mahmoud
Abu
Nujaila,
dokter
dari
Médecins
sans
Frontières
di
Rumah
Sakit
Al
Awda,
Gaza,
yang
ia
tulis
sebelum
tewas
dalam
serangan
pada
November
2023.
Mansour
mengatakan
bahwa
Nujaila
menulis
di
papan
tulis
rumah
sakit
yang
digunakan
untuk
merencanakan
operasi: “Siapa
pun
yang
bertahan
sampai
akhir,
akan
menceritakan
kisahnya.
Kami
telah
melakukan
apa
yang
kami
bisa.
Ingatlah
kami.”
[ah]