Wakil
Presiden
Bank
Sentral
Eropa
menyatakan
pada
Senin
(18/11)
bahwa
rencana
pengeluaran
Presiden
terpilih
Donald
Trump
berpotensi
memperburuk
defisit
anggaran
Amerika
serikat
dan
membuat
pasar
khawatir.

Luis
de
Guindos
mengatakan
dalam
sebuah
konferensi
perbankan
di
Frankfurt
bahwa
Amerika
Serikat
saat
ini
sudah
memiliki
rasio
utang
publik
hampir
100
persen
dari
produk
domestik
bruto
(PDB),
dengan
defisit
pengeluaran
mendekati
tujuh
persen.

“Presiden
terpilih
(Trump)
berjanji
untuk
mengurangi
pajak
dan
mungkin
tidak
memangkas
pengeluaran
publik,”
kata
de
Guindos.

Rencana
tersebut
dapat
menyebabkan
defisit
meningkat
dan “menimbulkan
kekhawatiran
di
pasar,”
kata
de
Guindos.

Sejak
berhasil
menang
dengan
gemilang
dalam
pemilihan
presiden
pada
awal
bulan
ini,
Trump
belum
mengumumkan
sosok
yang
akan
menjadi
menteri
keuangan
dalam
kabinetnya.

Namun,
ia
telah
menunjuk
orang
terkaya
di
dunia,
Elon
Musk,
dan
pengusaha
Vivek
Ramaswamy
untuk
memimpin
departemen
efisiensi
pemerintah
yang
baru
dibentuk.

Trump
meminta
kedua
tokoh
tersebut
untuk
memangkas
birokrasi
dan “pengeluaran
yang
tidak
efisien.”
Musk
sendiri
berjanji
akan
memangkas
anggaran
federal
sebesar
$2
triliun.

Selain
rencana
pengeluaran
Trump,
program
kenaikan
tarifnya
juga
menimbulkan
kekhawatiran
di
Eropa.
Para
petinggi
khawatir
tarif
impor
yang
lebih
tinggi
bisa
memperlambat
perdagangan
dan
membebani
perekonomian.

“Prospek
pertumbuhan
terhalang
oleh
ketidakpastian
mengenai
kebijakan
ekonomi
dan
situasi
geopolitik,
baik
di
kawasan
euro
maupun
secara
global,”
kata
de
Guindos.

“Ketegangan
perdagangan
dapat
meningkat
lebih
jauh,”
dengan
risiko
yang
diakibatkannya
bagi
aktivitas
ekonomi,”
imbuhnya.

Konteks
ini
semakin
memperburuk “masalah
struktural
seperti
rendahnya
produktivitas
dan
potensi
pertumbuhan
kawasan
euro
yang
lemah,”
tambahnya.

Karena
inflasi
di
zona
euro
telah
mereda
kembali
ke
target
dua
persen,
bank
sentral
mulai
menurunkan
suku
bunga.

[ah/es]

Source