
Pemerintahan
Presiden
Joe
Biden
mengatakan
bahwa
Amerika
Serikat
akan
mengakui
dan
mendukung
pemerintahan
baru
Suriah
yang
meninggalkan
terorisme,
menghancurkan
persediaan
senjata
kimia,
dan
melindungi
hak-hak
kaum
minoritas
dan
perempuan.
Menteri
Luar
Negeri
Antony
Blinken
dalam
sebuah
pernyataan
pada
Selasa
(10/12)
mengatakan
AS
akan
bekerja
sama
dengan
kelompok-kelompok
di
Suriah
dan
mitra-mitra
regional
untuk
memastikan
bahwa
transisi
dari
pemerintahan
Presiden
Bashar
al-Assad
yang
digulingkan
berjalan
dengan
lancar.
Ia
tidak
menyebutkan
secara
spesifik
kelompok-kelompok
mana
saja
yang
akan
bekerja
sama
dengan
AS.
Juru
Bicara
Departemen
Luar
Negeri
AS
Matthew
Miller
kepada
para
wartawan
mengatakan
bahwa
AS
mendukung
transisi
politik
“yang
mengarah
pada
pemerintahan
yang
kredibel,
inklusif
dan
non-sektarian.”
“Menghormati
hak-hak
minoritas,
memfasilitasi
bantuan
kemanusiaan,
mencegah
Suriah
digunakan
sebagai
basis
terorisme,
atau
menjadi
ancaman
bagi
negara-negara
tetangganya,”
kata
Miller.
“Mengamankan
dan
menghancurkan
dengan
aman
setiap
persediaan
senjata
kimia,”
tambahnya.
Departemen
Luar
Negeri
AS
mengatakan
bahwa
rakyat
Suriah
harus
memutuskan
masa
depan
mereka
dan
bahwa
negara-negara
lain
harus
“mendukung
proses
yang
inklusif
dan
transparan”
dan
tidak
ikut
campur.
“Sejauh
ini,
Hay’at
Tahrir
al-Sham
(HTS)
menggunakan
kata-kata
yang
tepat,
tetapi
kita
tentu
saja
akan
menilai
mereka
bukan
dari
kata-kata
itu,
tetapi
dari
tindakan
mereka
dalam
beberapa
hari
ke
depan,
beberapa
minggu
ke
depan,
beberapa
bulan
ke
depan,”
ujar
Miller.
Di
sisi
lain,
Miller
mengatakan
bahwa
AS
tetap
yakin
bahwa
jurnalis
Amerika
yang
hilang,
Austin
Tice,
masih
hidup
sejak
ditangkap
di
Suriah
lebih
dari
satu
dekade
lalu.
“Kami
terus
menjelaskan
dalam
semua
percakapan
kita,
baik
dengan
pihak-pihak
yang
berada
di
lapangan
di
Suriah,
maupun
dengan
pihak-pihak
yang
mungkin
berkomunikasi
dengan
pihak-pihak
yang
berada
di
lapangan
di
Suriah,
bahwa
kita
tidak
memiliki
prioritas
yang
lebih
tinggi
daripada
kembalinya
Austin
Tice
dengan
selamat
kepada
keluarganya.”
Pemerintahan
Biden
juga
telah
mengisyaratkan
persetujuannya
atas
serangan
Israel
terhadap
militer
Suriah
dan
target-target
yang
diduga
menggunakan
senjata
kimia
serta
perebutan
zona
penyangga
di
Dataran
Tinggi
Golan,
Suriah,
setelah
jatuhnya
pemerintahan
Assad.
Israel
mengatakan
pihaknya
telah
membom
lebih
dari
350
lokasi
militer
di
Suriah
dalam
48
jam
sebelumnya,
dengan
menargetkan
“sebagian
besar
persediaan
senjata
strategis”
di
negara
tersebut.
Perdana
Menteri
Israel
Benjamin
Netanyahu
mengatakan
bahwa
gelombang
serangan
tersebut
diperlukan
untuk
menjaga
agar
senjata-senjata
tersebut
tidak
digunakan
untuk
melawan
Israel
setelah
keruntuhan
pemerintah
Suriah.
Israel
juga
mengakui
bahwa
pasukannya
telah
mendesak
masuk
ke
zona
penyangga
perbatasan
di
dalam
Suriah,
yang
didirikan
setelah
perang
Timur
Tengah
tahun
1973.
Namun,
Israel
membantah
bahwa
pasukannya
bergerak
maju
pada
hari
Selasa
menuju
ibu
kota
Suriah,
Damaskus.
“Pada
akhirnya,
kita
ingin
melihat
perjanjian
tahun
1974
ditegakkan,”
kata
Miller.
[my/ab]