Sanksi
tersebut
menarget
jaringan
internasional
itu
karena
“memfasilitasi
pengiriman
jutaan
barel
minyak
mentah
Iran
dengan
nilai
ratusan
juta
dolar
ke
Republik
Rakyat
China,”
tulis
Departemen
Keuangan
Amerika
Serikat
dalam
sebuah
pernyataan.

Minyak
tersebut
dikirim
atas
nama
Staf
Umum
Angkatan
Bersenjata
Iran
dan
perusahaan
kedok
yang
dikenai
sanksi
bernama
Sepehr
Energy
Jahan
Nama
Pars,
kata
Departemen
Keuangan
itu.

“Rezim
Iran
tetap
fokus
pada
pemanfaatan
pendapatan
minyaknya
untuk
mendanai
pengembangan
program
nuklirnya,
untuk
memproduksi
rudal
balistik
yang
mematikan,
dan
untuk
mendukung
kelompok-kelompok
proksi
teroris
regionalnya,”
kata
Menteri
Keuangan
Scott
Bessent.

“Amerika
Serikat
berkomitmen
untuk
secara
agresif
menarget
setiap
upaya
Iran
untuk
mendapatkan
pendanaan
bagi
kegiatan
jahat
ini,”
tambahnya.

Tindakan
Departemen
Keuangan
tersebut
menyusul
keputusan
Presiden
Trump
baru-baru
ini
untuk
memberlakukan
kembali
apa
yang
disebutnya
sebagai
kampanye
“tekanan
maksimum”
terhadap
Iran
karena
tuduhan
bahwa
negara
itu
mencoba
mengembangkan
senjata
nuklir.

Trump
menandatangani
memorandum
pada
hari
Selasa(4/2)
yang
memberlakukan
kembali
kebijakan
sanksi
yang
keras
terhadap
Iran,
serupa
dengan
yang
dikenakannya
selama
masa
jabatan
pertamanya,
seraya
menambahkan
bahwa
ia
berharap
ia
tidak
“harus
menggunakannya
terlalu
sering.”

Memorandum
tersebut
menginstruksikan
setiap
departemen
di
pemerintahan
Amerika
Serikat
untuk
merancang
sanksi
terhadap
Iran,
terutama
yang
terkait
dengan
aktivitas
nuklir,
kata
seorang
ajudan
Gedung
Putih
ketika
memberi
tahu
Trump
pada
upacara
penandatanganan
tersebut.

[lt/ab]

Source