VOA
—
Menteri
Pertahanan
Amerika
Serikat,
Lloyd
Austin
melakukan
peletakan
batu
pertama
di
Filipina,
untuk
membangun
pusat
koordinasi
militer
kedua
sekutu
tersebut.
Austin
mengatakan,
komitmen
Amerika
bagi
Filipina
‘sangat
kuat’
dan
aliansi
ini
akan
melampaui
perubahan
yang
terjadi
dalam
pemerintahan
kepresidenan
di
Amerika
Serikat.
“Ini
adalah
negara
yang
penting,
tidak
hanya
untuk
saya,
tetapi
bagi
kedua
partai
di
Amerika
Serikat,”
kata
dia.
Austin
dan
mitranya
dari
Filipina
menandatangani
perjanjian
militer
baru
yang
memungkinkan
kedua
negara
berbagi
informasi
militer
rahasia
secara
aman.
Kedua
negara
juga
tetap
berkomitmen
terhadap
Perjanjian
Pertahanan
Bersama
yang
ditandatangani
pada
1950,
dimana
keduanya
setuju
memberikan
respons
bersama,
jika
salah
satunya
diserang
negara
lain.
“Perjanjian
Pertahanan
Bersama
berlaku
untuk
serangan
bersenjata
terhadap
setiap
pasukan
bersenjata
kita,
pesawat
terbang
atau
kapal
umum,
termasuk
penjaga
pantai
dimanapun
di
Laut
China
Selatan,”
tambahnya.
Sebuah
pesan
yang
jelas
kepada
China,
yang
penjaga
pantainya
menggunakan
meriam
air
untuk
menyerang
kapal-kapal
Filipina
dan
bertabrakan
dengan
kapal
penjaga
pantai
Filipina,
dimana
ada
jurnalis
asal
Amerika
di
atasnya.
China
membantah
tuduhan
terakhir
itu,
dan
menyalahkan
kapal-kapal
Filipina
atas
tabrakan
tersebut.
Mark
Montgomery,
pakar
senior
di
Yayasan
untuk
Pertahanan
Demokrasi,
mengatakan,
“China
adalah
ancaman
nyata
dan
serius
bagi
Filipina,
dan
Filipina
memahami
bahwa
Amerika
Serikat
adalah
pilihan
yang
tepat
sebagai
mitra
ekonomi
dan
keamanan,”
papar
dia.
Beberapa
pihak
memandang
kerja
sama
Amerika
Serikat-Filipina
yang
diintensifkan
sebagai
langkah
balasan
langsung
terhadap
manuver
maritim
China,
yang
menghalangi
akses
bagi
perahu-perahu
Filipina
untuk
masuk
ke
zona
ekonomi
eksklusif
Filipina
sendiri.
Gilberto
Teodoroc
Sekretaris
Pertahanan
Nasional,
Filipina,
mengatakan,
“Kapal
militer
palsu
menyamar
sebagai
kapal
Penjaga
Pantai
dan
kapal
milisi
maritim
di
kawasan
laut
Filipina
Barat.
Mereka
sangat
agresif
dalam
operasi
informasi
melawan
Filipina,”
kata
Teodoro.
China
merespons
peningkatan
kerja
sama
Amerika
Serikat-Filipina
ini
dengan
mengatakan
bahwa
seharusnya
tidak
ada
perjanjian
militer
yang
menyasar
pihak
ketiga,
atau
memperburuk
ketegangan
regional.
[ns/jm]
