Jakarta
(ANTARA)

Keterlibatan
Amerika
Serikat
(AS)
dalam
berbagai
konflik
bersenjata
di
dunia
kerap
menimbulkan
pertanyaan
mendasar:
mengapa
negara
adidaya
tersebut
seolah
tak
pernah
absen
dalam
setiap
gejolak
besar
yang
terjadi,
baik
di
Timur
Tengah
maupun
wilayah
lainnya?

Pertanyaan
ini
kembali
mencuat
setelah
serangan
militer
AS
terhadap
tiga
fasilitas
nuklir
Iran
pada
Sabtu
(21/6)
malam
di
Natanz,
Fordow,
dan
Isfahan.
Serangan
tersebut
diklaim
oleh
Presiden
Donald
Trump
sebagai
upaya
untuk
membatasi
kemampuan
nuklir
Iran
dan
memaksa
negara
itu
mengakhiri
“perang
12
hari”
dengan
Israel.
Meski
AS
telah
menginformasikan
bahwa
serangan
hanya
dilakukan
sekali
dan
bukan
awal
dari
perang
besar,
banyak
pihak
melihat
keterlibatan
tersebut
sebagai
bagian
dari
pola
intervensi
militer
yang
sudah
berlangsung
lama.

Sejak
berakhirnya
Perang
Dunia
II,
AS
tercatat
hampir
selalu
terlibat
dalam
konflik
bersenjata
di
berbagai
belahan
dunia.
Mulai
dari
Korea,
Vietnam,
Irak,
Afghanistan,
hingga
kini
Iran
dan
Ukraina.
Namun,
tidak
satu
pun
dari
konflik
tersebut
menghasilkan
kemenangan
yang
jelas
dan
tuntas
bagi
AS,
kendati
negara
itu
memiliki
angkatan
bersenjata
paling
canggih
dan
terlatih
di
dunia.

Sebuah
diskusi
di
Akademi
Militer
AS
West
Point
yang
dilaporkan
oleh

Harper’s
Magazine

mengungkapkan
pandangan
para
veteran
militer
atas
kecenderungan
AS
yang
terus
menerus
berperang.
Beberapa
peserta
menyebutkan
bahwa
sistem
militer
sukarela,
kepentingan
politik
dalam
mendukung
pasukan,
dan
ketidaktahuan
publik
terhadap
anggaran
pertahanan
turut
berperan
dalam
siklus
perang
yang
berulang.



Baca
juga:

Aktivis
AS
sebut
NATO
pemicu
utama
konflik
global

Veteran
Danny
Sjursen
menyebut
bahwa
jika
militer
AS
masih
berbasis
wajib
militer
seperti
saat
Perang
Vietnam,
maka
akan
sulit
bagi
pemerintah
untuk
terus
memperpanjang
perang.
Sementara
itu,
Gregory
Daddis
menambahkan
bahwa
bagi
sebagian
anak
muda
dari
kelas
ekonomi
menengah
ke
bawah,
menjadi
tentara
merupakan
satu-satunya
jalan
untuk
memperoleh
pengakuan
sosial
dan
stabilitas
ekonomi.

Namun
alasan
yang
lebih
mendalam
dari
keterlibatan
AS
dalam
banyak
perang
adalah
kekuatan
industri
militer
itu
sendiri.
Sejumlah
analis
menilai
bahwa
kompleks
industri
pertahanan
AS,
yang
terdiri
dari
perusahaan-perusahaan
besar
produsen
senjata,
memiliki
peran
besar
dalam
mendorong
kebijakan
luar
negeri
yang
agresif.

Pemerintah
AS
mengalokasikan
anggaran
pertahanan
sebesar
886
miliar
dolar
AS
pada
tahun
fiskal
2025—angka
yang
empat
kali
lipat
lebih
besar
dibandingkan
Tiongkok
dan
10
kali
lipat
dari
Rusia.
Anggaran
ini
sebagian
besar
dinikmati
oleh
perusahaan
seperti
Lockheed
Martin,
Boeing,
Raytheon,
dan
General
Dynamics.

Perusahaan-perusahaan
ini
disebut-sebut
mendapatkan
keuntungan
besar
dari
perang
dan
instabilitas
global.
Mereka
memproduksi
alat
perang
yang
dirancang
untuk
digunakan,
bukan
disimpan.
Dengan
demikian,
perdamaian
global
bukanlah
hal
yang
menguntungkan
bagi
industri
tersebut.



Baca
juga:

Iran
ingin
perkuat
hubungan
dengan
Qatar
usai
serangan
ke
pangkalan
AS

Dalam
pidatonya
tahun
1963,
Presiden
Dwight
D.
Eisenhower
yang
juga
mantan
jenderal
Perang
Dunia
II
pernah
memperingatkan, “Setiap
senjata
yang
dibuat,
setiap
kapal
perang
yang
diluncurkan,
dan
setiap
roket
yang
ditembakkan
adalah
pencurian
terhadap
mereka
yang
lapar
dan
tidak
diberi
makan.”

Buku

The
United
States
of
War

karya
David
Vine
juga
menunjukkan
bahwa
sejak
masa
kolonial,
AS
telah
menempuh
jalur
ekspansi
militer
yang
konsisten.
Dengan
lebih
dari
800
pangkalan
militer
di
lebih
dari
70
negara,
struktur
ini
menciptakan
kondisi
ideal
bagi
intervensi
militer
AS
di
mana
pun
dan
kapan
pun.

Vine
berargumen
bahwa
militerisme
telah
menjadi
bagian
dari
kehidupan
sehari-hari
warga
AS
dan
turut
membentuk
budaya
politik
negeri
tersebut,
termasuk
dalam
pengambilan
keputusan
kebijakan
luar
negeri.

Keterlibatan
AS
dalam
konflik
global
tidak
semata-mata
dipicu
oleh
kepentingan
moral
atau
keamanan
internasional,
melainkan
merupakan
perpaduan
dari
faktor
ekonomi,
politik,
dan
militer
yang
sangat
kompleks.
Dalam
sistem
yang
terus
menggulirkan
roda
perang
demi
keuntungan
segelintir
pihak,
dunia
pun
tetap
berada
dalam
bayang-bayang
konflik
tanpa
akhir.

Sebagaimana
diungkapkan
dalam
peringatan
Eisenhower
lebih
dari
60
tahun
lalu, “Di
bawah
bayang-bayang
ancaman
perang,
umat
manusia
tergantung
pada
salib
besi.”



Baca
juga:

Iran
siap
atasi
perselisihan
dengan
AS
dalam
kerangka
internasional

Pewarta:
Raihan
Fadilah
Editor:
Suryanto
Copyright
©
ANTARA
2025

Dilarang
keras
mengambil
konten,
melakukan
crawling
atau
pengindeksan
otomatis
untuk
AI
di
situs
web
ini
tanpa
izin
tertulis
dari
Kantor
Berita
ANTARA.

Source