
RRC
kini
diganti
dengan
China.
Itu
adalah
salah
satu
perubahan
signifikan
pada
lembar
fakta
daring
Departemen
Luar
Negeri
AS
tentang
China,
yang
menghapus
nama
resmi
negara
itu,
Republik
Rakyat
China
(RRC),
dan
menggantinya
dengan
China
saja.
Pemerintahan
mantan
Presiden
Joe
Biden
secara
rutin
merujuk
pemerintah
Beijing
dengan
singkatan
RRC.
Sejak
mantan
Presiden
Richard
Nixon
menormalisasi
hubungan
dengan
Beijing
—
mengakhiri
pengakuan
terhadap
pemerintah
di
Taipei,
yang
secara
resmi
dikenal
sebagai
Republik
China
—
Amerika
Serikat
telah
mempertahankan
hubungan
diplomatik
dengan
pemerintah
yang
dijalankan
komunis
di
China
daratan,
selagi
mengurangi
hubungan
dengan
Taiwan
menjadi
hubungan
yang
tidak
resmi
tetapi
bersahabat.
“Taipei
seharusnya
merasa
terhibur
dengan
kenyataan
bahwa
perubahan
istilah
[dari
RRCT
menjadi
China]
tidak
mencerminkan
perubahan
kebijakan
di
Amerika
Serikat.
Faktanya
adalah
bahwa
AS
masih
memiliki
‘Kebijakan
Satu
China,’
dan
di
bawah
kebijakan
itu,
AS
mempertahankan
hubungan
diplomatik
dengan
Beijing
dan
hubungan
tidak
resmi
yang
kuat
dengan
Taipei,”
kata
Russell
Hsiao,
direktur
eksekutif
Global
Taiwan
Institute,
kepada
VOA.
“Sejak
1979,
Washington
telah
mengakui
pemerintah
di
Beijing
sebagai
Republik
Rakyat
China
sebagai
satu-satunya
pemerintahan
sah
China,
jadi
perubahan
istilah
tersebut
pada
dasarnya
merupakan
cara
berbeda
untuk
menyajikan
serangkaian
fakta
yang
sama,
yang
semuanya
tidak
berubah,”
kata
Hsiao.
China
menganggap
Taiwan
sebagai
provinsi
nakal.
Pasukan
nasionalis,
yang
didukung
oleh
Amerika
Serikat
dan
dipimpin
oleh
Chiang
Kai-shek,
melarikan
diri
dari
China
daratan
ke
Taiwan
pada
tahun
1949
setelah
kalah
dalam
perang
saudara
dengan
pasukan
komunis
yang
dipimpin
oleh
Mao
Zedong.
Chiang
menjadi
diktator
Taiwan
yang
relatif
jinak
hingga
kematiannya
pada
tahun
1975.
Mao
memerintah
China
daratan
sebagai
seorang
otoriter
yang
kaku
hingga
kematiannya
setahun
setelah
Chiang
meninggal.
Washington
terus
menyediakan
senjata
untuk
Taipei
dan
telah
membiarkan
pertanyaan
ambigu
mengenai
apakah
Amerika
Serikat
akan
menggunakan
militernya
untuk
membela
pulau
itu
jika
Taiwan
diserang.
Undang-undang
Hubungan
dengan
Taiwan
mewajibkan
Amerika
Serikat
untuk
membantu
Taiwan
mempertahankan
dirinya,
tetapi
keputusan
akhir
tentang
intervensi
militer
akan
berada
di
tangan
presiden
dan
Kongres.
Perubahan
bahasa
yang
dilakukan
minggu
lalu
oleh
Departemen
Luar
Negeri
itu
menghilangkan
referensi
bagi
Washington
yang
tidak
mendukung
kemerdekaan
Taiwan,
tetapi
tetap
mempertahankan
konten
yang
menyatakan
bahwa
Amerika
Serikat
menentang
“perubahan
sepihak
terhadap
status
quo”
oleh
China
maupun
Taiwan.
Dalam
lambar
fakta
terbaru
itu
pula,
Partai
Komunis
China
(CCP)
disalahkan
atas “kegiatan
siber
yang
berbahaya
terhadap
pemerintahan
AS,
sektor
swasta,
dan
jaringan
infrastruktur
penting.”
Dokumen
tersebut
kini
mencatat
bahwa
Amerika
Serikat
akan
berupaya
untuk
melawan
aktivitas-aktivitas
tersebut “untuk
membantu
melindungi
warga
Amerika,
tempat
usaha,
dan
industri.”
“Langkah-langkah
ini
mencerminkan
gambaran
umum
di
Washington
dan
di
dalam
pemerintahan
Trump
di
mana
keterlibatan
dengan
China
telah
gagal
dan
pendekatan
yang
lebih
tegas
perlu
dilakukan,”
ujar
Rorry
Daniels,
direktur
pelaksana
Asia
Society
Policy
Institute,
kepada
VOA.
“Kondisi
saat
ini
telah
tercipta
—
terutama
di
Kongres
AS
—
selama
bertahun-tahun,
dan
sebuah
perubahan
penekanan
bukanlah
sesuatu
yang
mengejutkan.
Namun,
menukar
RRC
dengan
China
mencerminkan
narasi
yang
lebih
dalam
dan
berbahaya
yang
menyerang
legitimasi
CCP
sebagai
otoritas
pemerintahan
China.
Saya
memperkirakan
hal
ini
akan
dilihat
dengan
kekhawatiran
yang
serius
oleh
Beijing
dan
dibicarakan
pada
level
tertinggi
dalam
beberapa
hari
dan
minggu
ke
depan,”
tambah
Daniels.
Juru
bicara
Kementerian
Luar
Negeri
China
Guo
Jiakun
mengungkapkan
ketidakpuasannya
akan
perubahan
pada
laman
situs
Departemen
Luar
Negeri
AS
dalam
konferensi
pers
pada
Kamis.
Tindakan
Departemen
Luar
Negeri
AS “salah
mengartikan
fakta,
menyerang
kebijakan
luar
negeri
China
dan
menjajakan
apa
yang
disebut
kompetisi
strategis
China-AS.
Kami
sangat
menyayangkan
dan
dengan
tegas
menolaknya,”
kata
Guo.[lt/rs]
Song
Ren
dari
VOA
Layanan
Mandarin
berkontribusi
pada
laporan
ini.
Beberapa
informasi
lainnya
berasal
dari
Reuters.